124 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Published on July 30, 2018

Lpmarena.com- Keberagaman akan menjadi isu yang terus berkembang dan tidak akan pernah hilang sebab Indonesia memiliki penduduk yang sangat beragam. Hal tersebut disampaikan oleh  Neneng Hanifah Maryam, fasilitator kegiatan Selamat Pagi yang diadakan oleh Yayasan Kampung Halaman.  Dalam pandangan Neneng, adanya perbedaan tidak mengharuskan sesorang atau suatu pihak untuk mengucilkan diri. Sebaliknya, justru bisa menjadi peluang untuk berkolaborasi , menghasilkan karya baru.

“Perbedaan itun nggak musti satu-satu, tapi juga bisa bareng-bareng,” ungkap Neneng saat ditemui  ARENA di sela-sela kegiatan Selamat Pagi, yang dilaksanakan kompleks Yayasan Kampung Halaman, Krapyak, Sleman, Yogyakarta pada Minggu (29/7).

Lebih jauh, pemilihan wacana keberagaman bertujuan untuk merekonstruksi atau membangun pemahaman ulang atas kata “beda” yang kerap menjadi pemicu konflik di masyarakat. Menjadi suatu bahan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Ketika gagasan tersebut diturunkan pada kegiatan Selamat Pagi, diwujudkan dengan menghadirkan kegiatan-kegiatan  yang beragam. Peserta yang berpartisipasi akan dihadapkan pada banyak hal yang bukan bidangnya.

“Atau malah bentuk yang sepertinya kok nggak bisa tapi bisa berkolaborasi atau bisa jadi kesatuan yang utuh,” tutur Neneng.

Mengusung tema Mabar, Yuk!, Selamat Pagi Volume 19 tetap konsisten menjadi salah satu wadah bagi remaja untuk mengeksplorasi dan mempublikasikan potensi-potensi yang mereka miliki. Lebih spesifik di wilayah seni musik dan seni rupa. Remaja-remaja tersebut diajak mengkolaborasikan  ide mereka menjadi seuah karya yang apik dan diterima masyarakat. Selamat Pagi sendiri sudah berlangsung sejak tahun 2015 dan dilaksanakan setiap tiga bulan sekali.

“Selamat Pagi itu semacam laboratorium seni. Jadi kalau di SMA ada ekstrakurikuler, Selamat Pagi pun merupakan ekstrakurikuler, tapi ekstrakurikuler yang langsung praktik,” terang Novan, program officer Selamat Pagi, ketika diwawancara ARENA pada Selamat Pagi volume-18 29 April lalu.

Suasana Yayasan Kampung Halaman memang sengaja di bangun intim dan cair, dengan duduk lesehan sambil mendengarkan alunan musik yang dimainkan oleh kontributor. “Siapa saja boleh main,” kata Romlah atau biasa dipanggil Ceng Romli, salah fasilitator yang lain.

Suasana Selamat Pagi yang diselenggarakan di pinggir kali. Foto: Arena/Zaim.

Bertempat di pinggir sungai di antara rimbun pohon, Ceng Romli dan anak-anak SD I Krapyak memainkan wayang kardus. Ada yang berbentuk pemain sepak bola, orang yang membawa pancing dan lain-lain. Menurut Ceng Romli, wayang mampu menjadi media bagi anak-anak untuk mengenal diri sediri. Karakter wayang mampu menjadi  representasi masing-masing anak.

“Karakter wayang-wayang tadi yang mewakili hobi mereka,” paparnya.

Payun, salah satu pengunjung mengapresiasi acara tersebut. Menurutnya  kegiatan tersebut mampu memberi inspirasi dan memberi ruang untuk remaja bereksplorasi. “Kita punya ruang disini, kita punya lahan disini untuk berbagi,” ungkap Payun.

Lokasi Yayasan Kampung Halaman berada di dalam kampung, di lembah sungai, dan jauh dari jalan raya. Jauh dari pusat kota menjadikan tempat ini sulit diakses menggunakan trasportasi umum. Namun, menurut Ceng ROmli, keadaan tersebut justru menjadi tantangan dan keunikan tersendiri bagi kegiatan ini.

Reporter: Astri & Za’im

Redaktur: Fikriyatul Islamiyati Mujahidiyah