405 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Published on August 31, 2018

Mahasiswa baru mengeluarkan tidak sedikit dana untuk membeli atribut yang dikenakan pada saat pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik (PBAK). Divisi Dana Usaha organisasi ekstra kampus menjual atribut di stand kepanitiaan PBAK.

Lpmarena.com- Hilda Alaida Qudsiah Zikri, mahasiswa baru di Ilmu Perpustakaan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, mengaku menghabiskan uang sebesar Rp200.000 untuk mempersiapkan PBAK tahun ini. Hal itu ia ungkapkan kepada ARENA saat ditemui di kosnya, Kanoman, Banguntapan, Bantul, pada Minggu (26/08).

Hilda begitu sapaan akrabnya, menghabiskan uang tersebut untuk memenuhi kelengkapan atribut-atribut PBAK yang telah ditentukan oleh panitia PBAK fakultasnya. Atribut tersebut berupa pakaian yang harus dikenakan pada saat PBAK berlangsung. Seperti kertas asturo, kaos kaki seragam, tas karung, slayer, dan cocard atau kartu identitas.

“Ya, kami disuruh sama panitia untuk bawa kertas asturo warna kuning dan merah, kaos kaki warna putih dan warna hitam, tas karung yang dihiasi, masker, pin, slayer, pita dan cocard,” ungkap Hilda sembari sesekali memainkan smartphone-nya.

Rincian harga satu atribut juga bervariasi. Kertas asturo dibeli Hilda dengan harga Rp5.000 per lembarnya. Kaos kaki per pasangnya Rp15.000, tas karung Rp15.000, cocard Rp20.000 dan buku untuk kegiatan literasi seharga Rp30.000. Tidak hanya untuk atribut-atribut yang dibelinya, Hilda juga mengeluarkan uang untuk transportasi selama menyiapkan atribut PBAK.

Kayaknya sudah nggak bisa dihitung, ya. Soalnya, uang kita terkadang habis diperjalanan bolak-balik kampus. Maklum, kita maba belum punya kendaraan dan belum tahu kondisi,” tambah mahasiswi asal febi tersebut.

Meskipun tidak mengetahui tujuan atribut-atribut tersebut, Hilda tetap membelinya meskipun harus mengeluarkan tidak sedikit uang. Sebab, Hilda merasa takut jika ia tidak memenuhi kelengkapan PBAK akan mendapat hukuman dari panitia. “Katanya kalo nggak  lengkap, bakal diperiksa. Terus, kalau tidak ada dihukum,” ungkapnya. Dia melanjutkan, “Padahal tujuannya kayaknya nggak ada. Paling nanti ujung-ujungnya nggak dipakai lagi.”

Bukan hanya Hilda yang harus merelakan tidak sedikit uangnya untuk keperluan PBAK. Di fakultas lain juga terjadi hal yang sama. Amalia De Tavarel, misalnya, mahasiswa baru dari Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (Fishum), saat dihubungi ARENA melalui WhatsApp pada Senin (27/08), juga mengaku menghabiskan uang sekitar Rp138.000 untuk kelangkapan atribut PBAK dan masa atau malam keakraban. “Itu belum termasuk uang bensin,” kata Amalia menambahkan.

Amalia yang tercatat sebagai mahasiswi baru program studi Psikologi membelanjakan uang sebanyak itu untuk memenuhi ketentuan dan atribut yang diinstruksikan oleh panitia PBAK fakultasnya. Di Fishum panitia memang menentukan atribut yang akan digunakan mahasiswa baru diantaranya adalah; tas yang terbuat dari kardus, scarf dan slayer.

“Bayar malam keakraban (Makrab) Rp50.000, scarf sama slayer Rp25.000, lem dan kardus bekas senilai Rp35.000, iuranan dengan teman Rp30.000, dan makan Rp20.000,” terang Amalia, mahasiswi asal Yogyakarta tersebut merincikan pengeluarannya kepada ARENA.

Berdasarkan riset yang dilakukan tim Pusat Data dan Analisa (Pusda) ARENA dengan 301 responden mahasiswa baru dari 14 program studi yang dilakukan secara online, tentang pengeluaran Maba untuk memenuhi atribut PBAK—termasuk membeli buku yang diinstruksikan oleh panitia masing-masing fakultas—sebanyak 33,9% Maba mengeluarkan uang sebesar Rp50.000 sampai Rp100.000; 22,6% mengeluarkan Rp100.000 – Rp150.000; Rp150.000 – 200.000 sebanyak 21,9%; dan sebanyak 21,6% memiliki pengeluaran lebih dari Rp.200.000. Riset tersebut dimulai dari Selasa (28/08) sekitar pukul 11.41 WIB sampai Rabu (29/08) pukul 10.58 WIB.

Memanfaatkan PBAK untuk Berdagang

Banyaknya atribut yang diperlukan oleh Maba, dimanfaatkan beberapa mahasiswa senior untuk berdagang. Sekadar memfasilitasi dan memudahkan para Maba mendapatkan atribut yang mereka butuhkan. Caranya, mereka menjual barang hasil produksi sendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan Maba. Baik itu atas nama pribadi, organisasi, maupun kelompok tertentu.

Seperti yang dilakukan Septiana Ayu Paramita bersama teman-temannya. Mereka membeli kain panjang, kemudian dijahit menjadi scarf dan slayer. Hasil jahitan tersebut kemudian dijual kepada Maba Fishum, dan ini disesuaikan dengan atribut yang diperlukan.

Scarf dan slayer tersubut kami jual ke Maba seharga Rp25.000, awalnya modal kami sekitar Rp500.000. Kemudian untungnya sekitar 1 sampai 1,5 jutaanlah mas,” ungkap Septi kepada ARENA saat ditemui di lantai I Fishum (28/8).

Septi menjual hasil karyanya dengan mengatasnamakan organisasinya, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Septi mengaku di organisasinya, ada divisi Dana Usaha (Danus) yang bertugas mencari dana. Ia dan teman-temannya memanfaatkan momen tersebut untuk memasarkan hasil jahitannya untuk kebutuhan dana organisasi. Selain di kampus sendiri, ia dan teman-temannya juga biasa berjualan di Sunmore, pasar mingguan di dekat kompleks Masjid Kampus UGM.

Hasil karya Septi yang berbentuk scarf dan slayer tersebut memang tidak hanya dijajakan di satu tempat. Selain di depan Poliklinik UIN Sunan Kalijaga yang memang kerap ramai oleh pedagang atribut PBAK, soal SBMPTN dan UMPTKIN, sesekali ia juga menjualnya di stand panitia pendaftaran PBAK Fishum ”Hari pertama kita menjual itu di stand panitia PBAK,” tambah Septi.

Usaha Septi pun mendapatkan sambutan baik dari beberap Maba. Hal tersebut dibuktikan dengan beberapa Maba yang membeli dan merasa terbantu oleh karya Septi.

Salah satu pembelinya adalah Amalia. Dia membeli scarf dan slayer di stand  pendaftaran PBAK. Dengan adanya stand tersebut ia tidak lagi direpotkan untuk mencari atribut PBAK. “Beli scarf dan slayer, sama kakak-kakak bagian kesekretariatan, di satnd pendaftaran PBAK. Soalnya, biar sekalian tinggal pesan, nggak ribet nyari lagi,” tulis Amalia kepada ARENA melalui WhatsAppp (27/8).

Hal sama dilakukan Anna Zakiah dari Fakultas Adab dan Ilmu Budaya. Mahasiswi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) tersebut juga memnfaatkan momen untuk mefasilitasi dan menawarkan produknya kepada Maba. Namun, produk yang dijual Anna berbeda dengan yang dijual Septi.

Karya Anna yang ditawarkan kepada Maba adalah tas karung. Sebagaimana Septi, ia berjualan atas nama Danus kepanitian lain yang dikuti Anna, yakni acara Sukarabic. Sukarabic merupakan event tahunan program studi BSA. Hasil penjualan tas tersebut dialokasikan untuk acara diluar dari PBAK. “Jadi yang jualan bukan panitia PBAK,” jelas Anna.

“Itu Danus dari kepanitiaan Sukarabic. Mereka mengambil ide untuk jualan, seperti jualan-jualan di depan Poli (Poliklinik) dan Kopma (Koperasi Mahasiswa) begitu, mas,” tutur Anna saat ditemui ARENA di Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, (28/08).

Anna yang juga sebagai Steering Committee (SC) acara Sukarabic dan sekaligus SC panitia PBAK Fakultas Adab, menceritakan bahwa ia bersama teman-teman yang lain sering menjual produknya di depan Poliklinik dengan harga berkisar 10 ribuan. “Sama dengan harga di luar kampus,” tutup Anna.

Selain Septi dan Anna, dari Fakultas lain juga melakukan hal sama. Meskipun cara mereka berbeda. Artinya sama-sama menawarkan dan menjual tetapi cara dan barang yang ditawarkan berbeda. Contohnya, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (Febi).

Di Febi terdapat beberapa mahasiswa yang sengaja membangun kerjasama dengan panitia PBAK. Kerjasama yang dimaksud menyediakan atribut keperluan Maba Febi di PBAK. Mereka khusus menyediakan untuk keperluan Maba Febi, yaitu tas jaring atau tas tali karung berwarna hitam yang disablon logo UIN Sunan Kalijaga dan tulisan “FEBI UIN SUKA” berwarna jingga. Tas tersebut menjadi salah satu seragam wajib Maba Febi selama pelaksanaan PBAK.

Tas karung berstempel FEBI UIN SUKA. Foto: akun Instagram Panitia PBAK Febi UIN Sunan Kalijaga 2018

Solekhan, Ketua II PBAK Febi membenarkan adanya kerjasama antara panitia dengan mahasiswa fakultasnya. Kerjasama untuk membuat tas seragam yang telah disebutkan di atas.

“Kami memeng menginginkan untuk tas Maba ada identitas fakultas jadi kami koordinaksikan dengan mahasiswa Febi yang lain, yang sekiranya mampu menyediakan tas sesuai keinginan kami,” tulis Solekhan kepada ARENA melalui pesan WhatsApp (28/8).

Solekhan juga mengungkapkan bahwa, tas tersebut dijual dengan harga Rp25.000—meskipun ada yang menego dan mendapatkan harga Rp20.000—dan semua Maba Febi beli di tempat yang sama. “Soalnya kalo beda orang takutnya beda konsepnya, malah belang-belang jadinya,” tambah Solekhan.

Berdasarkan data yang disampaikan oleh Ketua I PBAK Universitas Sulistyaningsih, jumlah mahasiswa baru Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora sebanyak 348 orang. Sedangkan Fakultas Ekonomi dan Bisnis sebanyak 391 orang.

Menanggapi pengeluaran Maba untuk memenuhi tuntutan atribut PBAK yang mencapai angka Rp200.000, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Waryono Abdul Ghofur memandang hal tersebut bukan sesuatu yang dipermasalahkan. Menurutnya, hal tersebut merupakan sebentuk kreativitas mahasiswa fakultas. Mereka yang berada di fakultas diberikan kebebasan untuk berkerasi sepanjang itu tidak memberatkan mahasiswa.

“Itu kan kretivitas fakultas. Jadi, misalnya Febi, saya lihat itu tasnya seragam. Toh sedangkan Febi itu (fakultas/Red) bisnis. Nah, bagian itu katanya sebagai bagian dari bagaimana mengolah feeling bisnis mereka,” kata Waryono kepada ARENA, setelah mengikuti pembukaan PBAK di Gedung Prof. Amin Abdullah, Senin siang (27/08).

“Bagi saya itu bukan pungutan biaya untuk Maba,” tutup Waryono.

Reporter: Hedi, Tsaqif, Isla

Redaktur: Syakirun Ni’am