Home T E R K I N I Realisasi Tema PBAK Tidak Maksimal

Realisasi Tema PBAK Tidak Maksimal

by lpm_arena

Published on August 28, 2018

Lpmrena.com “Membangun Karakter dan Integritas Mahasiswa Yang Religius, Intelek Dan Nasionalis” menjadi tema Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) yang diselenggarakan 27-29 Agustus 2018 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Wakil Rektor (WR) III BIdang Keuangan dan Kerjasama Waryono Abdul Ghofur tema tersebut disesuaikan dengan isu-isu kontemporer di tingkat nasional yag akan menjadi tantangan di masa depan bagi bangsa dan negara, khususnya kaum muda.

Menurutnya mahasiswa yang religius minimal dapat menjalankan nilai agama yang dipercayai dengan baik sekaligus memanfaatkan sarana yang telah di siapkan di universitas, seperti Laboratorium Agama yang mengadakan kajian-kajian keagamaan. Namun, di sisi lain tidak mengenyampingkan kecintaan mahasiswa baru terhadap nilai-nilai kebangsaan.

“Kan sekarang ada kecenderungan  seolah-seolah kalau agamanya baik, kemudian enggak mau menyanyikan Indonesia Raya, berdiri, dan hormat (pada) bendera,” ungkap Waryono saat ditemui ARENA pada Senin siang (27/08) di belakang panggung gedung Prof. M. Amin Abdullah (Multi Purpose)

Sedangkan term “Intelek” menurutnya menekankan pada pemikiran mahasiswa yang teruji, dalam artian opini yang di lemparkan mahasiswa tidak sekedar asumsi belaka. Melainkan berbasis riset.

Senada dengan Waryono, Ketua Dewan Mahasiswa (Dema) UIN Sunan Kalijaga Moh. Romli, mengungkapkan tema PBAK 2018 menekankan dua hal; pertama nilai-nilai keislaman dan kedua nilai-nilai kebangsaan. Nilai keislaman yang dibangun dalam artian tetap merangkul kebudayaan, kebinnekaan dan merangkul setiap perbedaan yang ada dinegara Indoenesia.

“Dengan nilai-nilai keislaman kami rasa mampu menyatukan negara ini, salah satunya adalah Islam yang pro terhadap budaya lokal,” ucapnya mantap.

Untuk merealisasikan gagasan itu, dibuat strategi agar nilai-nilai yang telah dirumuskan bisa tersampaiakan kepada mahasiswa baru. Menurut Ketua I PBAK Universitas Sulistyaningsih, salah satu caranya dengan mengundang pemateri yang profesional dan kompeten di bidangnya, serta dengan melibatkan profesor-profesor muda yang ada di universitas.

Romli menambahkan, tujuan dari melibatkan profesor-profesor muda dalam kegiatan PBAK tidak lain untuk mendobrak semangat mahasiswa baru agar menjadi mahasiswa yang kritis dan progresif.

Selain itu, pada PBAK tahun ini  mahasiswa baru juga akan diarahkan pada kegiatan lain yang menstimulus kepedulian sosial mereka. Seperti menyumbang buku gratis untuk masyarakat, membaca bersama, dan meresensi buku sebagai bentuk kegiatan literasi yang telah ditentukan oleh panitia.

Namun sayang, strategi apik tersebut tidak berbanding lurus dengan praktik di lapangan. Dalam hal religiusitas, Afiq Abdurrahman mahasiswa baru dari program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) menyayangkan aktivitas PBAK yang tidak memberikan waktu jeda untuk menunaikan sholat Asar. Padahal menurutnya, waktu sholat tidak lebih dua puluh menit.

Ungkapan senada juga di ungkapkan oleh Mahera Armi mahasiswi baru program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Ia menilai realisasi religiusitas seperti yang tertera di tema sangat kurang. Hal itu terjadi ketika memasuki waktu Dzuhur, peserta PBAK disuruh buru-buru. Padahal saat itu mereka sedang melaksanakan sholat.

“Ya, mungkin karena keterbatasan waktu. Tapi kan setidaknya soal beribadah, soal agama, masak suruh buru-buru,” katanya dengan raut kecewa.

Mengenai nasionalisme, Armi justru merasa bingung.menyerap nilai nasionalisme dari ekgiatan yang mana. Sebab yang dirasakannya mahasiswa baru hanya disuruh duduk dan mendengarkan. Sementara, menurut dia metode pembelajaran dalam bentuk seminar yang hanya mendengarkan ceramah narasumber yang tidak menarik tidak efektif untuk anak zaman sekarang. Mereka justru akan tidur atau bermain gadget.

Bahkan dari rangkaian kegiatan PBAK yang diikutinya pada hari pertama, Armi mengaku hanya menyerap materi dari budayawan Sastro Al Ngatawi. Padahal hari pertama PBAK menghadirkan banyak narasumber, antara lain Rektor UIN Sunan Kalijaga Yudian Wahyudi, Syaiful Bahri Anshori Komisi I DPR RI Bidang Pertahanan, Intelijen, Luar Negeri, Komunikasi dan Informatika dari fraksi PKB, budayawan dan pengurus Ikatan Keluarga Alumni UIN Sunan Kalijaga (Iasuka) Sastro Al Ngatawi, serta Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama.

Nggak fokus sama yang di depan,” tuturnya. “Belum merasakan ketersambungan antara praktik dan temanya,” lanjut dia.

Repoerter: Roziqien

Redaktur: Syakirun Ni’am