72 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Published on September 21, 2018

Lpmarena.com- Aksi diam kamisan kembali digelar menanggapi kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap anak perempuan berusia 10 tahun di Kali Winongo, 30 September lalu. Aksi yang digelar Kamis malam (18/10) di Tugu Yogyakarta ini bertujuan mengingatkan kepada pemerintah dan masyarakat bahwa anak-anak saat ini sedang berada dalam bahaya.

Ari selaku koordinator aksi memaparkan bahwa tindakan bullying, kasus klitih dan begal yang sering dilakukan oleh anak muda, dan sistem pendidikan turut menyebabkan anak-anak berada dalam kondisi tidak aman. Bahkan Polda DIY mencatat terdapat 79 geng pelajar di DIY. “Sekarang, kan, memakai full day, bisa-bisanya anak-anak sekolah yang terdidik, saat di luar (sekolah-red) berperilaku brutal,” paparnya kepada ARENA di sela-sela aksi.

Berdasarkan data Lembaga Perlindungan Anak DIY, pada tahun 2014-2015 tercatat 398 anak mengalami tindakan kekerasan. Diantaranya kekerasan seksual dengan jumlah korban 95 anak, penggelapan/pencurian/penculikan dengan korban 116 anak, kekerasan fisik 79 anak, kekerasan psikis 33 anak, pengasuhan 27 anak, pembunuhan 16 anak, penelantaran 12 anak, narkoba 2 anak dan pengrusakan 18 anak.

Ari juga mengatakan bahwa kejadian seperti ini sudah berulang kali terjadi di Yogyakarta. Padahal Yogyakarta adalah menyandang gelar “istimewa” dan hal ini menandakan bahwa Jogja sedang tidak baik-baik saja.

Divisi Sipil dan Politik Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Yogyakarta, Meila Nurul Fajriah dalam kumparan.com menyebutkan jumlah kekerasan terhadap perempuan dan anak mengalami kenaikan signifikan di tahun 2013-2018. Bahkan Komnas Perempuan telah memosisikan DIY di urutan ke-4 sebagai provinsi dengan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Perlu Perhatian Pemerintah

Tema yang diangkat dalam aksi kamisan tidak pernah jauh dari persoalan HAM. Tidak lain untuk mengingatkan kembali kepada pemerintah bahwa masih banyak persoalan yang belum tertuntaskan.

“Aksi ini diharapkan dapat menyadarkan pemerintah bahwa kasus kekerasan, pemerkosaan, dan pelecehan terhadap anak membutuhkan penanganan serius, mengingat bahwa anak-anak merupakan generasi penerus bangsa” ujar Melki seorang volunteer SMI  saat ditemui oleh ARENA.

Aksi kamisan yang digelar Social Movement Institue (SMI) ini sudah dilaksanakan sejak lima tahun silam di Yogyakarta dan juga digelar di Jakarta sejak 11 tahun lalu.

Aksi ini dimulai pukul 16.00 sampai 17.30 WIB dan diikuti oleh kurang lebih 20 orang  dari SMI, Amnesty International, Kontras, dan sejumlah mahasiswa UGM,UII dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Seluruh peserta dalam aksi ini menggunakan pakaian serba hitam, berpayung hitam, dan diam sepanjang acara sembari memegang spanduk.

Reporter: Astri (Magang)

Redaktur: Fikriyatul Islami M