110 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Published on November 12, 2018

Lpmarena.com- Saat ini, dunia tengah berada di Era Disrupsi 4.0 yang menciptakan pasar baru dan siap bertarung dalam percaturan global. Termasuk di dunia perpustakaan yang mulai menghadapi pesatnya perkembangan informasi.

Taufik Asmiyanto mengutip kalimat Rhenald Kasali, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang mengatakan profesi pustakawan akan lenyap. Pendapat itu ditampik oleh Taufik Asmiyanto. “Pustakawan tidak akan mati, tetapi hanya bermetamorfosis saja,” ujar Dosen Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia tersebut, Kamis pagi (8/11).

Hal tersebut dibahas dalam diskusi bertajuk Menakar Ulang Muruah Pustakawan: Retropeksi dan Reposisi di Era Disrupsi di Ruang Seminar Perpustakaan Universitas Gadjah Mada. Taufik juga menegaskan, di era informasi ini pustakawan dan disiplin ilmunya justru akan mempunyai peran besar.

Ilmu perpustakaan adalah ilmu informasi. Taufik mengatakan, untuk menjadi pustakawan yang unnggul, jangan sekadar menguasai disiplin ilmu perpustakaan saja, tetapi juga menguasai teknologi informasi dan komunikasi. “Ibarat dua sisi mata uang, ilmu perpustakaan tidak bisa lepas dari teknologi informasi dan komunikasi,” imbuhnya.

Hal itu senada dalam jurnal berjudul Disruptif Diri Pustakawan dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0 anggitan Endang Fatmawati, perpustakaan harus menjadi menara ilmu yang mengupayakan sumber informasi perpustakaan dapat dipancarkan seluas-luasnya.

Perpustakaan harus siap menghadapi industri 0.4 yang luar biasa tantangannya. Agar mampu bertahan, maka seharusnya tidak bekerja sendiri-sendiri namun berkolaborasi dan mampu melahirkan inovasi baru untuk mengndalikan dampak bru akibat disrupsi.

Sementara itu, Aditya Nugraha turut menambahkan, trend teknologi informasi dan komunikasi banyak mengambl alih peran pustakawan. Hal itu diteliti langsung oleh rekannya dari Maladewa yang menyimpulkan bahwa untuk mendapatkan informasi, yang dituju mahasiswa ialah Google.  “Pustakawan harus mengakui bahwa dengan google, mereka sudah kalah pamor,” tuturnya.

Pustakawan Universitas Kristen Petra tersebut juga menyayangkan jika revolusi industri 4.0 dapat menggantikan profesi pustakawan beberapa tahun mendatang.  Hal tersebut, katanya, mengharuskan pustakawan meredifinisi peran dan fungsi mereka. Bahkan, di perguruan tinggi sekarang, tidak hanya menyediakan koleksi buku, tetapi lebih ke e-learning commons atau konsep untuk memanfaatkan ruang di perpustakaan sebagai tempat belajar dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang mendukung kemajuan teknologi.

Hal tersebut dapat memantik mahasiswa, dosen, dan karyawan yang nantinya menghasilkan karya. “Saya yakin ini bisa jadi link dengan pusat inovasi dan kewirausahaan,” ujar Aditya.

Di sisi lain, Muhidin M Dahlan membantah narasumber sebelumnya, ia mengartikan yang dimaksud “Era Disrupsi” adalah sesuatu yang tercabut dari akarnya. Ia membahasakan, akar dari kata “pustakawan” adalah “pustaka”. Di era disrupsi, jika “pustaka” hilang, tinggal “wan”, saat si sosok “wan” lebih penting dari pustaka, itulah era disrupsi.

Muhidin juga berpendapat, pustakawan ialah orang buku yang memiliki konsekuensi sebagai orang pertama yang paling tahu tentang buku. Pustakawan selalu berada dalam pusaran besar “peristiwa buku”.

Supaya lebih mudah dalam pengorganisasian, mereka membutuhkan alat bernama teknologi pengelolaan informasi. “IT itu adalah alat. Tak ada alat itu, ya, enggak apa-apa. Umur buku lebih tua dari IT dan segala kecakapannya,” tegas arsiparis warungarsip.co tersebut.

Klasifikasi Pustakawan

Lebih lanjut, Muhidin membagi dua macam pustakawan, yakni pustakawan pasif dan pustakawan aktif. Menurutnya, pustakawan pasif adalah sosok yang tinggal di sebuah ruang dan terus-menerus melakukan pembicaraan bersama suara-suara ide yang riuh dalam perpustakaan.

Sedangkan pustakawan aktif lebih banyak menghabiskan praktik mencintai buku secara sungguh-sungguh di lapangan. Keduanya sama-sama penting dengan posisi serta porsi tugasnya masing-masing. “Keduanya dipertemukan satu hal: radikal dalam melihat dan menempatkan buku,” papar penulis Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur tersebut.

Keadaan sunyi, menurutnya, senapas dengan kerja pustakawan. Dalam sunyi yyang bekerja, pustakawan justru merancang riset, menimbang buku, dan memimpin musyawarah seputar dunia perbukuan. “Hanya pustakawan yang tak punya ide mati dalam kesunyian,” pungkasnya.

 

Reporter: Elya Tri Junianti (magang)

Redaktur: Syakirun Ni’am

Foto: Instagram Perpustakaan UGM