119 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com-Beberapa faktor yang melahirkan para kapitalis di sektor pertanian masih berlangsung hingga saat ini.Hal tersebut disampaikan Muhtar Habibi dalam diskusi berjudul Perkembangan Kapitalisme dan Pertanyaan Agraria di Indonesia.

Faktor pertama ialah berkembangnya kekuatan-kekuatan produksi pada bidang pertanian sehingga usaha ekonomi meningkat berkat produktivitas yang luarbiasa.

“Artinya usaha ekonomi dari pertanian itu mengalami produktivitas yang luar biasa,”papar Muhtar Habibi Jumat (19/07) di Toko Buku Gerak Budaya Yogyakarta.

Kedua, penggunaan tenaga mesin dan sarana teknik lain yang menggantikan tenaga manusia maupun hewan. Sehingga dapat mendorong produktivitas untuk berkembang lebih pesat.

Ketiga, terjalinnya relasi kerja yang mengutamakan sewa tetap antara pemilik lahan dengan penyewa lahan. Sehingga keuntungan yang didapatkan oleh penyewa lahan akan jauh lebih besar.

“Kalau dia (penyewa lahan) bisa menghasilkan lebih besar dari tanah yang digarap otomatis keuntungannya bisa jadi lebih tinggi,” terang Habibi.

Habibi juga menjelaskan jika kaum kapitalis petani justru lahir dari para petani penyewa. Mereka menyewa tanah bangsawan yang tidak mau lagi menggarap tanahnya sendiri. Dari hasil penyewaan tanah itu mereka mendapat keuntungan luar biasa dan mampu membeli tanah untuk kepentingan sendiri.

Disamping itu tidak dapat dipungkiri bahwa pertanian mengalami perubahan yang progresif. Terlihat pada meningkatnya kapasitas produktif dari usaha pertanian berkat berkembangnya produksi, mekanisasi, dan relasi kerja yang dilakukan.

Namun hal ini mengakibatkan diferensiasi kelas yang berdampak pada nasib buruh tani yang tidak mampu bersaing. Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan sampai pada tidak adanya modal menjadikan buruh petani mesti menjual tenaganya dan bekerja pada industri kaplitalis.

“Hilangnya petani, ya, karena diferensiasi kelas yang membuat mereka yang tidak dapat bersaing, lari sendiri untuk menjual tenaganya sebagai buruh tani,” terang mahasiswa Doktoral School of Oriental and African Studies (SOAS) London tersebut.

Reporter: Sekar Jatiningrum

Redaktur: Fikriyatul Islami