252 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Published on December 13, 2018

“Jika kapitalisme dipaksa menginternalisasi semua biaya sosial dan lingkungan yang ditimbulkannya, dia akan gulung tikar. Sesederhana itu kenyataanya,” tulis David Harvey. (hlm.112)

Beberapa waktu lalu Menteri dalam Negeri, Tjahjo Kumulo mengimbau internal Kemendagri untuk mengurangi penggunaan plastik. Menurutnya, sampah plastik sudah mengkhawatirkan lingkungan. Mirip argumen kawan saya saat diskusi Etika Lingkungan beberapa waktu lalu, kira-kira ia bilang begini “Kalo belanja di supermarket bawa kantong sendiri, kurang-kurangin sampah plastik.”

Apa yang diimbau oleh keduanya terkesan peduli lingkungan tetapi, sesungguhnya masih dangkal (Shallow Ecology). Cara pandang mereka masih berkutat pada hilir, bahwa penggunalah yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Keduanya abai terhadap hulu plastik itu berasal. Begitupun dengan paradigma antroposentrisme, yang dikritik Sonny Keraf dalam bukunya Filsafat Lingkungan Hidup bahwa manusia sebagai pusat di bumi mengakibatkan dominasi serta eksploitasi manusia atas alam.

Paradigma antorposentrisme perlu diganti dengan ekosentrisme. Kira-kira begitu dalam bukunya Keraf. Ia punya tesis bahwa ada yang keliru dari cara pandang manusia terhadap alam, maka solusinya adalah revolusi cara pandang atau paradigma. Sebab cara pandang menentukan prilaku. Ekosentrisme bukan saja peduli terhadap manusia dan masa depannya, tetapi semata-mata juga peduli terhadap seluruhnya—bahkan yang abiotik sekalipun.

Dalam buku Lingkungan Hidup dan Kapitalisme, Fredd Magdoff dan Jhon Bellamy Foster menegaskan, penyebabnya ialah tata kerja sistem ekonomi kita (hlm. 29). Bukan saja dari para konsumen, atau cara pandang antroposentris tapi juga kapitalisme sebagai tata sistem ekonomi yang dimaksud. Keduanya mengingatkan bahwa kapitalisme memliki berbagai imperatif seperti pengejaran laba dan akumulasi tanpa akhir. Imperatif itulah yang menjadi penggerak dan motivasi utama kapitalisme. Persaingan pun membuat produksi meningkat dan pangsa pasar diperlebar. Penghancuran ekologispun akhirnya tercipta dan terus memperbesar.

Kapitalisme akan selalu menciptakan keuntungan dan akumulasi yang tak terhingga. Kapitalisme tak pernah mengenal batas terhadap ekspansi dirinya sendiri. Seperti yang Epicurus katakan, “bahwa tak ada kata cukup bagi mereka yang merasa cukup itu terlalu sedikit.” Tak ada kata cukup bagi para kapital. Mereka akan dan selalu mencari sumber daya yang bernilai di alam untuk dieksploitasi, untuk menciptakan laba.

Persaingan membuat para kapitalis berlomba untuk menguasai-memonopoli beragam kebutuhan kita. Dalam buku ini, kita diajak merenungi cara-cara kerja kapitalisme yang sampai saat ini masih menguasai dan menjadikan kebutuhan-kebutuhan dasar kita sebagai komoditas. Air, tanah, udara, dan kebutuhan dasar lainnya harus kita akui kini sudah berlabel harga.

Seperti halnya game Feeding Frenzy kapitalisme akan melahap habis hal-hal yang bernilai baginya—dalam konteks ini kekayaan alam yang diukur dengan nilai fiksi-uang. Dampaknya ialah globalisasi kapital. Kekhawatiran kelangkaan pangan, bahan bakar dsj. memaksa perusahaan-perusahaan multinasional menjelajahi dunia demi mencukupi kebutuhan dan akumulasi keuntungan negaranya. Mereka mencari sumber daya, mengeksploitasi buruh, memanfaatkan longgarnya aturan lingkungan hidup, dan mengandalkan manfaat keringanan pajak di negara miskin.

Seperti yang dicontohkan penulis, Amerika Serikat selama berabad- abad menjarah dan mengekspansi berbagai negara. Dalam banyak kasus, untuk merebut dominasi, perang menjadi pilihan. AS misalnya yang memimpin perang terhadap Irak dan Afghanistan mengikuti pola sejarah umum bagaimana kuasa kolonial dan imperial mendesakkan pengaruh mereka, dan jelas terkait dengan usaha AS untuk mengontrol sumber utama minyak dan gas dunia, serta sekaligus menunjukan kepada dunia kekuatan militer AS dan kesudiannya untuk menggunakannya (hlm.72)

Semua konflik ini awalnya hanya bersumber dari kebutuhan, lalu mereka memperebutkannya demi keuntungan pribadi, dan kini berubah menjadi persoalan geopolitik. Jika tak ada perubahan-perubahan, kelak kita akan menyaksikan perselisihan negara-negara kaya untuk berebut sumber daya dengan cara yang kasar. Mungkin saat ini kita sedang menyaksikan perang dagang antara Cina dan AS. Mungkin yang terjadi ke depan perang militer, bahkan adu nuklir sekalipun.Dampaknya bukan hanya terhadap manusia, tetapi juga alam, hewan–kehidupan seluruhnya.

Meskipun isu lingkungan ikut mewarnai dalam proses branding produk mereka, kenyataannya bagi Magdoff dan Foster mereka hanyalah berlagak moralis. Mereka memanfaatkan isu lingkungan untuk menaikkan citra di mata konsumen (greenwashing). “Kapitalisme hijau” ini justru memperparah keadaan, ia menaikkan tren konsumtif. Lewatnya mereka mencoba melempar tanggung jawab kerusakan lingkungan kepada masyarakat yang mengkonsumsinya, bukan kepada diri mereka sendiri yang tak mau menekan produksi demi akumulasi laba dengan eksploitasi alam habis-habisan. Keuntungan lebih nyata dibandingkan lingkungan hidup. Kapitalisme lah yang perlu diselamatkan dalam konteks krisis lingkungan, bukan lingkungan hidup itu sendiri.

William Stanley Jevons dalam bukunya The Coal Questions, menunjukan bahwa setiap mesin uap baru pasti lebih efisien dalam pemakaian batubara dibandingkan mesin sebelumnya, tetapi dipakainya mesin yang lebih efisien itu justru membuat konsumsi batubara naik karena ekspansi produksi (hlm. 129). Pernyataan ini dikenal sebagai “Paradoks Jevons”. Kini, bukan mesin uap tapi botol plasik yang lebih mudah didaur ulang misalnya, alih-alih mereka menekan modus produksi, justru sebaliknya—para kapitalis akan meningkatkan produksi air botol kemasan tersebut sebab mudah didaur ulang. Akibatnya, konsumen sebagai korban greenwashing akan jauh lebih tenang mengkonsumsinya. Hal ini kesempatan besar bagi para kapitalis untuk mengakumulasikan laba.

Dampak dari hasil modus produksi dan distribusi pun tak pelak akan mengancam. Menanggulangi itu, Fred Magdoff dan Jhon Bellamy foster menulis 22 langkah jangka pendek untuk mengatasi kerusakan lingkungan hidup. Mulai dari membatalkan privatisasi air bersih di seluruh dunia; menyetop pembangkit listrik batubara; menghapus kesenjangan ekstrem antara desa-kota—melalui reforma agrarian dsj. Sebuah langkah yang menurut mereka perlu diperhatikan oleh aktivis lingkungan.

Sedangkan untuk jangka panjangnya, mengganti kapitalisme sebagai sistem ekonomi saat ini dengan tatanan ekonomi dan masyarakat baru yang lebih sosialis menjadi solusi. Yakni dengan menciptakan kesetaraan yang substansif, memenuhi kebutuhan rakyat sekarang dan generasi yang akan datang serta tidak adanya privatisasi sumber daya sehingga masyarakat aktif terlibat satu sama lain demi kehidupan yang berkelanjutan. Sebagaimana disarankan oleh Albert Einsten lewat essaynya Why Socialism?

Membayangkan solusi jangka panjang ini tentu banyak yang mengira utopis. Namun, lewat buku ini kedua penulis menyajikan contoh bagaimana masyarakat dan ekonomi yang baru ini dapat hadir, di antaranya: di Bolivia, Venezuela, dan Kuba. Seakan-akan kita dimotivasi untuk melakukan perubahan di negeri kita saat ini. Meski secara data dan isi terlalu Amerikasentris, buku ini tetap merangsang kita untuk peduli lingkungan. Bukan hanya sebatas mengganti cara berpikir seperti Keraf sarankan, lebih radikal Magdoff dan Foster menyarankan mengganti sistem ekonomi. Buku yang menyadarkan kita bahwa manusia menindas manusia lain akibatnya manusia menindas alam. Bukan saja rusaknya kemanusiaan, tetapi juga alam—kehidupan kita seluruhnya. Buku yang wajib dibaca untuk siapapun yang tak dibutakan—mata dan hatinya.

 

Judul Buku: Lingkungan Hidup dan Kapitalisme: Sebuah Pengantar | Penulis: Fred Magdoff dan John Bellamy Foster | Penerjemah: Pius Ginting | Penerbit: Marjin Kiri | Tebal: x+188 halaman | Peresensi: Bagus NA