86 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Published on February 21, 2019

Lpmaarena.com– Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer mengisahkan pergeseran bentuk perlawanan fisik menjadi perlawanan gagasan terhadap koloniasme di Nusantara. Hal tersebut dijelaskan oleh Hairus Salim, pegiat literasi sekaligus Direktur Lembaga Kajian Islam (LKIs) dalam diskusi publik “Tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer”.

Diadakan oleh Himpunan Mahaiswa Islam (HMI) MPO UIN Sunan Kalijaga, Kamis (14/02) di teatrikal Faklultas Dakwah dan Komunikasi Islam, diskusi ini juga menghadirkan Muhidin M Dahlan, pemilik Warung Arsip dan penulis buku Ideologi Saya Adalah Pramis.

“Karena dengan mengambil pengetahuan itulah anda bisa melawan,” kata Salim

Menurutnya, hampir semua pola perlawanan yang dilakukan oleh Minke—karakter yang Pram ciptakan dalam novelnya—menggunakan ilmu pengetahuan. Hal itu terjadi setelah perang Aceh berakhir.

Minke sendiri berarti monyet. Menurut Salim, Pram tengah mengejek karena menggunakan nama yang hina dan kontradiktif dengan sosoknya untuk melakukan perlawanan. “Anda ngomong dengan seorang monyet, tapi monyetnya pintar banget, lebih pintar dari pada Anda, monyetnya berani melawan lagi,” jelas Salim.

Selain Minke, Pram juga menghadirkan sosok Nyai Ontosoroh, seorang perempuan yang dipaksa kawin dengan pejabat kolonial. Ia belajar membaca, berhitung, dan menangani perusaahaan suaminya yang hampir bangkrut sampai bisa diselamatkan. Sedangkan Darsam, kusir kereta kuda di rumahnya, belajar membaca agar tidak tertipu oleh Belanda.“Jadi, Pram menggunakan perlawanan halus karena kuatnya hegemoni,” kata Salim.

Perlawanan lain Pram wujudkan pada sosok Minke yang berpakaian, bersekolah, dan berbahasa Eropa. Hal ini disebut mimikri, yakni tindakan menirukan sesuatu untuk melindungi diri dari bahaya.

Memilih Bidang Jurnalistik

Sementara, Muhidin melihat apa yang menjadi modal Minke dalam mendirikan organisasi pergerakan besar. Ia mengorbankan studi kedokterannya di Stovia dan memilih menekuni bidang jurnalistik. Sebab, dengan menjadi jurnalis, suara dan pikirannya mudah tersampaikan kepada orang lain.

Kedua, Minke menggandeng para priyai yang tidak terikat dalam pemerintah kolonial untuk mendirikan organisasi pergerakan. “Dua kekuatan inilah yang mampu membuat organisasinya bertahan hingga satu dekade dan tersebar di luar pulau Jawa” ungkap penulis yang akrab dipanggil Gus Muh.

Selain itu, jurnalis harus memiliki organisasi karena tanpa berorganisasi ia mudah dikalahkan. Bagi Minke, jurnalistik harus satu paket dengan pergerakan. Dan untuk bergerak, ia harus memiliki koran atau media massa. “Karena itu, tidak ada satu pun perserikatan atau organisasi yang tidak punya koran. Muhamadiyah punya, bahkan NU juga punya.”

Minke juga mewakafkan waktu dan hidupnya untuk dunia jurnalistik. Ia menjadi pimpinan redaksi diberi nama Pemberita Ketahui. Media ini memiliki dua cerobong. Pertama, Suhu Keadilan yang menyoroti masalah hukum. Kedua, Medan Prijaji. Terbitan ini fokus mengangkat isu-isu politik. “Menurut Minke, seorang jurnalis harus paham hukum dari awal. Jadi jurnalis itu tidak boleh tidak peduli terhadap persoalan hukum,” jelas Gus Muh.

Reporter: Wahidul Alim

Redaktur: Syakirun Ni’am