95 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Published on December 16, 2018

Oleh: Abdul Qoni’ Akmaludin*

Pemilihan wakil mahasiswa atau biasa dikenal pemilwa sudah tiba. Masa kampanye tinggal menghitung hari sebelum waktu pemilihan diselengarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Masing-masing kandidat yang ada di jurusan, fakultas, maupun universitas telah berkontestasi mengunakan argumentasinya untuk menarik perhatian mahasiswa yang memiliki hak suara. Tentunya, hal tersebut dilakukan untuk mengarahkan mahasiswa untuk memilih masing-masing calon.

Terlihat hal tersebut berjalan rapi dan tertib. Bisa dikatakan prosesnya ini lebih rapi dari pemilwa sebelum-sebelumnya. Walau masih beberapa hal yang sempat tidak diperhatikan. Seperti buka pendaftaran KPU dan pelayanan KPU meski agak tersendat. Saya kira hal tersebut sangat wajar. Mungkin petugas yang menjaga kantor pendaftaran sedang sibuk kuliah atau mengerjakan tugas akhir, sehingga beberapa calon KPU harus berjejer baris di depan kantor. Sesekali mereka juga menonton tv karena menunggu petugas pelayanan KPU lama dan bahkan sesekali harus pulang karena kantor ditunggu hingga jam 21.00 tak kunjung buka.

Selain sistemnya yang mulai rapi. Pemilwa tahun ini juga diikuti oleh beberapa partai. Berdasarkan data yang saya peroleh, pemilwa tahun ini diikuti oleh empat partai dan beberapa independent. Beberapa partai terbentuk dari hasil kualisi mahasiswa, dan beberapa yang tanpa koalisi. Hal tersebut bukanlah persoalan. Tercatat 77 calon dari Partai Rakyat Merdeka (PRM), 6 calon dari Partai Kita Bersama(PERKIBA), 6 calon dari Partai Kedaulatan Rakyat (PKR), 4 calon dari PPM, dan 8 calon independent. Dari data tersebut Partai Dominan masih dikuasai oleh PRM. Setidaknya lebih dari separo pemerintahan mahasiswa UIN diduduki satu partai.

Jargon-jargon demokrasi, digembar-gemborkan disetiap sudut ruang kampanye oleh masing-masing calon. Entah makna demokrasi yang seperti apa yang dimaksudkan. Khusnudzon saya, semoga tidak seperti sebelum-sebelumnya. Struktur keorganisasiannya lengkap namun program yang dijalankan tak pernah dirasakan oleh mahasiswa secara umum.

Hadirnya lawan politik saya harap juga memiju nalar politis untuk bekerja secara sungguh-sungguh. Agar menang tidak hanya menjadi arogansi belaka, dan kekuasaan hanya menjadi symbol eksistensi. Supaya proses pemilwa yang diselengarakan menghabiskan banyak dana tidak terbuang secara percuma alias sia-sia.

Saya berharap sebagai mahasiswa biasa kepada siapapun yang terpilih nantinya tidak buta akan problematika yang ada di mahasiswa dan tidak hanya mengincar besaran dana program belaka. Kualitas sebagai manusia yang berintegritas saya kira perlu ditunjukkan dan dikontestasikan.

Para calon birokrasi yang budiman. Tidak ingin rasanya kembali mendengar  cacian terlontar dari mulut-mulut mahasiswa kepada kalian yang agung. Hanya karena kalian tak pernah jelas membuat program kerja ataupun program kerja yang masih kalian sembunyikan. Mahasiswa bukanlah segolongan kelompok, namun terdiri dari berbagai kelompokm, sehingga  kami juga ingin tahu apa yang dikerjakan kalian. Andai saja kalian masih mengaku wakil mahasiswa perlu kiranya kami sebagai mahasiswa tahu sejauh mana program kalian berjalan.

Penting kiranya, hal tersebut untuk diperhatikan. Mahasiswa bukan lagi seorang siswa sd yang pada setiap apa yang dilakukan harus diarahkan. Walaupun maksud dan tujuannya belum dapat dimengerti. Mahasiswa, kumpulan orang yang mempunyai nalar dan berusaha mengunakan nalarnya dengan bijaksana. Sehingga setiap apa yang dilakukan selalu memikirkan dampak dan konsekuensinya. Minimalnya mereka masih punya etika (sopan, santun), unggah-ungguh kalau istilah jogjanya. Kecuali memang kelompok orang yang sudah dibutakan nalarnya. Sehingga tidak lagi mengerti etika dalam proses berhubungan dengan yang lainnya.

Calon wakil mahasiswa yang budiman. Semoga kalian termasuk manusia yang mempunyai nalar sehat, hingga mengerti etika dan batasan-batasan norma yang ada. Bukan hanya seseorang yang mempunyai jiwa rakus,dan haus akan kekuasaan, hingga rela melakukan apapun untuk mendapatkan kekuasaan tersebut. Pemilwa adalah proses berjalannya demokratisasi kampus yang mana mengedapankan akal sehat dan nalar jernih. Bukan wujud ekpresi politik kotor yang tanpa memperhatikan etika dan mengunakan nalar secar maksimal.

Timpang rasanya jika kita menolak oligarki tapi masih menerapkan system yang sama. Menolak politik kotor (tidak sehat) tapi masih menjalankan cara-caranya. Masih bernalar kekuasaan tanpa memiliki nalar professional. Negeri ini bukan tempatnya uji coba kebathilan, sehingga dengan seenaknya menjegal lawan yang tak sepaham.

Semoga kedepan memang sudah berubah, bukan hanya wajahnya saja yang berganti. Tapim system dan nalar yang ada harus segera direvolusi.

 

*Penulis adalah mahasiswa yang tidak pernah tenang melihat oligarki kekuasaan.