149 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Published on February 12, 2019

”Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku lihatlah manusia yang Kau utus untuk menjadi khalifah di bumi mereka membuat kerusakan, mereka menumpahkan darah, mereka bahkan menyekutukan-Mu!”

Lpmarena.com- Kalimat di atas adalah kutipan dialog pementasan Teater Aswad jilid kedua berjudul “Harut and Marut: The Fallen Angels of Babil” yang bercerita mengenai protes para malaikat melihat segala kefasikan manusia di bumi.

Bertempat di Gelanggan UIN Sunan Kalijaga, Sabtu (09/02) teater ini berkisah tentang Harut, Marut dan Uzrayil. Tiga orang malaikat yang diutus Tuhan menjalankan misi layaknya manusia Bumi.

Ketiganya diturunkan di sebuah negara di Timur Tengah, Babilonia dan diberi sifat-sifat layaknya manusia, memiliki keinginan dan hawa nafsu. Mereka diuji untuk membuktikan benarkah malaikat yang tidak pernah bermaksiat lebih baik ketimbang manusia. Di bumi, mereka menjelma menjadi 3 pemuda berparas tampan.

Teater dilanjutkan dengan adegan pemilihan hakim kerajaan Babilonia. Dimana tolok ukur lolosnya calon adalah ketampanan fisik. Dari 150 kandidat, terpilihlah tiga malaikat yang telah diutus: Harut, Marut, dan Uzrayil. Mereka lalu dipanggil ke istana dan menjadi hakim kerajaan.

Takut tidak bisa menyelesaikan misi dari Tuhan, Uzrayil memilih  kembali ke langit lalu meminta permohonan ampun kepada Tuhan. Tinggalah Harut dan Marut yang menjadi hakim Kerajaan Babilonia.

Ketika bertemu Ratu Ellat (Ratu Babilonia), Harut dan Marut terpesona dan mulai tumbuh hawa nafsu dalam diri mereka.  Dari sinilah, konflik tentang kisah para malaikat yang sebelumnya berjanji tidak akan pernah menyekutukan dan akan selalu memuja Tuhan, dimulai.

Selanjutnya mereka terjerumus dalam godaan-godaan duniawi. Bahkan di penghujung cerita keduanya menumpahkan darah seorang manusia. Mereka melupakan hakikatnya sebagai malaikat dan mendapat hukuman.

Manusia sebagai Khalifah di Bumi

Fendi Utomo, pemeran tokoh Harut memaparkan bahwa teater ini menyampaikan pesan bagaimana seharusnya perilaku manusia sebagai khalifah di bumi.

“Mengajak sesama manusia untuk tidak berbuat pada kerusakan karena kita yang awalnya baik dan akhirnya baik, kita berharapnya khusnul khotimah. Sehingga kalau kita menjalankan sesuatu harus berhati-hati dan jangan sampai terjerumus seperti malaikat Harut dan Marut,” ujarnya saat ditemui ARENA seusai pementasan (09/02).

Wejangan mengenai penundukan hawa nafsu yang disuguhkan dalam pementasan dinilai oleh sang sutradara telah berhasil menghibur penonton. Teater Aswad telah membuka mata penonton tentang segala bentuk kerusakan di bumi.

“Cukup sebanding dengan latihan yang memakan waktu selama 3,5 bulan dengan berbagai kendala,” ujar Rois Nur Bayin, sutradara teater kepada ARENA (09/02).

Reporter: Dina dan Sekar (Magang)

Redaktur: Fikriyatul Islami M