91 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Published on February 10, 2019

Lpmarena.com- Pementasan Teater Aswad yang digelar Jum’at malam (08/02) di Gelanggang UIN Sunan Kalijaga mengusung tema Tragedi Perang Salib 1. Menampilkan pembantaian umat Kristen Eropa yang dilakukan kepada umat Muslim di Yarussalem, teater ini ingin menyampaikan bagaimana umat Islam perlu bersatu membantu sesama.

“Membantu yang membutuhkan dan juga peka terhadap sesama,” ujar Danang Nur Arivin selaku aktor utama saat ditemui seusai pementasan (08/02).

Danang Nur Arivin yang berperan sebagai Hakim pun memaparkan bahwa naskah dari Yarussalem tersebut menggambarkan sejarah perang salib. Dimana saat itu seluruh rakyat mengalami penderitaan karena peperangan yang terjadi dengan bangsa Eropa.

Chariri Shofah, sutradara teater mencoba membawa penonton ke suasana masyarakat pasca Perang Salib 1 di Yarussalem. Pementasan ini secara garis besar mengisahkan respon Umat Muslim Yarussalem terhadap penyerbuan orang Eropa dan mencari pertolongan kepada Hakim Agung Damaskus, Al-Harawy dan Khalifah Al-Mustadhirbillah Dinasti Abbasiyah di Baghdad.

Chariri menambahkan, kurangnya naskah dari timur sebagai asupan bacaan umum di Indonesia menjadi latar belakang Teater Aswad mengambil tema tersebut. Bahkan selama penggarapan teater, kelompoknya kesulitan menemukan referensi.

“Sulit menemukan referensi berbahasa Indonesia, baru ditemukan dimuat dalam buku Amin Maalouf, tirto.id, dari youtube, lalu diadaptasi,” ungkapnya kepada ARENA (08/02).

Sebuah Usaha Mendirikan Klub Drama

Acara tersebut merupakan awal dari usaha dosen pengampu mata kuliah Teater Turki, Aning Agu Kusumawati untuk membuat pementasan. “Sempat terdapat isu bahwa ke depannya untuk angkatan 2017 mata kuliah Drama Turki akan ditiadakan serta di Fakultas Adab akan didirikan sebuah lab drama,” papar Chariri Shofa.

Teater Aswad merupakan teater yang digeluti oleh mahasiswa angkatan 2016 Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga. Selain demi memenuhi tugas akhir untuk mata kuliah teater Turki, pementasan yang mengadaptasi karya Syarif As-Syubasi tersebut sekaligus memberikan ruang apresiasi terhadap karya-karya sastra Arab.

Kaji Paong, salah satu penonton yang diwawancarai oleh ARENA selepas acara mengaku tidak puas karena beberapa kekurangan teknis. Seperti saat pemutaran musik ketika ada pergantian pemain dan pergantian adegan. Percakapan ada suara yang tidak terdengar dan masih ada salah pengucapan.

“Tapi aku memaklumi sih, soalnya aku tau ini pemula bagi mereka. Tapi kalau dari segi penampilan sudah 90%, dibilang bagus karena ini awal dari mereka ada kegiatan teater seperti ini dari jurusan,” ujarnya (08/02).

Reporter: Sholehatul Inayah

Redaktur: Fikriyatul Islami M