147 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Published on April 14, 2019

Oleh: Hedi*

Film documenter berjudul Sexy Killers yang diporoduksi Wachdoc memberi percerahan kepadaku untuk tidak memilih para oligarkh.

Sebelum menonton Sexy Killers, aku adalah cebong, pendukung fanatik Capres-Cawapres nomor satu. Aku sangat mengagumi segala apa yang ada pada mereka. Sampai-sampai, timeline media sosialku dipenuhi oleh video-video pendek tantang Jokowi dan pasangannya, Ma’ruf Amin.

Setiap bangun pagi aku selalu menyempatkan diri melihat dan memberi like ke postingan-postingan di media sosialnya. Serta tidak pernah absen membaca artikel-artikel yang memuat prestasi-prestasi yang selama ini dibanggakannya.

Karena hal di atas kulakukan hampir setiap hari, maka masuklah aku sebagai ceebong, nama kelompok yang disematkan kepada pendukung dan pengagum Jokowi. Apapun yang tercermin dari mereka akan selalu kupuji dan kubanggakan.

Jelas ini membuat aku menjadi tidak suka Prabowo. Dan tidak terbesik sedikitpun untuk memilih pasangan nomor dua tersebut. Aku menilai, segala yang ada pada Prabowo-Sandi itu jelek. Tidak ada yang bisa diandalkan. Mulai karakter atau kepribadian sampai program kerjanya yang menurutku sangat tidak bermutu.

Di mataku, Probowo-Sandi hanya mengandalkan popularitas melalui kekayaan. Terang saja, Sandiaga Uno terhitung sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia, dengan berbagai perusahaan tambangnya.

Demikian pula Prabowo, yang memiliki ribuan hektar tanah – sebagaimana disampaikan di forum debat Capres beberapa waktu lalu. Aaggapanku, bagiamana mungkin Prabowo akan menjadi pembawa cahaya baru untuk Indonesia dengan jargon “adil makmur”, kalau tanah saja diprivatisasi? Kan tidak lucu.

Alasan lain kenapa aku tidak suka Prabowo adalah karena mereka memanfaatkan populisme Islam kanan. Seperti yang selau muncul di timeline Instagramku dan menjadi konsumsi pengetahuanku bahwa mereka berafiliasi politik dengan kelompok radikal. Mereka sering kali membawa isu agama dalam kampanyenya, semisal isu kriminalisasi ulama, isu perang badar, dan semacamnya.

Itulah alasannya kenapa aku tidak menjadi Kampret. Sebaliknya, penilaianku terhadap Jokowi berbading 180 derajat dari Prabowo.

Di mataku, Jokowi adalah sebagai sosok yang sangat berwibawa, sederhana dan tidak arogan. Ia sangat merakyat dan juga dicintai rakyatnya. Jokowi datang dari kalangan biasa, beda dengan rivalnya yang sejak dulu menjadi bagian dari penguasa.

Saking kagumnya aku dengan Jokowi, aku selalu memamerkan hasil kinerjanya selama empat tahun belakangan kepada teman Cebongku. Setiap saat aku posting jalan tol, pelabuhan, tak ketinggalan bandara yang diresmikan oleh Jokowi.

Meski sebenarnya aku tau bahwa dibalik pembangunan Jokowi, terpampang penderitaan masayarakat. Dari perampasan lahan hingga pembunuhan masyarakat yang mempertahankan ruang hidupnya. Tapi entah kenapa, aku punya seribu alasan untuk tetap mendukung Jokowi.

Hingga ke-cebonganku tersebut hilang, setelah aku menonton film dokumenter Sexy Killers, yang diproduksi oleh Watchdoc Documentary. Film ini diluncurkan Jum’at, 5 April 2019 dan aku baru menonton empat hari setelah rilis, di gelanggang Esaka UIN Sunan Kalijaga, yang diadakan oleh LPM Arena bekerjasama Teater Eska, JCM, Surau Tuo, dan Mapalaska.

Film baru berjalan beberapa menit, kata-kata “asu, janjuk, bajingan!” dan kata kotor lainnya keluar dari mulut aku. Bukan apa-apa, hanya karena melihat penderitaan masyarakat kecil, petani, dan nelayan yang disebabkan tambang Batu Bara dan pembangunan PLTU.

Ke-cebongan-ku mulai terkikis seiring berjalannya film. Terlebih setelah melihat adegan Jokowi yang sedang meresmikan PLTU di Batang Jawa Tengeh. Laku Jokowi saat itu sangat jelas tidak berpihak kepada masyarakat kecil. Tidak memperdulikan petani yang lahannya dirampas untuk pembangunan PLTU yang digadang-gadang akan menjadi terbesar di Asia Tenggara.

Paruh terakhir film meneguhkan keyakinanku untuk murtad dari cebong dan tidak akan beralih pilihan ke rivalnya. Aku memutuskan untuk golput!

Kenapa jadi Golput? Mungkin itu yang menjadi pertanyaannya. Aku jawab, karena kedua Capres-Cawapres tidak ada bedanya, sama-sama pemain inti dalam lingkaran bisnis tambang Batubara. Sexy Killers di paruh akhir begitu apik memetakan permainan bisnis batubara. Mulai pemain dari kubu Jokowi sampai ke kubu Prabowo-Sandi sebagai pemilik usaha tambang terbanyak dalam peta tersebut.

Pemetaan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia saat ini hanya dimiliki oleh kepentingan-kepentingan elite politik. Sumber daya alam Indonesia sekadar pemuas hasrat kuasa dan pelumas politik di kalangan mereka. Kedua kubu berdebat setiap saat di TV, tapi di belakang tetap asyik bermain bisnis. Mereka tetap bersahabat dalam bisnis, melakukan transaksi jual beli aset di sana sini.

“Mereka orang besar, ungkang-ungkang kaki terus dapat duit. Kita rakyat kecil dapat lumpurnya,” keluh salah seorang petani daerah Kalimantan Timur. Lahannya rusak karena tambang bautbara.

Demikian refleksiku sebagai seorang cebong setelah menonoton karya apik tersebut. Sesaat berakhirnya Nobar (Nonton Bareng) aku berkesimpulan, siapapun pemenangnya, rakyat kecil tetap kalah. Ini bukan hasutan untuk golput, melaikan curahan emosi pasca melihat dokumenter tersebut.

Cobalah menonton, agar tidak hanya menjadi pemilih cerdas, tapi juga kritis. Pesanku satu, sebelum nonton, teguhkan keyakinan dan pilihan anda lebih dulu. Takut sakit hati, marah dan benci ke dua capres-cawapres akhirnya menjadi golput.

Terimakasih Watchdoc telah membuka mata banyak orang. Walaupun elite-elite tetap menutup mata.

*Penulis adalah mahasiswa Akidan dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga angkatan 2016.