103 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Published on May 10, 2019

Oleh: M Ikhbar F. Zifamina*

“Setan, karena ditempatkan pada kondisi tidak tetap, berkeliling dan mengembara, tidak memiliki tempat tinggal tertentu, sebagai konsekuensi dari kodrat malaikatnya, karena ia memiliki sejenis kerajaan dalam sampah cair atau udara, namun ini tentulah bagian dari hukumannya,yakni bahwa ia….tanpa tempat atau ruang yang tetap untuk meletakkan telapak kakinya” (Salman Rushdie-The Satanic Verses).

Kita bisa mengesampingkan tentang yang baik, karena tentu para agamawan, orang tua beranak tujuh, sampai polisi penyetop pengendara amatir pasti lihai menjawab apa itu kebaikan. Lantas bagaimana dengan yang jahat? Para manusia yang didapuk penjaga gawang moral masyarakat tersebut akan memiliki varian respon untuk menjunjung kebaikan versi mereka. Mitos tentang “yang jahat” disimbolkan oleh setiap peradaban dan kepercayaan dengan sifat gelap, penuh nafsu, penguasa neraka, muara segala dosa, dan teror umat manusia, hingga musuh Tuhan Yang Maha Baik. Semua atribut negatif tentu sangat dianjurkan dalam hal ini.

Yang jahat dipanggil dengan beragam makna. Kita bisa memanggilnya Ahriman Yang Maha Gelap, Loki yang penuh tipu daya, Hades si dewa dunia bawah, Mara yang menggoda Buddha, atau jika kita bertolak pada tradisi Abrahamik, kita akan menjumpai nama Setan (Syaithon) atau Iblis. Ketiga agama Semitik (Yahudi, Kristen, Islam) secara umum melihat sosok Iblis sebagai musuh Allah (baca: Tuhan) yang diusir dari taman Surga Eden.  Tampak sekali memang bahwa kebaikan melawan kejahatan adalah Tuhan vis a vis Setan.

Iblis Al-Hallaj: Pentauhid Sejati

Teologi Abrahamik yang dipahami oleh masyarakat awam tersebut, berbeda dengan yang dipahami oleh para mistikus. Salah satu mistikus Islam kontroversial yang memandang “baik” Iblis adalah Husein bin Manshur Al-Hallaj. sufi yang dihukum mati oleh otoritas Baghdad ini, memang memiliki ucapan-ucapam aforistik dan ungkapan-ungkapan estetik yang bersumber dari visi spiritualnya. Pengahakiman atas Hallaj sebagai bentuk hukuman atas tuduhan makar dan bid’ah dalam agama. Di samping semua itu, sufi martir ini memberi inspirasi bagi generasi berikutaya tentang nilai cinta Ilahi yang penuh luka.

Al-Hallaj pernah menulis kitab yang ia buat satu malam, karya ini diberi tajuk Kitab Al-Thawasin. Sosok jahat yang dikenal teologi dengan sebutan Iblis disebut dalam Bab Thasin Al-Azal wal Iltibas (Bahagia/Derita Abadi dan Kekeliruan Pemahaman) dalam masterpiece tersebut. Dalam salah satu bait penggalan, Al-Hallaj berkata tentang Iblis:

“Di antara penghuni surga tidak ada pemuja sekaligus peng-Esa (Tauhid) yang seperti Iblis. Karena Iblis ‘di situ’ telah ‘melihat’ penampakan Zat Ilahi. Ia pun tercegah bahkan dari mengedipkan mata kesadarannya, dan mulailah ia memuja Sang Esa. Pujaan dalam pengasingan khusyuknya. Ia dikutuk ketika menjangkau pengasingan ganda, dan ia didakwa ketika menuntut kesendirian (Allah) mutlak.”

            Ini akan tampak aneh bila persepsi tentang Iblis di kepala kita adalah sosok menakutkan dengan tanduk dan sayap naga yang membawa trisula besi untuk menarik manusia masuk neraka. Agama monotheis tampak mewajibkan untuk memusuhi setan, namun Al-Hallaj memandangnya sebagai seorang monotheis sejati. Jika tauhid pada dasarnya adalah peng-Esaan Allah yakni bahwa “hanya” Allah yang satu-satunya layak dipuja dan disembah. Iblis merealisasikan tauhidnya dengan menolak bersujud pada Adam, ia tidak akan mengingkari ikrar sucinya meskipun itu melawan perintah Tuhan. Iblis kemudian meneruskan apologinya di bab tersebut: “Pengingkaranku adalah untuk menegaskan Kesucian-Mu, dan alasanku (ingkar) niscaya melanggar bagi-Mu. Tetapi apalah Adam dibanding dengan-Mu, dan siapalah aku – Iblis, hingga dibedakan dari-Mu!”

Tragedi Iblis memang bisa kita ambil makna baru bahwa kesetiaan pada sumpah setia memang dapat berujung kepada luka dari yang dicintai. Cinta Iblis kepada Tuhan memang sangat egois dan sangat posesif. Ia tak rela kemesraannya dengan ilahi berujung pada pihak ketiga, meskipun si pihak ketiga sangat dipuji oleh Sang Kekasih. Kecemburuan, keangkuhan, keteguhan yang berakhir pengusiran Iblis dari Taman Eden, memberi suatu perspektif tentang cinta dan derita adalah konsekuensi terindah dari ikrar suci atau sumpah setia. Kita yang sebagai manusia jika kita memiliki hal-hal yang membuat kita berjuang olehnya, entah itu Tuhan, keluarga, rakyat jelata, maupun negara, tentu derita dan luka adalah syarat wajib bagi siapa pun yang  menjalaninya dengan cinta dan bahagia. Dalam Thawasin, Iblis menambahkan:

“Kendatipun Dia mengazabku dengan api-Nya sepanjang masa, aku tetap tidak akan bersujud kepada sesuatu (selain-Nya). Aku tidak akan merundukkan diriku kepada pribadi atau jasad, sebab aku tidak mengaku berlawanan dengan-Nya! Ikrarku khusyuk, dan aku memang seorang yang khusyuk dalam ‘cinta’!”

 

Bakunin: Iblis “Sang Pemberontak-Pembebas”

            Ketika zaman modern kurun abad 19 memberikan fakta ketertindasan kaum proletar oleh kalangan borjuis. Gerakan-gerakan revolusioner sosialis yang muncul oleh Marx dan Engels, membuat sedikit yang mengenal Mikhail Alexandrovich Bakunin. Sang ideolog radikal ini dikenal sebagai aktivis daripada ahli teoritis sosialisme seperti Marx. Bakunin mengabdikan hayatnya demi perjuangan anarkis melawan segala bentuk tirani. Ia mengaku sebagai revolusioner perbuatan nyata, “bukanlah filsuf dan bukanlah penemu sistem, tidak seperti Marx”. Masterpiece-nya yang paling dikenal bertajuk God and State. Tulisan bernas ini menjadi karya anarkisme yang paling banyak menginspirasi.

Kecenderungan anarkisme Bakunin dalam God and State menghendaki suatu semangat revolusioner rakyat yang direnggut oleh otoritas negara dan gereja. Uniknya, Bakunin meskipun tampak “benci terhadap agama” dalam karyanya tersebut ia mengutip mitologi Alkitabiah tentang Adam dan Hawa, serta Setan atau Iblis. Titik tekan Bakunin atas Adam dan Hawa adalah manusia merupakan “makluk pemberontak”. Ia mengatakan:

“Ya, nenek moyang pertama kita, Adam dan Hawa, yang jika bukan monyet, berkerabat dengan monyet, omnivora, cerdas dan buas. Dianugerahi martabat yang lebih tinggi daripada hewan dari spesies lain dengan memiliki dua kemampuan yang berharga—kekuatan untuk berpikir dan keinginan untuk berontak”

Manusia dengan “kekuatan untuk berpikir” dan “keinginan untuk berontak” bagi Bakunin merupakan keistimewaan yang faktual. Ide Bakunin memang sangat materialis, namun ia melanjutkan dengan kritiknya terhadap agama dan Tuhan:

“Yahweh yang menciptakan Adam dan Hawa, menyenangkan ketika kita tidak tahu perubahan pikiran yang terjadi tiba-tiba tanpa sebab-sebab yang nyata; tak diragukan lagi untuk sementara waktu harus menimbang-nimbang dalam egoistisnya yang abadi bahwa Dia boleh jadi memiliki budak baru. Dengan senang hati, Dia membuang mereka ke bumi, yang penuh buah-buahan dan hewan, serta menetapkan batas tunggal bagi kenikmatan yang sempurna ini. Dia tegas-tegas melarang mereka menyentuh buah pohon pengetahuan”

Tuhan bagi Bakunin di sini sangat tampak “otoriter” dan “kejam” dalam artian bahwa manusia menjadi abdi bagi Tuhan. Dengan nada yang berontak, Bakunin pun membela nalar kemanusian dengan membawa nama “Setan”, ia mengakhiri argumennya:

“Oleh karena itu, Dia berharap manusia sama sekali tidak memiliki pemahaman atas dirinya, harus selamanya menjadi binatang buas—merangkak di hadapan Tuhan yang kekal, pencipta dan tuannya. Namun, di sinilah Setan muncul, pemberontak abadi, pemikir bebas pertama dan pembebas dunia. Setan membuat manusia malu atas kebodohan dan ketaatan hewaninya itu.  Dia membebaskan manusia, menorehkan di dahinya segel kebebasan dan kemanusiaan, mendorongnya untuk membangkang dan menyantap buah pengetahuan”

Pentauhid dan Pemberontak: Sudah Ibliskah Kita?

             Manusia memang kompleks. Dari segi ruhani, dia memiliki spiritualitas yang membuatnya senantiasa berhubungan dengan Tuhan. Dan nalar pemberontakan dari manusia juga yang membuatnya menggerakkan roda sejarah perdabannya. Inilah manusia. Kadang ia benar-benar tampak macam hewan dalam kebuasan, bahkan merasa layak “menjadi Tuhan” atas ketinggian kemampuan. Namun hal ini tidak pernah selesai diperdamaikan, baik di meja perundingan parlemen maupun diskusi dini hari warung kopi kecil-kecilan.

Iblis, entah ia dikenal sebagai kawan atau musuh manusia, memiliki peran yang eksistensial bagi manusia. Iblis sang monotheis sejati yang menolak merunduk pada makhluk berjuluk Adam, sebagaimana yang ditutur oleh Al-Hallaj. Ia sekaligus membebaskan manusia dari perbudakan Ilahiah ala Bakunin. Iblis atau Setan menjadi musuh sekaligus kawan manusia, pemuja sekaligus pemberontak Tuhan. Dari sufisme dan Anarkisme tersebut, maka kita sebagai manusia sangat memerlukan Tuhan dan kemanusiaan sekaligus. Sudah Ibliskah kita? Sudah muwahhid-kah kita? Sudah berontakkah kita?

 

 

*Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga angkatan 2016.