163 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Published on April 14, 2019

Sajak Pemilu

 

Karena mulut dan pantat amat berjarak

Maka petinggi parpol, akademisi pun penulis anak-anak revolusi mencemooh kami

yang emoh perut kosong sekedar ditutupi kaos oblong

bertulis angka dan gambar pasanagan calon yang bergaya rapi

sebab kami tahu, koalisi lebih ruwet dari kabel listrik yang kendor

 

Karena gerrak mata tak terdengar oleh telinga

Maka media massa yang dipunya ketua parpol cuma tertarik memberitakan 651 janda dan duda baru menjelang pemilu

Sebab kami tahu kardus maupun besi wadah kotak suara tak kuat menahan beban 115 mayat korban tambang!

 

Karena gigi hanya mampu menggigit dengkul kaki sendiri

Maka penjilat tahu guna lidahnya untuk bersilat janji-janji kartu sakti

Bukan untuk mencicip tanah dan air tanah air yang tercemar merkuri

Bukan pula untuk menyuarakan Konvensi Minamata yang sudah dirativikasi

 

Karena pantat dan mulut amat berjarak

Maka ijon politik tambang dan praktik korupsi tak bisa dipungkiri

Maka aku bertanya,

pada tanah

pada air

pada tanah air

pada batu

pada bara

pada tanah air kaya batu bara

Dan kepadamu aku bertanya :

Pemilu kali ini untuk siapa?

 

Yogyakarta, 8 April 2019

 

Sajak Untuk Orang-Orang Tercinta

 

Bukan hujan yang menuntunku pulang

Apalagi puisi sembarang jadi yang ditulis para penyair musiman dan puisi pesanan yang

dibikin para penyair proyekan

Melainkan, pembangunan gila-gilaan yang menuntut adanya korban!

 

Rentenir diundang, hutang dibenarkan

Sektor tambang dan energi jadi garapan

Sedangkan, ancaman kelestarian alam tak diutamakan dan 32 korban meninggal di lubang

tambang diumbar!

 

1.665.457 hektar berkobar

455 petani dikriminalisasi

239 orang jadi korban kekerasan

18 orang tewas

 

Di tangan mereka yang mengaku nasionalis tapi bengis menindas!

Maka, aku tulis sajak ini,

seperti air mata orang-orang tercinta yang dikalahkan, yang jatuh dan tak dapat kembali

Agar kita segera pulang dan bersama-sama memenangkan pertarungan yang penuh jebakan.

 

Madiun, 10 Desember 2018

 

Kepada Rafika

 

Karena cinta

puisiku telah jadi api

Karena benci

puisiku mencipta bara

Dan aku perlu kau

untuk meramu keduanya

 

untuk membakar seribu bangau koran kemarin

yang tak mampu membawa kita terbang ke Karimunjawa,

yang tak mampu membawa kita menyelam ke taman karang

yang koyak yang dirusak

jangkar tongkang batu bara Kalimantan

 

Batu bara Kalimantan

yang hitam

yang murah

Sehitam kopiah capres-cawapres mbelgedes!

Semurah ludah pendukung mereka yang marah

 

Baru bara Kalimantan

yang hitam

yang mudah

Sehitam sayap enggang yang kehilangan hutan yang tinggal kita kenang

Semudah marah pengusung mereka

Melotot pada orang-orang tertindas

yang ogah jadi keledai Sancho Panza

yang tolol, penakut dan gila kuasa

Demi moralitas!

just stupid, benalu, psycho-freak!

Demi jadi WNI!

 

Kekasihku,

Karena cinta

puisiku telah jadi api

Karena benci

puisiku mencipta bara

Dan aku perlu kau untuk meramu keduanya

 

Yogyakarta, 10 April 2019


Kamu Ingin

 

Kamu ingin menguasaiku dengan membabi buta – dengan zirah dan pedang yang dikenakan Don Quixote mengembara tanpa sangsi yang membuatnya jadi disegani

 

Kamu ingin menguasaiku dengan membabi buta – dengan kisah cinta yang dikarang Don Quixote sendiri yang membuatnya pantas memaki

 

Yogyakarta, 11 April 2019

 

Kepada Penyair!

 

Puisi adalah api – raung yang meruang yang mengacaukan iblis semadi

 

Yogyakarta, 11 April 2019

 

 

Eko Nurwahyudin, lahir di Kebumen 11 Januari 1996. Mahasiswa asal Madiun yang menimba ilmu di jurusan Hukum Tata Negara Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga dan seorang kader PMII Rayon Ashram Bangsa Yogyakarta.