100 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

 

PINK: Narasi Perlawanan Perempuan

“Tidak. Tidak Yang Mulia. Tidak bukan hanya sebuah kata, tapi juga kalimat utuh, Yang Mulia. Itu tidak butuh penjelasan lebih lanjut. Tidak, ya berarti “TIDAK”. Klien saya bilang “TIDAK” Yang Mulia, dan para pria itu harusnya sadar bahwa tidak berarti “TIDAK”. Entah itu kenalan, teman, pacar, PSK, atau bahkan istri anda sendiri tidak berarti “TIDAK”. Dan saat seseorang berkata demikian, berhentilah,” ucap Deepak Sehgal pengacara dari Minal, Falak, dan Andrea di persidangan.

***

Menjadi korban pelecehan seksual, tentu bukan menjadi keinginan siapapun baik itu lelaki maupun perempuan. Begitu juga yang diharapkan oleh Minal Aurora, Falak Ali, dan Andrea, tiga orang sahabat yang tinggal dalam satu rumah sewa di Delhi.

Berawal dari pertemuan ketiganya di sebuah konser musik rok dengan beberapa lelaki yang antara lain Raunak Anand, Vishwajyoti Gosh, dan Rajvir Singh yang merupakan sepupu dari politikus kuat di New Delhi, ketiga perempuan tersebut menerima ajakan dari Rajvir untuk berpesta di sebuah resort. Ajakan tersebut mereka terima dengan senang hati juga karena adanya Vish yang merupakan teman Minal.

Sesampainya di resort dan berpesta, Rajvir membuat tiga perempuan tersebut terpisah. Anand bersama Andrea keluar dari ruangan dimana mereka berkumpul, begitu juga dengan Vish dan Falak. Hingga tersisa Minal dan Rajvir di dalam ruangan tersebut. Dalam keadaan tersebut Rajvir mulai melakukan pemaksaan terhadap Minal, ia mulai menyentuh tubuh Minal secara paksa, memeluknya, hingga menciumnya dan berusaha melakukan lebih walau hal tersebut selalu mendapatkan penolakan dari Minal.

Rajvir terus melakukan pemaksaan tersebut kepada Minal, menciumnya berkali- kali, menyentuhnya berulang- ulang, hingga dalam posisi terdesak Minal mengambil botol minuman yang terbuat dari kaca dan memukulkannya tepat di kepala Rajvir. Rajvir terluka tepat di kepalanya, darah mulai mengalir dari kepalanya. Minal yang merasa ketakutan kemudian berteriak dan keluar dari ruangan. Mendengar teriakannya, Andrea dan Falak menghampirinya. Dengan kedaan cemas dan ketakutan yang dialami Minal, mereka meninggalkan resort tersebut menuju ke rumah mereka.

“Ini takkan jadi kasus polisi kan?” tanya Vish di dalam mobil ketika mengantar Rajvir dengan kepala yang terluka menuju Rumah Sakit bersama Anand (Dumpy). “Tidak, tidak,” ucap Anand. “Tapi kita takkan lepaskan wanita itu. Lihatlah yang mereka perbuat,” sambung Anand sambil menyetir.

Di hari selanjutnya, sebagai korban yang mencoba melaporkan Rajvir, Minal justru mendapatkan perlakuan tak menyenangkan, juga dipersulit oleh oknum kepolisian. Duka Minal bertambah dengan ancaman dari Rajvir beserta kawan- kawannya. Minal sempat diculik dan dilecehkan di dalam mobil oleh Rajvir. Hal tersebut merupakan ancaman dari Rajvir untuk mencegah Minal melakukan pelaporan terhadap tindakan Rajvir. Atas peristiwa dan ancaman tersebut, Minal merasa tertekan, takut, depresi, dan tidak berniat melakukan pelaporan lagi. Namun, berkat dukungan dari kedua sahabatnya, Minal berusaha tegar dan mencoba kembali melaporkan perlakuan bejat Rajvir terhadapnya. Belum sempat Minal melakukan pelaporan, ia justru ditangkap oleh kepolisian dengan alasan “sengaja melukai Rajvir”.

Berawal dari peristiwa tersebutlah proses hukum berjalan. Minal yang merupakan korban kekerasan seksual justru dilaporkan oleh Rajvir dan kawan- kawannya sebagai pelaku yang mencoba melukai Rajvir. Proses hukum berjalan sedang Falak dan Andrea mengalami kesulitan untuk membantu proses hukum yang dijalani oleh Minal. Falak dan Andrea tak memiliki cukup uang untuk menyewa jasa Pengacara dalam mendampingi Minal menjalani proses hukum yang sedang dilaluinya.

Hingga suatu ketika Falak dan Andrea bertemu dengan Deepak Sehgal yang dalam film tersebut diperankan oleh  Amitabh Bachan. Deepak merupakan tetangga dari ketiga gadis tersebut, Minal, Falak, dan Andrea. Seorang lelaki tua yang setelah ditelusuri ternyata merupakan seorang pengacara ternama. Namun memutuskan untuk beristirahat dari profesinya. Hingga suatu hari Deepak melihat Minal diculik oleh sebuah mobil, dan segera melaporkannya ke kepolisian namun apa yang dilaporkan olehnya ternyata diabaikan oleh  oknum sehingga ia merasa hukum sudah dipermainkan di kotanya. Ia memutuskan untuk membantu Minal dalam proses hukumnya. Hal ini juga ia lakukan setelah Falak dan Andrea memohon kepadanya dengan rendah hati untuk menolong temannya.

Sidang demi sidang berlangsung dengan menghadirkan saksi- saksi dari pihak Rajvir juga Minal. Minal sebagai korban pemerkosaan justru berkali- kali disudutkan dan dianggap bersalah ketika memberikan pernyataan atas apa yang ia alami sehingga ia melukai Rajvir sebagai upaya perlawanan. Dari bagaimana ia dianggap sebagai perempuan “tidak terhormat” karena menerima ajakan pria berkunjung ke resortnya dan minum minuman beralkohol. Hingga ia dianggap perempuan “liar” karena sering pulang malam yang hal tersebut dianggap seharusnya hanya boleh dilakukan lelaki. Minal juga disudutkan sebagai seorang perempuan “nakal” yang juga menjajakan dirinya kepada lelaki hidung belang walaupun hal tersebut tidak disertai bukti yang kuat.

Dalam sidang tersebut, Rajvir justru diuntungkan. Statusnya sebagai sepupu salah satu politikus kuat di New Delhi pun membuat ia dianggap sebagai lelaki dari keluarga terhormat yang tidak mungkin melakukan pelecehan seksual kepada Minal. Rajvir justru memfitnah Minal menawarkan “sex” kepada Rajvir dengan meminta imbalan. Rajvir memfitnah Minal menggodanya padahal ia sudah menolaknya berkali-kali.

Sidang demi sidang digelar, fakta demi fakta mulai terungkap. Deepak Sehgal, pengacara Minal yang diperankan oleh Amitabh Bachan mencoba menguak fakta yang ada hingga membongkar bagaimana oknum kepolisian justru melakukan kebohongan dalam mengungkap fakta yang ada. Tidak hanya itu, dalam menit- menit terakhir dari film PINK, Deepak Sehgal juga menyadarkan seluruh manusia yang hadir dalam persidangan, semoga juga bagi para penonton film tersebut bahwa pemerkosaan tetaplah pemerkosaan. Entah itu kekasih, isterimu, kenalan, bahkan PSK, ketika ia tidak menginginkan dan menolak kau sentuh, berhentilah, jangan lakukan.

Film ini menurut saya pribadi sangat menarik ditonton, terlebih bagi person yang sering kali masih menjudge korban kekerasan seksual sebagai pihak yang bersalah atas apa yang sudah terjadi pada korban tersebut. For example salah satu kasus kekerasan seksual yang menimpa Agni salah satu mahasiswi Universitas Gajah Mada.

Tentu belum hilang dalam ingatan kita, bagaimana kasus itu mencuat setelah Lembaga Pers Mahasiswa pada kampus tersebut mempublikasikan laporan investigasi terkait kasus tersebut atas persetujuan Agni selaku korban. Apa yang dialami Agni menurut saya merupakan sebuah keberanian yang patut dicontoh, begitu pun dengan yang dilakukan Minal dalam film PINK. Seorang korban kekerasan seksual harus berani berbicara, tentu dengan maksud mengungkap apa yang sebenarnya terjadi atau kebenaran. Namun yang disayangkan, ketika korban berani berbicara tentang apa yang dialami, tak sedikit manusia- manusia yang menurut saya berfikiran dangkal, justru menyudutkan korban sebagai pihak yang bersalah, begitu pun yang dialami Minal dalam film PINK.

Hal tersebutlah yang coba diungkapkan oleh Aniruddha Roy Chowdhury selaku sutradara dalam film PINK. Anir mencoba menggambarkan konflik batin, fisik, juga sosial yang dialami oleh perempuan korban kekerasan seksual. Dibalut oleh latar belakang budaya India yang patriarki dan bias gender, film PINK berhasil mengungkapkan berbagai subordinasi, stereotipe, violence, serta marginalisasi yang dialami perempuan. Beberapa diantaranya misalnya streotipe tentang perempuan yang sering keluar malam dianggap “perempuan nakal”, perempuan yang bersolek dianggap sengaja memancing perhatian lawan jenis, maka ketika perempuan tersebut diperkosa hal tersebut dianggap kesalahan perempuan itu sendiri, dan masih banyak lagi.

Manifestasi ketidakadilan gender tersebut terjadi di dalam adat istiadat masyarakat di banyak kelompok etnik dalam kultur suku- suku juga dalam tafsir keagamaan. Bagaimanapun mekanisme interaksi dan pengambilan keputusan di masyarakat masih banyak mencerminkan ketidakadilan gender. Dalam hal ini, Anir mengambil latar belakang kebudayaan India untuk filmnya. Well, ada beberapa hal yang saya garisbawahi dan tekankan setelah menonton film PINK, Pertama, Kebenaran harus diungkapkan. Kedua, Keadilan harus ditegakkan. Ketiga, Pemerkosaan tetaplah pemerkosaan. Entah itu kekasih, isterimu, kenalan, bahkan PSK, ketika ia tidak menginginkan dan menolak kau sentuh, berhentilah, jangan lakukan. Terakhir, lawan patriarki! Jadilah manusia yang bijak dan tidak dungu yang justru menyalahkan korban kekerasan seksual.[]

Judul Film: PINKTahun Rilis: 16 September 2016 | Durasi: 136 Menit | Sutradara: Aniruddha Roy Chowdhury | Produser: Rashmi Sharma Telefilms | Penulis:  Ritesh Shah| Negara: India | Bahasa: India, Inggris | Pemain:  Amitabh Bachchan, Taapsee Pannu, Kirti Kulhari, Andrea Tariang, Angad Bedi, Piyush Mishra, dan Dhritiman Chatterjee| Peresensi: Wulan