422 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Urgensitas Tema PBAK 2019

Lpmarena.com – Kampus UIN Sunan Kalijaga kembali menggelar Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan (PBAK) 2019, sebagaimana dilakukan seperti pada tahun-tahun sebelumnya, dengan mengangkat tema “Melahirkan Generasi Muslim Yang Otentik, Moderat, Inklusif, dan Berakhalakul Karimah”.

Tema PBAK tahun kali ini berbeda daripada tahun sebelumnya, karena menyesuaikan konteks kondisi akhir-akhir ini, khususnya dalam konteks akademik kampus, sebagaimana yang diucapkan Ketua Panitia PBAK 2019, Shofiyullah, saat ditemui ​ARENA ​di Gedung Multi Perpose (MP), Senin (26/08).

Adapun maksud dan tujuan mengangkat tema ini dalam pelaksanaan PBAK, Shofiyullah mengatakan untuk memperkuat mahasiswa, khususnya bagaimana mempertahankan nilai-nilai Pancasila yang terwujud untuk mengokohkan NKRI itu sendiri.

Shofiyullah melanjutkan bahwa faham-faham radikal akhir-akhir ini, di tengah-tengah masyarakat sudah begitu banyak dan massif, bahkan sudah ada indikasi masuk ke kampus-kampus. Menurutnya, PBAK ini adalah salah satu pintu masuk untuk menangkal faham-faham radikal itu di kalangan mahasiswa.

“Maksudnya itu kita ingin menjadi muslim yang sewajarnya yang terukur secara alamiah dan akidah. Kita ini orang Islam Indonesia, karena Islam Indonesia maka kita tidak boleh lupa bahwa ini adalah tanah air kita, oleh karena itu, karena kita terikat perjanjian kenegaraan, sebagai warga negara, kita harus jadi orang Indonesia, maka saya bahasakan dalam bahasa fiqh beribadah kepada Allah Swt melalui negara Pancasila,” ucap Yudian Wahyudi, Rektor UIN Sunan Kalijaga​​, di Gedung MP saat dimintai penjelasan oleh ​ARENA ​mengenai maksud diangkatnya tema ini, Senin (26/08).

Lebih lanjut, Yudian mengatakan bahwa mahasiswa atau masyarakat secara umum harus menanamkan sikap otentisitas, moderasi, inklusif, dan berakhlakul karimah sebagai pewaris para nabi. Menurutnya, kita sebagai orang muslim terbesar di dunia, kita juga memiliki peradaban Pancasila, harus berada di garda terdepan dalam mengaplikasikan Islam yang moderat, inklusif, juga berakhlakul karimah. ia menyebutnya dengan “Prophetic Civilization”.

“Jadi kita mengharapkan nanti mahasiswa ini menjadi orang-orang terbaik di Republik ini sebagai orang yang berproses sekarang, konstitusional, gitu ya, akidahnya bener, konstitusinya benar,” kata Yudian, (26/08).

Bentuk dan Penerapan

“Otentik itu artinya orang yang punya karakter, orang yang punya karakter artinya orang yang berkualitas. orang yang berkualitas itu bisa dianggap berkualitas kalau dia mendapat apresiasi sosial,” ujar Shofi.

Sementara itu, ia mengatakan, moderasi itu artinya tidak ekstrem kanan dan ekstrem kiri. Orang moderat adalah orang yang mencapai keseimbangan antara unsur positif dan negatif dalam dirinya. sedangkan inklusif bentuknya ialah orang yang melihat perbedaan sebagai kekayaan. Dan akhlakul karimah maksudnya, orang yang patuh pada hukum alam (sunnatullah).

Selain menurut Shofiyullah, salah satu bentuk moderasi, menurut Yudian adalah dengan dima’hadkan (mondok).

“Saya sudah menyampaikan berkali-kali, kita masuk ke ma’had untuk satu tahun pertama, itu salah satunya ditegakkan antara Islam dengan Pancasila. Kemudian diajarkan hafal juz 30. Kalau cowok bisa mengimami, bisa ngurus jenazah, itu minimal,” katanya.

Kemudian, dalam rangka pengertian tema PBAK di atas, penerapannya di lapangan, kata Waryono, Wakil Rektor III, secara bersama-sama akan mendampingi dan memantau mahasiswa dalam menerapkan konteks tema tersebut.

“Misalnya bagaimana menjadi mahasiswa yang inklusif, kan harus dengan kita, terus kita peringatkan. sehingga kemudian, anak-anak itu dengan pengalaman di Jogja ini, tidak terlalu jauh. Karena godaan di Jogja ini, kan, banyak. Untuk menjadi ekslusif, kan, bisa. Untuk menjadi muslim arab bisa. Dalam konteks mahasiswa, ya, antara menjadi akademisi dan aktivis, kan, moderat juga. Tidak harus dalam sikap beragama,” ujar Waryono saat diwawancari ​ARENA ​di Gedung Pusat Administrasi UIN (PAU), Senin (26/08).

Reporter: Farobi

Redaktur: Zaim Yunus