931 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Bagaimana Diskriminasi Rasial Melanggengkan Kolonialisme?

Dalam sejarah Indonesia, dahulu pribumi dipanggil monyet oleh orang-orang Belanda. Pada saat ini orang-orang Papua yang sering disebut monyet.

Lpmarena.com– Aliansi Persatuan Rakyat Untuk Pembebasan Papua Barat (PRPPB) melakukan aksi solidaritas untuk Papua, Sabtu, (31/08). Aksi solidaritas ini bertajuk “Perkuat Gerakan Rakyat, Buka Ruang Demokrasi, Hancurkan Rasisme, dan Berikan Hak Menentukan Nasib Sendiri bagi Bangsa West Papua”.

Dari 16 tuntutan dalam aksi ini, salah satunya, “Tolak rasisme, diskriminasi, dan tindakan represif terhadap gerakan rakyat yang dilakukan oleh negara.”

Tindakan rasisme, diskriminasi, dan represi terhadap orang-orang Papua kerap terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Aksi yang terjadi di Papua juga merupakan buntut dari berbagai tindakan tersebut. Hal tersebut diungkapkan Jhon Gobai, Ketua Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) pada ARENA ketika aksi sedang berlangsung.

Pada 1 Mei 2016 di Yogyakarta, misalnya, ketika melakukan aksi peringatan Hari Aneksasi dan Hari Buruh, mahasiswa Papua mendapat perlakuan rasis secara verbal dan mendapatkan represi dari aparat dan ormas.

“Asrama mahasiswa dikepung sama aparat, ormas, dan Pemuda Pancasila juga ada di situ. Terus kami dibilang monyet. Kami juga direpresi di Kamasan (asrama mahasiswa),” tutur Jhon Gobai.

Sementara itu, Dodok Putra Bangsa, salah seorang warga Yogyakarta yang tempat tinggalnya berdampingan dengan Asrama Mahasiswa Papua mengatakan pernah menyaksikan tindakan rasis terhadap orang Papua.

“Mereka (orang-orang Papua) dicegat di depan asrama Kamasan, kasusnya Obby kalau tidak salah. Mereka diteriaki monyet, diteriaki macam-macam, ya tahu sendirilah,” ujar Dodok kepada ARENA saat ditemui di kediamannya, Sabtu, (31/08).

Rizaldi Ageng, Koordinator Umum Aksi Solidaritas Papua mengatakan rasisme merupakan konsekuensi dari kolonialisme. Dalam sejarah Indonesia, dahulu pribumi dipanggil monyet oleh orang-orang Belanda. Pada saat ini orang-orang Papua yang sering disebut monyet.

“Mereka dianggap setengah manusia atau setengah hewan dan diperlakukan secara tidak adil,” ucap Rizaldi di hadapan awak media selepas aksi.

Jhon Gobai juga menyatakan perlakuan dan diskriminasi rasis merupakan konstruksi sosial yang sengaja dibangun. Persoalannya bukan antara orang kulit putih dengan kulit hitam, tetapi diskriminasi rasial yang dihadapkan dengan orang Papua di Yogyakarta merupakan bagian dari kolonialisme di Papua. Dalam sejarah Papua bergabung dengan Indonesia diawali dengan pembantaian orang-orang Papua, pengambilalihan sumber daya alam, dan penguasaan tanah-tanah lokal.

“Sementara itu rakyat tidak bisa apa-apa,” tuturnya.

Lebih lanjut, menurut Dodok, tindakan rasis bukan hanya terjadi terhadap warga Papua, melainkan juga orang-orang dari Timur, seperti Ambon, Maluku, dan lain-lain. Hal tersebut disebabkan karena masih banyaknya masyarakat maupun pemerintah yang memandang sebelah mata orang-orang dari Timur.

Akan tetapi, berdasarkan pengalamannya selama tinggal di Yogyakarta, ia tidak pernah melihat adanya konflik antara warga Papua dengan warga daerah tempat tinggalnya. Bahkan setiap perayaan kemerdekaan Indonesia, mereka bergabung dengan warga untuk kerja bakti dan pentas seni. Ia justru merasa lucu ketika melihat broadcast provokatif yang menyatakan orang-orang Papua para pembuat onar dan suka mabuk.

“Kalo suka mabuk bukan hanya warga Papua, semua orang juga suka mabuk, semua orang juga resek,” ujar Dodok santai.

Reporters: Nur Hidayah

Redaktur: Sidra Muntaha