265 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Diskriminasi Sistemik Terhadap Papua

Rasisme terhadap Papua di berbagai kota terjadi dengan pola yang sama: pengepungan asrama, kekerasan fisik, dan ujaran rasial.

Lpmarena.comRepresi aparat terhadap masyarakat Papua kembali terjadi beberapa minggu terakhir. Seperti yang terjadi di Surabaya, Malang, Manokwari dan lain-lain. Tindakan represif tersebut juga diiringi oleh diskriminasi rasial.

Demi merespon diskriminasi rasial dan represi terhadap masyarakat Papua, LPM Arena mengadakan diskusi publik bertajuk Papua: Rasisme dan Persoalan HAM di Gelanggang Teater Eska, Rabu (4/9).

Ahmad Jamaluddin, salah satu pembicara dalam diskusi menjelaskan bahwa rasisme yang terjadi terhadap mahasiswa Papua memiliki pola yang sejenis: mengepung asrama, menggunakan kekerasan fisik dan melontarkan ujaran rasial. Pola itu ia sebut sebagai diskriminasi sistemik.

Menurut Jamal hal ini terjadi karena stigmatisasi aparat terhadap Papua sebagai berandalan yang kerap berulah.

“Aparat menganggap mereka (Orang Papua-red) sebagai monyet atau berandalan yang kerap berulah dan pantas diberlakukan semena-mena,” jelas Jamal.

Jamal melanjutkan, tindakan represif yang terjadi di berbagai kota secara umum mengarah kepada pembungkaman atau kontrol terhadap subjek Papua.

Senada dengan Jamal, Oni Oscar, pembicara dari Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) juga memaparkan tindakan rasisme terhadap Papua disebabkan karena adanya stigma-stigma negatif dari masyarakat.

“Orang Papua dibilang jarang mandi, lah, selalu bikin kerusuhan, lah,” papar Oni

Stigma-stigma negatif dan diskriminasi rasial tidak hanya menjelma tindakan represif dan ujaran rasis, tapi juga pembatasan akses masyarakat Papua terhadap fasilitas publik. Beberapa hari lalu, misalnya, pemerintah memutus jaringan internet dan telekomunikasi di Papua.

Di Yogyakarta sendiri, Dodok Putra Bangsa sebagai pembicara kedua mencontohkan, mahasiswa Papua yang kesulitan mencari tempat tinggal.

“Pemilik kos selalu mencari alasan untuk menolak mahasiswa Papua untuk menetap di tempatnya,” ujar Dodok.

Dodok memaparkan terjadinya diskriminasi rasial disebabkan banyak hal. Salah satunya adalah adanya usaha membingkai kegiatan mahasiswa Papua secara negatif. Aksi mahasiswa Papua, misalnya, selalu disebut sebagai “mengamuk” oleh media arus utama.

Akibatnya, warga Yogya yang mengonsumsi informasi arus utama lebih erat dengan pembingkaian tersebut. Padahal, Dodok yang menetap di dekat Asrama Papua di Yogyakarta menyaksikan mahasiswa Papua selalu ikut berpartisipasi dalam kegiatan warga. Namun, hal tersebut jarang diekspos oleh media arus utama.

“Ada juga yang tahu kalau mahasiswa Papua itu tidak seperti yang dibingkai media arus utama, tapi tidak bicara apa-apa karena takut,” tukas aktivis Jogja Ora Didol tersebut.

Reporter: Ach Nurul Luthfi

Fotografer: Fidya Laela Sarie

Redaktur: Muh. Sidratul Muntaha Idham