250 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Mahasiswa mestinya tidak hanya tahu belajar di kelas, tapi juga andil dalam perjuangan rakyat.

Lpmarena.com- Mahasiswa harus memahami dirinya sebagai bagian dari rakyat. Jika itu disadari, maka mutlak menjadi tugas bersama memperjuangkan kepentingan rakyat, khusunya petani. Hal ini disampaikan Hilmawan Kurniadi dalam diskusi publik, “Problem Agraria di Indonesia” di Fakultas Pertanian Universitas Sarjawiyata Taman Siswa, beberapa waktu lalu.  

Hilmawan, lebih sering disapa Adi, menghimbau agar mahasiswa memikirkan keterlibatannya dalam perjuangan rakyat. Baginya, mahasiswa harus tetap berada di garda terdepan memperjuangkan hak-hak petani. Tetap solid dan konsisten berjuang bersama rakyat.

“Agenda gerakan yang kita bikin harus tetap konsisten. Apapun itu. Tidak ada alasan. Meski usaha kita kecil, yang penting kita tidak lupa,” ujar Adi.

Kata Adi, gerakan mahasiswa harus memukul dan memberi tekanan kepada pemerintah. Mengingat, ada sekitar 410 konflik agraria di Indonesia, dan 888 ribu Kepala Keluarga (KK) menjadi korban. 50 orang ditembak oleh petugas.

“Informasi tersebut tidak sepenuhnya dimengerti oleh masyarakat. Mahasiswalah yang harus menyampaikannya,” terang Adi.

Seyogyanya gerakan mahasiswa membuat rencana matang dan revolusioner. Supaya mampu mengimbangi pemilik modal yang lebih dahulu ‘merampok’ dan mengeksploitasi kekayaan alam rakyat Indonesia.

Lebih lanjut Adi mencontohkan begini: ada ungkapan menuju Indonesia di tahun 2045. Ya, sampai tahun 2045 mereka (pemilik modal) sudah merencakan eksploitasi alam kita. Kalau gerakan mahasiswa rencananya masih untuk sebulan ke depan, maka jelas tertinggal. “Dan ini yang menjadi problem gerakan mahasiswa saat ini,” tambahnya.

Peringatan-peringatan Adi di atas diperuntukan kepada seluruh mahasiswa. Agar mahasiswa tak hanya belajar di kelas, tapi juga terlibat dalam perjuangan rakyat. Khusunya pada Hari Tani Nasional mendatang.

Wikho, anggota Aliansi Kolektif Agraria, menyebut tujuan diskusi diadakan untuk memantapkan sikap mahasiswa menyambut Hari Tani Nasional 24 September nanti. Sengaja diatur untuk mengonsolidasikan gerakan mahasiswa dalam menyambut hari perjuangan petani.

Agar tidak bersikap ‘buta’ dan paham permasalahannya, dilangsungkanlah diskusi tentang problem agraria. Dalam diskusi tersebut, Adi mengurai sedikit-banyak problem-problem agraria, khusunya di era Jokowi sekarang.

Salah satunya, pembagian sertifikat tanah gratis yang dilakukan Jokowi. Upaya Presiden ini, kata Adi, perlu dikaji lebih dalam. Ia tidak menyelesaikan pokok permasalahan. Sebab, bertolak belakang dengan pembangunan infrastruktur yang gempur dilakukannya.

“Persoalan agraria tidak semata-mata diselesaikan dengan sertifikat gratis. Petani atau masyarakat hari ini sangat terhimpit dalam rencana pembangunan yang terus dilakukan,” jelas Adi yang juga sebagai aktivis WALHI.

Wikho berharap diskusi tersebut menambah informasi tentang problem agraria kepada mahasiswa dan khalayak umum. Dan membangkitkan semangat mahasiswa dalam memperjuangkan hak petani. Dengan ini, gerakan mahasiswa akan kembali pada perjuangannya bersama rakyat.

Idra Faudu, salah satu pemantik diskusi, juga menyampaikan harapanya agar mahasiswa andil dalam perjuangan petani. “Khususnya fakultas pertanian di Indonesia, harus lebih berpihak pada petani,” imbuh Idra.

Reporter: Kristinawati

Redaktur: Hedi

*Sumber foto: Militanindonesia.org