126 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Kekasihku Cinderella

Kekasihku adalah cinderella,

Ia punya sepatu kaca yang kilaunya mampu membuat ia lupa.

Ia menjadi cinderella semenjak diundang hadir di pesta dansa, dalam istana kerajaan pangeran hamlet.

Semenjak kencan pertamanya dengan pangeran hamlet.

Kekasihku tidur di kasur kekasihnya, menonton film Fifty Shades of Grey di dalam kesadisan imajinasinya.

Dia ingin aku menikahinya,

supaya ia bisa hidup bersama dengan suaminya,

Sambil menikmati fantasi menjadi Anna Karenina.

Menjadi tua dan kuat seperti Nyai Ontosoroh dan Dasimah,

Mati pukul Tigapagi denganku, mayatku membacakan doa-doa untuk

pengampunan dirinya, atau menyanyikan lantunan lagu folk indie kolaborasi milik

si Danilla Riyadi, keranda itu jelas tak ada yg mendorongnya.

Agar ia tidak gelisah,

Ketika ditanya malaikat penjaga ruang angkasa ;

Sebab melihat bayanganku tak ada di dalam cermin kedalamannya yang mengkilat,

.

.

Peradaban Yang Melupa

Bagaimana bisa seorang saya membenci bayang-bayangnya yang menjadi aku

Bagaimana bisa ada sebuah bayangan aku, dengan matahari yang tertutup mendungnya awan

Dan hujan datang bersamaan dengan perang melawan ingatan

Semua yang mengandung unsur ingatan akan segera dijemput oleh kematian

Dan diatas ribuan bangkai ingatan

kita mulai membangun kembali kebudayaan dan peradaban baru

di bawah langit tanpa matahari kesadaran

Kita mulai membangun kebudayaan dan peradaban baru yang “Melupakan.”

.

.

Sajak Gelisah

Setibanya waktu maghrib

aku berlari mengejar sunyi yang memantul-memantul di atas kepala para penduduk desa menuju ke kota

bunyinya seperti suara kalian berdua: kala bercinta di atas ambin di dalam rumah bambu beratap rumbiak dengan sedikit ganguan cericit tikus

Kukejar hingga ke tengah pasar malam di pinggiran pantai

Lalu hilang ditengah-tengah pasar

Masuk ke dalam puluhan mulut pedagang kaki lima,

Yang menjajakan cinta

Pada setiap orang.

Mengobral janji dan harapan

Sepanjang jalanan pasar

Kucari-cari sunyiku yang mungkin keluar dari mulut mereka

Kurekam segala bunyi yang keluar dari mulut mereka : bunyi nafas, keluhan-keluhan, dan kutukan-kutukan,

Aku amati lebih dalam lagi

Agar aku segera temukan ungkapan-ungkapan yang paling gelap dari mulut mereka

Mulai kugambar diatas kertas

Dan menjadi sajakku yang gelisah

.

*Farid Merah anggota Teater Eska

Sumber gambar: https://www.imagekind.com/Hamlet-Shakespeare-Lawrence-Olivier-Modern-Art_art?IMID=3bab6041-c50f-4106-9d5d-b8c7532287aa