370 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Pelajar bersatu memprotes DPR di Gejayan Memanggil II, meski kecewa karena tak bisa ricuh

Lpmarena.com- Aksi Gejayan Memanggil jilid dua, Senin (30/9), dihadiri berbagai elemen. Bukan hanya mahasiswa dan masyarakat sipil, pelajar sekolah menengah, terutama STM, juga turun ke jalan. Mereka sudah berkumpul di depan gedung Multipurpose UIN Sunan Kalijaga sejak pukul sebelas.

Shifu, sapaan akrabnya, adalah salah satu dari mereka. Anak STM yang bercita-cita menjadi guru dan berniat masuk Fakultas Tarbiyah UIN itu berangkat dari Kalasan sekitar jam sembilan setelah meminta izin pada orang tua juga pihak sekolah. Ketika ARENA menanyakan nama asli Shifu, dia menolak.

Shifu memutuskan untuk ikut aksi setelah melihat banyaknya represi aparat di media-media. Dia juga ikut aksi karena, menurutnya, RUU yang akan disahkan DPR nyeleneh.

Kendati demikian, pelajar yang ikut demonstrasi direspons sinis. Banyak orang mempertanyakan pemahaman pelajar terkait isu yang dipersoalkan. Mengutip Tirto.id, Kapolresta Bogor Kota Kombespol Hendri Fiuser bahkan mengatakan bahwa pelajar masih anak kecil dan karenanya tidak pantas ikut-ikutan demonstrasi.

Tapi benarkah demikian?

Eddward S. Kennedy menulis dalam esainya yang berjudul Di Tengah Persekutuan Negara & Oligarki, Mengapa Demonstrasi Perlu? bahwa klaim sinis terhadap pelajar tersebut mudah dibantah. Lantaran, “anak STM juga merupakan korban dari sistem yang menindas berwujud pendidikan, budaya, hingga kemiskinan.” tulis Eddward.

Saat jam menunjukkan pukul 11.55 WIB, semua massa mulai berbaris. Shifu memakai jaket loreng cokelatnya dan bergegas ikut barisan pelajar. Anak STM berkumpul di tengah-tengah barisan demonstran lain yang mengular dari gerbang kampus timur UIN hingga dekat gelanggang Teater Eska.

Layaknya suporter sepak bola, demonstran mulai menyanyikan yel-yel “DPR Asu“. Anak STM mengikuti. Sekitar pukul setengah satu siang, longmarch dari UIN ke Gejayan pun dimulai.

Meski udara pengap dan panas, yel-yel yang mengejek pemerintah dan DPR terus digemakan. Shifu yang berjalan di sisi paling kanan membagi-bagikan rokok sambil sesekali berteriak “STM datang” atau “STM wani” yang dijawab pelajar lain.

Di perempatan di selatan Jalan Affandi, demonstran berhenti berjalan. Beberapa koordinator lapangan (korlap) terlihat bolak-balik di sebelah kanan rombongan. Dia memperingati demonstran agar tidak terprovokasi sambil memerintahkan peserta yang berdiri di sisi luar barisan untuk bergandengan tangan.

“Bikin barikade!” perintah korlap.

 “Gandengan yang kuat, biar enggak ada intel masuk,”

Demonstran yang berdiri di sisi luar barisan lantas bergandengan tangan. Beberapa anak STM juga ikut bergandengan tangan mengamankan demonstran yang berdiri di tengah.

Setelah berhenti sejenak di perempatan, perjalanan pun berlanjut. Setengah jam berlalu hingga demonstran sampai di Jalan Affandi. Di pinggir jalan, beberapa orang terlihat memotret dan merekam dengan ponsel. Anak STM lantas berpose ke arah ponsel yang merekam dan mengumpat, “DPR Asu!

Shifu terlihat lebih santai dari yang lain, sambil menghisap rokok yang tinggal setengah, dia bicara kalau pelajar satu komando dengan mahasiswa.

“Kita ikut mahasiswa aja,” ungkapnya, “kita juga enggak punya korlap atau pimpinan.”

Di seberang jalan tempat demonstran berbaris, terlihat pelajar lain. Anak STM yang berada di barisan demonstran lantas bersorak menyapa pelajar tersebut.

“STM bersatu! Sekarang kita temenan dulu!” Ucap salah seorang anak STM sambil melambaikan tangan.

Pelajar yang semula di luar barisan itu lantas berlari menyeberang jalan dan membaur dengan demonstran. Tak berselang lama, para pelajar duduk beristirahat.

Shifu meminjam topi temannya untuk mengumpulkan uang yang tersisa di kantong para pelajar untuk membeli rokok dan minuman. Setelah uang terkumpul salah satu anak STM berangkat ke toko kelontong dan kembali membawa beberapa botol air mineral yang habis dalam hitungan detik. Sejurus kemudian, mereka menyelipkan rokok di bibir dan menyulutnya.

Sementara itu, panggung orasi di Pertigaan Colombo telah disiapkan. Seorang laki-laki berpostur tinggi kurus datang dan meminta perwakilan anak STM untuk orasi. Mereka menolak, malah saling tunjuk. Namun, akhirnya ada juga orang yang ditunjuk dan bersedia melakukan orasi.

“Hidup mahasiswa! Hidup buruh! Hidup rakyat! Hidup perempuan yang melawan!” orator pertama mulai berteriak, sahut-sahutan dengan demonstran.

“STM mana, cuk?!”

” STM mana, Mas?!”

“Kok kita enggak disebut?”

Ungkapan-ungkapan tersebut terus diteriakkan oleh anak STM. Shifu berdiri dan berteriak “Hidup pelajar!” tapi yang membalas teriakan tersebut sebatas hitungan jari. Dia pun kembali duduk dan mendengarkan orasi dengan sedikit kecewa.

Satu dua orasi berlangsung dan lagi-lagi tanpa menyebut STM atau pelajar. Tanggapan Shifu tetap sama. Kecewa. Seorang perempuan berhijab yang berada di sebelah kiri barisan anak STM pun menyemangati.

“Hidup pelajar!”  teriak perempuan itu dengan pengeras suara yang dia pegang.

Sesi orasi berlangsung dengan damai. Anak STM memilih diam, merokok, dan fokus mendengarkan. Meski sebagian ada juga yang mengobrol. Bendera, spanduk, dan tulisan-tulisan yang mereka bawa beralih fungsi menjadi payung saat matahari semakin terik dan panas.

Waktu semakin sore. Seorang wartawan mahasiswa datang mewawancarai mahasiswa di dekat barisan anak STM. Mereka lantas berteriak meminta di wawancara. “Kami gabut, Mbak!”

Akhirnya seorang wartawan berambut gondrong menghampiri. Dia mewawancarai Shifu yang tak ingin diketahui nama dan asal sekolahnya.

“Kami ini sebenarnya rombongan yang paling jujur, apa adanya,” ungkap pada wartawan tersebut, “kami tidak punya korlap atau kepengurusan, kami datang atas kesadaran masing-masing dari SMA yang beda-beda, ikut aliansi.”

Waktu berlalu sampai mendekati akhir dari rangkaian acara. Perhatian pelajar terpicu kembali ketika salah satu temannya berdiri menyampaikan orasi, dengan teriakan “Hidup pelajar!” pada pembukaan orasi. Orator pelajar itu menekankan bahwa mereka turun mengecam pemerintah berikut dengan pasal-pasal ngawurnya.

Jarum pendek jam telah menunjuk ke angka lima, demonstran mulai berbalik arah karena aksi sudah selesai. Demonstrasi pertama bagi Shifu dan kawan-kawannya berlangsung damai.

Sementara itu, di kota-kota lain, anak STM menjadi ujung tombak demonstran kala bentrok dengan aparat. Dalam sebuah video yang beredar di twitter, anak STM terlihat memukul mundur polisi yang awalnya mengejar demonstran.

Itu hanya sedikit rekaman terkait kegilaan anak STM. Kegilaan itu seringkali memang dianggap negatif. Namun, bagi Hakim Bey, pemikir Anarkis, kegilaan yang dilakukan di ruang publik adalah salah satu bentuk taktik Temporary Autonomous Zone (TAZ). Taktik tersebut ia cetuskan dalam bukunya yang berjudul Temporary Autonomous Zone: Ontological Anarchy, Poetic Terrorism.

TAZ adalah taktik penciptaan ruang sementara untuk menyalurkan kebebasan ekspresi politik dan hasrat pembangkangan. Kebebasan dan hasrat itu perlu disalurkan untuk  melepaskan diri dari kontrol politik yang kerap menekan masyarakat secara fisik maupun non-fisik.

***

“Demonya keren!” ucap Shifu disela-sela perjalanan menuju UIN, “tapi kurang sih,”

“Kurang apa?” tanya teman Shifu.

“Enggak ada ricuh.”

Reporter: Gustiana Sandika

Redaktur: Sidra