215 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com– Masyarakat Gamping mengadakan Upacara Saparan Bekakak dan kirab budaya dari Lapangan Ambarketawang ke kawasan Gunung Gamping, Sleman, Jumat (18/10) lalu. Meski kirab dimulai sekitar pukul tiga sore, ribuan warga sudah memadati lapangan sejak pukul satu siang.

Mengutip dari Gudeg.net, Saparan Bekakak adalah upacara selamatan yang pernah diperintahkan oleh Pangeran Mangkubumi. Upacara tersebut diadakan setiap Safar, bulan kedua dari tahun Hijriah. Hingga kini, upacara tersebut rutin dilakukan setiap tahun.

Senada dengan pemaparan Gudeg.net, Bambang Cahyono, Ketua Panitia Saparan Bekakak 2019, menegaskan upacara tersebut sudah menjadi tradisi dan rutin diadakan setiap tahun. Ia juga menjelaskan bahwa Saparan Bekakak telah mendapat Surat Pencatatan Inventarisasi Kekayaan Intelektual Komunal (KIK).

Lebih lanjut, Bambang mengatakan tradisi Saparan Bekakak hanya ada di Gunung Gamping. Menurutnya, antusias peserta maupun penonton dari berbagai kelompok usia juga selalu mengalami peningkatan setiap tahun. 42 kelompok kesenian juga ikut memeriahkan Saparan Bekakak 2019.

“Banyak sekali anak muda (ikut-red), khususnya dalam acara kirab budaya ini. Apalagi sekarang trennya ogoh-ogoh,” jelas Bambang.

Bambang berharap tradisi yang telah rutin digelar tiap tahunnya dan merupakan warisan leluhur dilestarikan dan dijaga eksistensinya oleh generasi muda. Menurutnya, tradisi ini juga merupakan wadah warga untuk menuangkan aspirasi kesenian.

“Mari kita lestarikan budaya tradisional, lestarinya budaya ini merupakan tanggung jawab kita,” pesan Bambang

Seorang peserta yang juga anggota Bregada Singo Dahono, prajurit keraton, bernama Sugiharto mengaku sudah tiga kali mengikuti Saparan Bekakak. Selain Sugiharto, di tahun ini juga ada tujuh belas kelompok bregada dan ribuan warga lainnya memadati lokasi kirab budaya Saparan Bekakak.

“Antusias warga selalu luar biasa. Ini kali ketiga kami mengikuti kirab Saparan Bekakak dengan motivasi melestarikan dan membudayakan Bregada Rakyat Mataram, Yogyakarta,” terang Sugiharto.

Oksi, warga yang mentonton upacara tersebut, mengaku baru pertama kali melihat kirab Saparan Bekakak. “Saya tertarik melihat karena di Purworejo tidak ada tradisi Saparan Bekakak seperti ini,” ucap Oksi.

Seorang penonton lain, Subadi mengatakan sangat senang menyaksikan kirab Saparan Bekakak. Tradisi budaya lokal, menurutnya, harus terus dilestarikan oleh siapapun tak terkecuali anak-anak muda.

“Sudah sepuluh tahun saya selalu menyaksikan Saparan Bekakak, hari ini saya mengajak cucu untuk mengenalkan budaya tradisional,” ujur Subadi.

Reporter: Dimas Alfi Aji Chandra (Magang)

Redaktur: Sidra