110 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com– Warga di Kampung Bumen, Kotagede, Yogyakarta, mengadakan Festival Srawung Kampung, Sabtu (26/10) lalu. Acara dimulai dari siang dan puncaknya, warga Bumen menampilkan tarian kolosal bertema Babad Bumi Mataram.

Tarian ini menceritakan sejarah Mataram di Kotagede dan Raja Panembahan Senopati. Cerita drama tari atau sendra tari ini dimulai dari keberhasilan Panembahan Senopati membunuh Arya Penangsang kemudian diberi hadiah Bumi Mataram yang wujudnya masih Alas Mentaok.

Beberapa penggal cerita juga diangkat dalam drama secara spesifik terkait peristiwa penting yang dialami Panembahan Senopati. Sebut saja, cerita tentang Panembahan Senopati ketika bertapa di Sungai Opak. Peristiwa tersebut sering disebut Topo Ngeli. Setelah bertapa, Panembahan Senopati lantas berjalan di atas sungai tersebut hingga laut selatan dan bertemu Kanjeng Ratu Kidul.

Anter Asmorotedjo, pembikin konsep tarian itu, mengatakan bahwa 95% tarian tersebut dibawakan oleh warga asli Kampung Bumen, mulai dari anak-anak sampai orang tua.

“Kami terinspirasi untuk mengangkat cerita tentang Kotagede itu sendiri,” tutur Anter.

Lebih lanjut, Anter juga mengatakan bahwa Kotagede merupakan kota tua yang sudah ada sebelum Yogyakarta berdiri. Karenanya, Kotagede memiliki sejarah tersendiri dan layak untuk diangkat ke dalam suatu karya seni.

Festival Srawung Kampung dimulai pada pukul 12.30 WIB, dilanjutkan dengan karnaval flashmob berupa  tarian kolosal di Jalan Karanglo. Setelahnya, acara pementasan diadakan lagi pada malam hari, termasuk pentas Babad Bumi Mataram. Festival Srawung juga diramaikan dengan berbagai bazar dan sarasehan budaya.

Edi Bariyatno, Ketua Umum Panitia Festival Srawung Kampung, berharap Festival tersebut, khususnya pentas Babad Bumi Mataram, memberi pelajaran kepada masyarakat las, seniman, dan  pengusaha seni.

Reporter: Nindi Rizka Amalia (Magang)

Redaktur: Sidra