169 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com– “Hari ini tidak ada daulat rakyat. Hanya ada daulat tuanku,” terang JJ Rizal dalam diskusi publik bertajuk Daulat Rakyat di Tengah Oligarki Kuasa di Aula Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Jumat (8/11).

Menurut Rizal, kedaulatan rakyat saat ini belum ideal. Masih berputar dalam praktik demokrasi transaksional. Karena, kekuasaan masih terpusat pada oligarki, pemilik modal, dan elite politik.

Hal senada dijelaskan Bachtiar Dwi Kurniawan, Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah, mengatakan pemerintahan Indonesia masih dikuasai oleh pemilik modal dan elit politik. Alhasil, melahirkan demokrasi transaksional yang telah lama menjamur di Indonesia.

“Demokrasi seperti inilah yang juga mencederai kedaulatan rakyat,” jelas Bachtiar.

Demokrasi transaksional, kata Bachtiar, adalah transaksi antara rakyat dan pemerintah dalam proses berdemokrasi. Dia mencontohkan praktik pemilu: elit politik dapat dengan mudah memberi keuntungan instan pada rakyat, dengan jaminan politikusnya juga mendapat keuntungan.

Bachtiar mengungkapkan bahwa praktik demokrasi transaksi seperti itu tidak sehat. Secara tidak langsung, demokrasi tercederai dan rakyat tidak memiliki kehendak. “Sehingga, rakyat tidak berdaulat,” terangnya.

Lebih lanjut, Bachtiar menjelaskan kondisi ini terjadi bukan karena hanya satu pihak saja. Bukan hanya elit politik, tapi juga rakyanya. Sebab, kata Bachtiar, saat ini rakyat juga tidak sedang dalam posisi idealnya sebagai rakyat. Padahal, dalam demokrasi, rakyat perlu benar-benar menyuarakan aspirasinya.

“Jadi, rakyat kita saat ini memang sedang lapar dan butuh asupan. Inilah tantangan kita sebagai pemuda untuk meluruskannya,” tegas Bachtiar.

Reporter: Vika Nailul Rohmi (Magang)

Redaktur: Hedi

Sumber foto: http://kritikpedassektorpublik.blogspot.com