197 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Maestro gamelan digul Pontjo Pangrawit dulu dibuang ke Digul, kini dihilangkan dari sejarah

Lpmarena.com- Pahlawan kemerdekaan sekaligus maestro musik Jawa dan gamelan digul Ponjto Pangrawit merupakan salah satu korban kekejaman kolonial yang hilang pada 10 November 1965. Namun nama Ponjto sendiri kurang beken karena dianggap memiliki kaitan dengan Partai Komunis Indonesia.

“Bicara mengenai Ponjto Pangrawit, tidak banyak yang  tahu bahkan di kotanya sendiri, Solo. Nama Ponjto kurang dikenal dibandingkan para karawitan lain seperti Mbah Moelyo”   ujar Yunanto Sutyastomo dari Soeracarta Heritage Society dalam diskusi di Katakultur, Minggu (10/11).

Pontjo lahir di Surakarta 1893 dengan nama asli Slamet Soekari. Sejak umur 12 tahun dia sudah belajar tentang musik jawa dan menjadi abdi dalem karawitan keraton. Hingga pada 1912 Slamet dianugrahi gelar raden dan memilih nama Ponjto Pangrawit. Pangrawit sendiri berarti peniaga. Dia lebih memilih nama Pangrawit daripada gelar raden karena tidak ingin terlalu dekat dengan feodal.

Semasa muda, Ponjto aktif dalam diskusi-diskusi politik yang menyebabkannya dituduh komunis. Penuduhan itu juga disebabkan kakak Ponjto, seorang tokoh pergerakan rakyat kecil di Solo.

Pada 1926 Pontjo dibuang ke Tanah Merah, Digul karena terlibat gerakan anti kolonialisme. Hal tersebut diungkapkan Margaret J. Kartomi dalam buku Gamelan Digul di Balik Sosok Seorang Pejuang.

Di Digul, Pontjo lantas membuat alat musik gamelan dari kaleng bekas dan rantang yang kemudian terkenal dengan sebutan gamelan digul.

Ponjto dibebaskan tahun 1932. Setelahnya, dia kembali aktif menjadi seorang seniman dan mengajar di0 sebuah konservatori Karawitan di Solo. Pada 1950, Ponjto dianugerahi gelar Pahlawan Perintis Kemerdekaan oleh Soekarno.

Hingga pada 10 November 1965 Ponjto hilang. Kehilangannya diduga karena dia termasuk bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI), kendati belum jelas bagaimana keterlibatan Ponjto dalam PKI. Yang diketahui, dia hanya salah seorang anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

Sejarawan Universitas Negri Yogyakarta Kuncoro Hadi menerangkan posisi Ponjto dalam Lekra sama seperti  posisi Wikana: Tidak aktif juga tidak diaktifkan.

FX Domini BB Hera dari Peneliti Pusat Budaya dan Laman Universitas Brawijaya mengungkapkan pahlawan Ponjo Pangrawit penting diangkat kembali, mengingat nasionalisme  kita tidak terlepas dari sistem kebudayaan. 

“Nasionalisme kita sering dianggap nasionalisme politik. Padahal nasionalisme adalah sebuah sistem kebudayan. Maka dari itu pahlawan-pahlawan kebudayaan yang mengalami deviasi seperti Ponjto Pangrawit perlu kita angkat kembali,” jelas Hera

Senada dengan Hera, Hedi Kuncoro menyebut Pontjo perlu diangkat kembali adalah karena dia termasuk bagian dari pahlawan perintis kemerdekaan yang jarang terdengar namanya.

“Ponjto termasuk bagian dari pahlawan perintis kemerdekaan dan narasi tersebut masih asing dan tidak pernah dibicarakan,”  papar Kuncoro.

Reporter: Atikah Nurul Ummah (Magang)

Redaktur: Sidra

Sumber foto: Annette Bowie/Arsip Departemen Musik Universitas Monash/historia.id