107 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com– Saat ini, bulu tangkis menjadi olahraga yang sangat populer dan digemari masyarakat Indonesia setelah sepak bola. Namun, ada sejarah panjang di balik popularitas itu. Hal tersebut diungkapkan oleh Ravando Lie, Kandidat Doktor Melbourne University, dalam acara diskusi bulanan Rabu lalu (19/11). Diskusi tersebut diadakan Kinara Vidya, komunitas yang bergerak di bidang penelitian dan pelestarian sejarah, seni, dan budaya.

Pada awal perkembangannya di masa Hindia Belanda, bulu tangkis belum populer, meskipun banyak surat kabar yang mendokumentasikan olahraga tersebut. Bahkan, bulu tangkis termasuk olahraga yang tidak diperhitungkan. Ravando menceritakan, dahulu ada seorang pebulutangkis yang berprestasi gemilang di Indonesia bernama Tan Joe Hok.

Tan Joe Hok tumbuh besar di keluarga berkecukupan. Dia suka bermain bulu tangkis setelah ayahnya membakar semak belukar di depan rumahnya dan menjadikannya lapangan bulu tangkis. Namun, Joe Hok tak mampu membeli raket.

“Dia menggunakan bakiak milik ibunya, menggunakan shuttlecock bekas untuk bermain bulu tangkis,” papar Ravando

Saat mulai beranjak dewasa, Joe Hok bekerja menjadi anak gawang dan penghasilannya digunakan membeli raket pertamanya seharga Rp. 120,00. Dia pun memulai karir sebagai pebulutangkis di pertandingan pasar malam hingga pebulutangkis ternama Lie Tjo Kong melirik bakatnya. Tjo Kong lantas mengajak Joe Hok bergabung dengan salah satu klub bulu tangkis di Bandung. Karir Joe Hok melejit.

Pada tahun 1958, Joe Hok mengikuti kejuaran Piala Thomas Cup di Singapura. Ia bertandang bersama temannya, yaitu Ferry Sonneville dan Eddy Yusuf. Tahun itu adalah kali pertama Indonesia mengikuti kejuaraan dan karenanya tidak diunggulkan.

Namun, Indonesia dapat mencapai partai final dan bertemu dengan Malaysia yang menjadi favorit juara saat itu. Joe Hok yang awalnya dianggap “anak bawang” malah justru menjadi pebulu tangkis favorit karena tidak terkalahkan sejak babak kualifikasi. Dia lantas dijuluki “manusia besi” dan dinobatkan menjadi pebulutangkis terbaik dunia pada tahun 1958.

Masyarakat menyambut kepulangan Joe Hok dari Singapura. Masyarakat bahkan membuka sumbangan untuk atlet yang memenangkan kejuaraan Thomas Cup karena Persatuan Bulu Tangkis Indonesia (PBSI) tidak terlalu aktif saat itu.

Pada tahun 1959, Joe Hok mendapatkan beasiswa untuk belajar di Texas, Amerika Serikat dan beberapa kali diundang oleh Presiden Soekarno ke istana. Namun konflik muncul di masa Orde Baru. Joe Hok didiskriminasi ketika pemerintah tahu bahwa dia adalah keturunan Tionghoa.

Mengutip tirto.id, negara berperan dalam menyulut kebencian terhadap etnis Tionghoa. Sebut saja melalui terbitnya Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor 06 Tahun 1967, negara mengatur penyebutan etnis “Tionghoa” sebagai “Cina”. Alasannya, kata “Cina” dianggap lebih dikehendaki untuk dipergunakan oleh umumnya Rakyat Indonesia. Dengan terbitnya surat edaran tersebut, negara menerangkan identitas dan pembeda-bedaan rasial antar etnis Tionghoa dan etnis lain.

Reporter: Fariz Azhami Ahmad (magang)

Redaktur: Sidra

Sumber foto: museummiliterku.blogspot.com