110 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com– Teater Saba Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga mementaskan teater berjudul Jangan Menangis Indonesia di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (23/11) lalu.Pementasan ini mengadopsi naskah karangan Putu Wijaya dengan judul yang sama, ditulis pada tahun 2005.

Pementasan itu berusaha mengangkat permasalahan masyarakat dan negara yang hingga kin tak kunjung usai. Naskah aslinya pun lahir sebagai kritik sosial atas keadaan negara saat itu.

“Sebenarnya itu naskah Putu Wijaya yang dibuat pada tahun 2005 untuk merespon keadaan politik pada tahun itu,” Jelas Sylvia Maharani selaku Pimpinan Produksi.

Pementasan tersebut juga menampilkan pengulangan tragedi-tragedi 30 tahun yang lalu. Pada saat itu pemerintah bertindak sewenang-weneng tepatnya di era orde baru sampai reformasi. Para penguasa seolah-olah memperlakukan rakyatnya dengan semena-mena. Rany menganggap masa itu tidak ada keadilan dan kebebasan. Akan tetapi, yang ada hanyalah kesewenang-wenangan pemerintah, ketimpangan, bahkan HAM pun dipermainkan.

“Menurut saya sendiri, kehadiran Munir dan Marsinah dalam naskah Putu Wijaya itu untuk menggambarkan negara ini tidak pernah mau belajar, tidak pernah mau mendengar kritik,” kata Abdillah Rakinten, Ketua Teater Saba sekaligus aktor, senada dengan Rani ketika ditemui ARENA.

Pada pertengahan pentas, tokoh Soekarno dimunculkan di tengah perdebatan penamaan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Teater tersebut lantas menceritakan arti dari nama dasar negara tersebut.

Adapun, teater tersebut juga mengangkat pergulatan tentang kebenaran yang datangnya dari  golongan kiri dan kanan. Nabil Muhammad, aktor yang menjadi Dalang pada pementasan tersebut berkata, “Siapa bilang kebenaran tidak bisa datang dari kiri? Bukan saja dari kiri. Dari tengah, dari belakang, dari atas dan dari bawah juga bisa. Yang namanya kebenaran, darimanapun datangnya, dari pantat kambing juga tetap saja bernama kebenaran,”

Pementasan itu tidak hanya mempertontonkan adegan demi adegan, melainkan juga menyampaikan sebuah pesan. Rakin, sapaan Abdillah Rakinten, mengatakan naskah Putu Wijaya pun dimodifikasi dalam pentas tersebut untuk menguatkan pesan yang akan disampaikan.

 “Pementasan ini bukan hanya sekadar hiburan. Kami tidak ingin penonton hanya duduk menonton dan kemudian melupakan apa yang pernah dilihatnya,” tambah Rakin.

Reporter: Rita Dwipurnamasari (Magang)

Redaktur: Sidra