188 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Saudara empatlah yang melindungi dan menjaga kita sebagai manusia.

Lpmarena.com- 09.00 WIB, pengecekan tiket pementasan Pancer Ing Penjuru dibuka. Satu per satu penonton berdatangan dan memperlihatkan tiketnya. Tiket itu dibeli jauh hari sebelum malam pementasan. Beberapa juga baru membelinya di loket yang telah disediakan panitia.

Pancer Ing Penjuru merupakan pentas produksi XXXIV Teater Eska 2019. Ia dipentaskan di dua kota: Yogyakarta dan Surabaya.

Di Yogyakarta, pentas ini digelar dua malam beruntun, 25 dan 26 November, di Gelanggang Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Sedangkan di Surabaya, akan dilangsungkan di Auditorium UIN Sunan Ampel pada 14 Desember 2019.

Selang beberapa menit menunggu, pintu Gelanggang dibuka. Sontak, dalam keremangan, mata penonton tertuju pada bola besar di atas panggung utama. Bola itu adalah ilustrasi Bumi.

Pintu Gelanggang kembali ditutup pertanda penonton telah masuk keseluruhan, dan Pancer Ing Penjuru siap disajikan.

Sepercik api dari mercon tiba-tiba melayang ke arah panggung utama diiringi suara dentuman petir dan badai. Mercon itu berdesing keras hingga membuat beberapa penonton kaget dan refleks menutup telinga. Belakangan saya tahu bahwa mercon itu meluncur melalui kawat besi yang dibentangkan dari belakang penonton ke panggung utama.

Lampu menyala seketika menerangi panggung utama. Bola yang sebelumnya samar dipandang, kini jelas terlihat. Ada pelakon di dalamnya. Namanya Khaleef.  Kata Rahmat Hidayah, sutradara Pancer ing Penjuru, bola tersebut sebagai simbol alam dan Khaleef sebagai khalifahnya. Di dalam bola itu, Khaleef hidup hingga alam mulai gaduh.

Kegaduhan itu membikin Khaleef resah. Kerusakan dimana-mana membuat Khaleef merasa tidak lagi mampu mengemban amanahnya sebagai khalifah di bumi. Khaleef butuh teman dan keseimbangan.

“Wahai engkau yang memilihku. Sesungguhnya aku tidak mampu sendirian. Aku rindu penjaga jantung, yang membantuku tidak mati kekeringan dalam kegelapan. Aku rindu benang cahaya itu, yang selalu mendekapku, membimbing dahaga dan gelisah ini,” begitu potongan dialog Khaleef dengan lakon bernama Malakut.

Karakter Malakut di sini sebagai malaikat. Dalam proses perjalanan itu, Khaleef mulai mencari dan bertanya tentang kediriannya. Dia merasa sendirian dan mulai mencari “sesuatu” di luar diri yang bisa membantunya.

Khaleef terus mengeluh bahkan merasa terpukul hingga Malakut berkata, “Kenapa kau sangat terpukul? Kembalilah pada kata dan dongeng. Pada firman yang menjadi daging. Lubang di separuh dirimu itu,”

Tempat kembali yang dimaksud Malakut adalah sedulur papat limo pancer, yang dalam naskah disebut Saudara Empat, sebagai penjuru yang memberi keseimbangan.

Sedulur papat limo pancer berarti empat saudara dan yang kelima sebagai pusatnya. Keempat saudara itu adalah air, ketuban, ari-ari, darah, dan pusar. Istilah ini merupakan filosofi jawa yang tercantum dalam Kidung Marmati Sunan Kalijaga.

Kata Habiburrachman, penulis naskah, dialog di atas memang terinspirasi dari Sunan Kalijaga. Dia menjelaskan konsep sedulur papat limo pancer adalah laku dalam membangun relasi alam dan manusia.

“Kami sangat berutang kepada Sunan Kalijaga,” jelas Habib pada saat sarasehan.

Karena dengan teks-teks Sunan Kalijaga, tambah Habib, jadilah naskah Pancer Ing Penjuru. “Dalam penggalian isu, kami menemukan jejek-jejak Kalijaga dengan isu-isu lingkungan,” jelas Habib.

Lebih lanjut, Habib menyebutkan kerusakan alam sekarang ini karena ulah manusia. Penyebabnya, karena manusia tidak memahami dirinya sebagai pancer atau pusat. Alhasil, manusia cenderung abai terhadap yang di luar dirinya.

Dalam naskah Pancer Ing Penjuru, papat limo pancer disebut sebagai Saudara Empat.

“Saudara Empat inilah yang melindungi kita dan menjaga kita,” tutur Habib.

Kata Habib, segala yang lahir adalah penjaga pancer. Karenanya, lanjut Habib, keseimbangan alam bisa tercapai dengan konsep sedulur atau persaudaraan. Manusia mestinya memperlakukan segala hal sebagai saudaranya.

Pada petualangan terakhir, Khaleef bertemu dengan Balya. Ia berdiri lebih tinggi di atas Khaleef. Tempat berdiri Balya itu sebagai simbol kedudukannya yang lebih tinggi dari Khaleef.  

Terjadilah dialog di antara mereka. Khaleef bertanya siapa sebenarnya Balya. Tapi, Balya justru mengaku telah berbicara pada Khaleef selama berpuluh-puluh tahun.

 “Aku tidak mendengar apa-apa,” kata Khaleef sedikit mendongak ke Balya setelah mendengar pengakuan Balya.

“Sejak awal kau hanya mendengar dirimu sendiri. Setiap yang di bumi dan di langit berbicara padamu, kau justru membicarakan dirimu sendiri. Jika hanya mendengar dirimu sendiri, bicara tentang dirimu sendiri, di sepanjang waktu dan pengembaraan, kau hanya mendengarkan kesalahan. Lihatlah sekelilingmu, kau tak melihat apa-apa. Padahal mereka berdiri menunggu,” sahut Balya

Perkataan Balya kepada Khaleef mengisyaratkan keegoisan pada diri Khaleef. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Hanya mementingkan dirinya sendiri. Tak menghiraukan alam sekitarnya dan mengabaikan lingkungan sebagai saudaranya.

“Aku tidak tahu kalau mereka menunggu,” Khaleef berkelit.

“Kau memandang dengan kebutaan, mendengar dengar ketulian,” timpal Balya.

Padahal, menurut Balya, Khaleef adalah saudara dari segala yang lahir dan tumbuh, segala yang ada dan tiada. Mereka adalah saudara Khaleef sejak awal mula semesta hingga akhirnya nanti. ”Rumput, primata, tikus, binatang buas, pepohonan, sungai, tanah, udara bahkan sesuatu yang tidak pernah kau temui langsung,” sambung Balya.

Khaleef bergeming. Pandangannya hanya tertuju ke arah Balya.

Balya menambahkan, “Mereka [saudaramu-red] yang menjagamu di segala alam. Dan itu semua sudah kau rusak karena sifat tamakmu. Kau hancurkan. Kau habisi. Sekarang kau melakukan perjalanan untuk meminta pertolongan pada mereka karena hidupmu sendiri terseret angkara murka, bencana, kepunahan. Kau akan meminta pertolongan pada saudaramu yang kau luluh lantakkan sendiri.”

Kritik Relasi Positivistik Manusia Terhadap Alam

Dialog awal Khaleef dan Balya menggambarkan relasi positivistik manusia dengan alam. Manusia hanya berpikir untuk dirinya sendiri, dan alam sebagai saudaranya hanya dijadikan objek.

Menurut Habib, krisis lingkungan saat ini disebabkan oleh pola pikir antroposentris yang cenderung positivistik. Pola pikir itu menganggap manusia dan alam sebagai entitas terpisah. Alhasil, manusia selalu berhasrat untuk mengusai dan mengendalikan alam. Sebaliknya, alam akan selalu menjadi objek keberingasan manusia.

“Manusia selalu memposisikan dirinya sebagai subjek terhadap alam,” Habib menambahkan.

Kata Habib, pola semacam inilah yang melahirkan eksploitasi. Ia memunculkan konsep kapitalisasi lingkungan serta memantik ketamakan manusia terhadap alam.

“Akibatnya kini, laut menghitam, karang mati, ikan memakan plastik, tanah tandus, air mengering,” begitu yang tertulis dalam sinopsis Pancer Ing Penjuru.

Relasi positivistik inilah, lanjut Habib, yang ingin dikritik Pancer Ing Penjuru. Menurutnya, relasi manusia dengan alam semacam itu tidak pas diberlakukan di Nusantara. Karena, melalui Sunan Kalijaga, kita memiliki lokalitas sendiri dalam membangun hubungan dengan alam.

Sedulur papat limo pancer ini sebagai tawaran baru dalam membangun relasi manusia dengan alam,” jelas Habib saat menjelaskan tentang naskah Pncer Ing Penjuru.

Melalui tawaran baru ini, kata Habib, kita mencoba membangun pola pikir bahwa bukan manusia yang menjaga alam. Tapi, manusia sebagi pancer harus harmonis dengan saudaranya, yakni alam, untuk menciptakan keseimbangan dalam hidup.

“Empat saudara itulah yang menjaga kita. Elemen-elemen itulah yang melindungi kita,” tambah Nawawi, juga bertindak sebagai penulis naskah Pancer Ing Penjuru.

Semangat lokalitas ditegaskan Rahmat. Katanya, “Pada saat penggarapan, saya sengaja minta hal-hal lokalitas tercantum dalam pementasan.”    

Reporter: Hedi

Redaktur: Sidra

Fotografer: Fidya Laela Sarie