292 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Gustiana Sandika*

Lpmarena.com – Intoleransi beragama belakangan ini menjadi isu yang banyak dibahas di media sosial, salah satunya Twitter. Aku yang baru dua bulan bermain Twitter cukup tegang-tegang nikmat menyaksikan argumen berseliweran dan terkadang bikin mikir dan nanya soal keyakinan sendiri.

Perdebatan antara penganut agama, pecinta budaya lokal, sampai yang mengaku tidak beragama sekalipun lengkap di sana. Supaya tidak ada informasi yang terlewat, sengaja aku follow akun-akun yang mewakili tiap kubu.

Sambil rebahan, kubaca tweet satu per satu. Jadi begini …

Agama-agama minoritas merasa Islam terlalu ikut campur dalam segala hal, sampai akhirnya mengganggu hak agama tersebut. Minoritas merasa Islam di Indonesia terlalu egois, fanatik, dan seakan tidak mungkin akur dengan agama lain.

Namun, menurutku, umat Islam di Indonesia ini terlalu ketakutan: takut dosa kalau menghargai hari raya agama lain; takut murtad kalau mengucapkan salam ala agama lain; takut kristenisasi, bid’ah, dosa, kiamat, neraka, neraka, dan neraka. Hingga akhirnya, karena terkurung oleh hukum-hukumnya sendiri, kehidupan sosial mereka dengan umat berkeyakinan lain renggang.

Contoh kasus yang sempat ramai adalah pelarangan pengucapan salam ala agama lain. Apalagi ditambah embel-embel “… nanti Allah murka” dari orang yang harusnya bisa lebih bijak. Ungkapan dengan model begitu jelas akan dikritisi agama lain, bahkan dari kelompok muslim sendiri, baik dari segi etika sampai ke teologisnya.

Di sisi lain, muslim, golongan tertentu, malah menganggap sebaliknya. Mereka juga merasa tidak mendapatkan keadilan, lalu menyebutkan muslim-muslim di negara lain yang ditindas oleh suatu agama juga. Jika non muslim di bawah pimpinan sistem Islam, akan adil, katanya. Kalau sebaliknya, Islam pasti tertindas.

Tidak lama kemudian, muncul berita pembubaran ritual keagamaan Hindu dan Buddha di Bantul, Yogyakarta.

Walau pada akhirnya, disebutkan kalau pembubaran itu berkaitan dengan perebutan sebuah situs di sana, dan bukan soal pelarangan agama atau kepercayaan tertentu, tetapi isu yang telanjur bergulir di Twitter adalah “intoleransi”.

Esok harinya, tanggal 13 November, insiden bom bunuh diri kembali terjadi di Mapolrestabes Medan. Disusul pernyataan MUI soal pelaku bom tersebut tidak memiliki agama, walau di KTP pelaku tertulis Islam. Lagi, ungkapan yang seakan ingin cuci tangan itu jadi bahan perdebatan hingga cacian.

Sekitar dua minggu lebih bolak-balik baca Twitter, aku semakin sadar diskusinya mulai gak jelas. Sumber berita tidak terlalu penting lagi. Ada berita yang keluar mengenai isu agama, langsung dibagikan, diperdebatkan, dan berakhir dengan logical fallacy (kesesatan berpikir).

Perdebatan berbasis argumen yang jelas dapat dihitung jari. Sisanya hanya menyalahkan, pengalihan topic, bahkan seringkali berakhir menjadi perdebatan teologis yang tidak sehat, berupa hujatan atas keyakinan.

Isu intoleransi Islam di Indonesia seakan tidak ingin dibiarkan padam. Selalu ada unggahan baru setiap harinya, kebanyakan soal pengalaman agama minoritas dan penganut aliran kepercayaan. Apalagi didukung oleh isu sertifikasi halal yang masuk ke dalam segala hal, termasuk fasilitas umum. Isu sertifikasi tersebut sebenarnya isu lama, tetapi dipanggil kembali karena suasananya mendukung.

***

Saat aku kembali membuka Twitter, isu intoleransi beragama agak sulit ditemui. Tertutupi oleh banyak quotes yang disusul ucapan selawat. Hari itu, 17 November 2019, merupakan Maulid Nabi. Malah, rakyat Twitter dibuat adem oleh postingan tentang umat Hindu di Bali yang ikut merayakan Maulid.

Twitter pun dipenuhi oleh retweet atas fenomena adem tersebut. Ada pun yang masih berdebat, paling mentok membandingkan toleransi umat Hindu di Bali, dengan umat Islam di Bantul.

Karena tidak ada permasalahan, aku pun menutup aplikasi Twitter, lantas membalas pesan dari teman SMA yang menanggapi unggahan story WhatsApp-ku. Awalnya hanya menertawakan logika “toleransi” yang cacat. Soal minoritas yang harus menghargai mayoritas, bukan sebaliknya. Ya… kesan minoritas tertindas terlihat jelas kalau logika toleransi ini tetap dipertahankan.

Zildjian, teman SMA-ku, menceritakan pengalaman temannya. Setelah larut dalam obrolan soal intoleransi, dia pun mengatakan kalau orang Islam sendiri bisa jadi alasan kenapa seseorang pindah agama/murtad. Dari cerita temannya, seseorang pindah agama setelah dihakimi keluarganya, hanya karena tidak bisa membaca Al-Quran.

Kekecewaan terhadap perilaku orang sekeyakinan memang sering terjadi, sih. Bahkan, ungkapannya banyak ditemui dalam kolom komentar suatu postingan soal agama.

Setelah sehari penuh tidak membuka Twitter, di pagi hari, ketika asyik bermain gim, gawaiku bergetar singkat, tanda notifikasi masuk. Aku buka Twitter dan disambut postingan akun @ayusentris2 yang sekarang tidak bisa dibuka.

Postingannya telah dihapus. Kurang lebih, seingatku, ia menulis begini: “Pantas Umat Hindu di Bali baik-baik. Ternyata mereka punya niat lain”. Di bawah cuitan itu dituliskan tautan menuju berita luar negeri, soal konflik di Kashmir, India. Di sana, dikabarkan umat Hindu banyak memperkosa perempuan muslim. Setelah ku lihat, berita tersebut diunggah sekitar tahun 2015.

Karena postingan itu, bahasan intoleransi agama ramai lagi.

Owalah, masih pengen ribut to?” gumamku.

Ilustrasi: Firdan Haslih Kurniawan

*Gustiana Sandika, sering disapa Dika. Kuliah di UIN Sunan Kalijaga Prodi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin. Sehari-hari mojok di Student Center, ngurusi Litbang-nya LPM Arena.