504 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

“Ya, kenyataan memang seperti ini. Pendidikan sudah digunduli secara sistematis!”

Sekolah bukan sekadar tempat medapatkan ijazah, tetapi sekolah merupakan tempat kita hidup dan tumbuh mempelajari hal-hal yang dirasa perlu diketahui. Seperti, belajar berorganisasi dan menghargai keanekaragaman budaya, suku, dan agama.

Namun, kita perlu memilah kembali pengertian kata sekolah. Sebab pemuaian makna sekolah, dilihat dari tipologinya, membuat semua negara di atas bumi ini perlu mengatur orang-orang yang “pintar” melalui selembar kertas ijazah keluaran sekolah. Lembar ijazah seolah-olah bagai kertas mantra yang siap digunakan untuk mengusir kebodohan dan kemiskinan.

Membaca buku Sekolah Itu Candu karya Roem Topatimasang membuat kita sadar atas kenyataan yang sudah parah. Melalui jenjang pendidikan, ketimpangan yang sangat jomplang terlihat begitu nyata. Sekolah seolah membius masyarakat dengan kapitalisme yang tak kenal malu.

Krisis yang melanda negeri ini melahirkan momentum untuk merefleksi dan melakukan dekonstruksi atas kemapanan dunia pendidikan. Lewat buku ini, Roem, sebagai penulis, terang-terangan menggugat kemapanan sistem pendidikan yang berlangsung di Indonesia.

Sejak dahulu sudah ditanamkan sebuah prinsip dari orangtua bahwa “sekolah untuk menjadi pintar, untuk memperbaiki nasib, untuk mempunyai pasangan yang pintar, dan sebagainya”. Memang, kualitas dan kuantitas seseorang kini dinilai melalui seberapa tinggi dia memasuki jenjang pendidikan. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang dia lalui, dia akan semakin dihormati dan dapat menduduki jabatan yang lebih tinggi daripada orang yang hanya tamatan SD atau SMP. Waktu yang cukup lama, paling tidak dua belas tahun,  untuk  sekadar datang dan duduk mencatat atau mendengarkan guru berceramah di depan kelas.

Pada awal pembahasan, buku ini menjelaskan asal mula istilah “sekolah”  berdsasarkan zaman Yunani Kuno dan kemudian dibenturkan dengan realitas yang terjadi di dunia pendidikan khususnya di Indonesia.

Seperti di suatu kecamatan kecil, tepatnya di tapal batas Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah berdiri bangunan sekolah yang lebih pantas disebut seperti bangunan penjara.

 Anak-anak dari kota kecil dan desa sekitarnya bersekolah di sana. Meski begitu, siswa yang berjumlah lebih dari seratus kepala ini diajar hanya oleh lima orang guru dari pemerintah dan tiga orang guru ‘sukarela’ yang mendapat upah sekadarnya dari orangtua murid.

Proses kegiatan belajar mengajarnya pun sangat berbeda. Pada hari Sabtu krida, diadakan kegiatan kerja bakti yang dilakukan sekolah untuk memperbaiki dinding, maupun pagar sekolah. Dan setiap musim panen raya, siswa membantu petani-petani sekitar untuk memanen padi. Sekolah mendapat sumbangan kecil-kecilan dari hasil panen yang kemudian hasil panen tersebut dijadikan bekal untuk rekreasi. Rekreasi yang dilakukan sekolah biasanya di hulu sungai yang disambi dengan kerja bakti lagi.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan sekolah pada zaman dahulu bertujuan untuk membangun jiwa-jiwa sosial murid dan menciptakan kesadaran untuk menjaga lingkungan sejak dini.

Beberapa tahun kemudian sekolah tersebut sengaja dirubuhkan. Sebagai gantinya, beberapa ratus meter dari sekolah itu, dibangun sekolah dengan kontruksi permanen dengan bahan bangunan sekolah yang kokoh. Dan itu bukan satu satunya, sekolahan mulai didirikan di berbagai titik.

Ciri khas sekolah mulai saat itu berubah: murid harus menggunakan seragam; murid wajib mengenakan sepatu ketika bersekolah. Saat di sekolah, mereka pun harus membawa  perlengkapan seperti alat alat tulis buatan pabrik.

Lalu, hari Sabtu krida pun tak ada. Yang ada hanyalah hari Jumat krida. Kegiatan yang dilakukan juga sangat berbeda, yaitu melakukan senam pagi dan pertandingan olahraga. Tanaman yang ditanaman di taman sekolah sudah berbeda, lebih dominan kembang dan nyaris tidak ada tanaman singkong, jagung, papaya, maupun mangga lagi. Sangat terlihat bahwa kerja bakti di taman memang bukan urusan sekolah lagi. Namun, sudah menjadi urusan tukang kebun sendiri.

Pembelajaran di sekolah sudah terpusat pada kegiatan belajar di dalam kelas dengan selingan bermain-main di taman. Kini mereka benar-benar “bersekolah”!

“Yaaa, Sekolah Rakyat kita memang sudah lewat, Bung”, ujar kawan lama sang penulis (hlm.87). Terlihat menyayangkan ditiadakannya lagi Sekolah Rakyat karena terjadi perbedaan yang sangat tajam dengan sistem pendidikan masa kini.

Di dalam bab itu, penulis teringat akan kisah seorang filsuf asal  Brasil, Paulo Freire. Ia merupakan tokoh pendidikan penuh misteri menyelimuti pemikiran pendidikannya. Penulis merasakan adanya persamaan sistem pendidikan yang dialami oleh dirinya dengan Paulo Freire. Dalam bukunya, Pendidikan Kaum Tertindas menyatakan terdapat tiga unsur pendidikan dalam hubungan yang dialektis, yaitu pengajar (sebagai subyek yang sadar), pelajar (sebagai subyek yang sadar), dan realitas dunia (sebagai obyek yang tersadari atau disadari)

Namun, dalam kenyataannya kedua hubungan dialektis ini tidak terdapat dalam sistem pendidikan selama ini. Sistem Pendidikan yang kita pakai selama ini adalah “Gaya Bank”, di mana pengajar merupakan subyek aktif dan pelajar merupakan subyek pasif. Pendidikan akhirnya bersifat negative, di mana guru memberi informasi yang harus ditelan mentah-mentah oleh murid.

 c. Sebaliknya, kini menjadi milik dan alat dari satu kekuatan raksasa yang—atas nama dan dengan label-label ‘demi pembangunan, industrialisasi, modernisasi, globalisasi—“ (hlm.88-89).

Dari salah satu cerita yang merupakan bagian dari buku ini, saya dapat mengetahui bahwa penulis menginginkan pendidikan dialogis. Di mana pendidikan dialogis dapat membuat murid mendapatkan ilmu lebih banyak dari sekadar menerima ilmu dari guru. Karena pendidikan dialogis mengedepankan belajar keterampilan dan berpikir secara mendalam sehingga akan menciptakan pemahaman baru dan menimbulkan pemikiran-pemikiran kritis.

Tidak hanya Paulo Freire. Buku ini juga memberikan informasi berbagai penggagas pendidikan, seperti Bylinsky dan Hirsch yang mencetuskan sekolah sebagai tempat untuk mengasah ilmu serta mempersiapkan para pelajar yang terpilih dan berbakat untuk menjadi pemimpin di masa depan.

Terlepas dari isi buku yang ada, buku dengan gaya deskripsi, narasi, dan eksposisi ini sangat menarik untuk dibaca. Selain menggunakan bahasa yang mudah dipahami, buku ini sangat bagus jika dikonsumsi oleh masyarakat akademis dan dikaji secara mendalam agar mendapat pembaharuan sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini.


Judul: Sekolah Itu Candu | Penulis: Roem Topatimasang | Penerbit: INSISTPress | Tahun Terbit: 2010 (cetakan ke-11) | Tebal Buku: 178 halaman | Peresensi: Aulia Iqlima V.