3411 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Ajid FM*

Pemilwa mengingatkan saya pada mantan pacar saya. Ia diliputi putus asa, merasa ditipu oleh hidup, dan percaya bahwa kemanapun arah hidup, ia selalu menyakitkan. Dia pernah bercerita bahwa hidup seharusnya menyenangkan, seharusnya hidup tidak menyakitinya. “Jika sampai lulus SMA saya tidak bahagia, saya akan mogok ibadah sampai batas waktu yang tidak ditentukan,” ia mengancam Tuhan.

Dia pernah berpikir untuk bunuh diri, tapi tidak jadi karena terkenang hal-hal kecil menyenangkan yang pernah terjadi sepanjang ia hidup. Kenangan mengendarai sepeda ontel roda empat, pujian saat mendapat nilai bagus, menstruasi pertama yang mengerikan sekaligus menyenangkan, cinta pertama, atau hal-hal lain yang tak bisa saya bayangkan sebagai lelaki.

Setelah itu, setidaknya, dia punya harapan untuk melanjutkan hidup, meski sementara. Ada hal kecil yang minimal membuktikan bahwa hidup tak seburuk yang dipikirkan.

Saya kira hal kecil itulah yang tidak ada dalam Pemilwa. Ia memperkuat alasan saya dan kebanyakan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga (Suka) untuk ramai-ramai mengabaikan Pemilwa dan setelahnya.

Kenapa saya menyebutnya Pemilwa dan setelahnya? Sebab Pemilwa bukanlah lebah jantan. Ia tak mesti mati setelah malam pertama karena testisnya lepas dan tertanam pada ovarium ratu lebah.

Selama kuliah, saya sudah melewati tiga Pemilwa. Artinya, Pemilwa esok adalah kali keempat. Dan yang saya temukan bukanlah pendidikan politik atau segala macam kata gantinya. Pemilwa memang sekedar birahi mengejar kekuasaan. Hak politik bukannya dirayakan publik, malah diprivatisasi geng tertentu.

Sebenarnya tanpa privatisasi pun, geng itu pasti menang. Karena kelompok besar dan berkuasa adalah geng tersebut. Kita lihat saja, mulai dari undang-undang Pemilwa, panitia pelaksana dan seterusnya adalah geng mereka.

Dalam hal ini kita tidak bisa melihat semua mahasiswa mempunyai akses yang sama. Benar kata tetua, bahwa mentalitas bangsa jajahan telah mendarah daging. Itu yang terlihat dalam Pemilwa UIN Suka. Minder dan tidak percaya diri, banyak massa tapi tak berpower. Yang terjadi kemudian adalah “seolah-olah demokrasi”.

Puluhan kali pun Pemilwa diadakan, tidak akan merubah apa-apa. Sebab, pengetahuan revolusioner jarang sampai ke pusat. Sementara pusat dibangun di atas pengetahuan yang sudah ada. Para penjaga orde yang lama sudah menentukan siapa yang akan mencapai pusat kekuasaan, dan cenderung menyaring pengganggu yang membawa ide-ide tidak konvensional.

Lantas sejauh mana pemerintahan hasil Pemilwa mewadahi ide revolusioner? Menduduki tampuk pemerintahan, dalam hal ini, sama seperti memegang palu sementara problematika kemahasiswaan adalah paku; memiliki kekuasaan besar ditangan Anda, membikin semuanya tampak seperti paku yang minta ditancap, atau undangan untuk ikut campur.

Orang-orang disekitar Anda tidak akan pernah melupakan palu yang Anda pegang. Nah sejauh mana palu ini menjadi berarti diantara ribuan paku. Apakah undangan untuk ikut campur barang sedikitpun benar-benar ada dalam kekuasaan di UIN Suka? Atau malah dibatasi dan dibuang seperti paku bengkok.

Tahun ini, kampus tidak memenuhi batas minimal UKT I sebanyak 5%. Dari total mahasiswa yang diterima sebanyak 4350 mahasiswa, hanya 1,52% yang masuk UKT I atau hanya 67 mahasiswa. Presentase UKT terbanyak berada pada golongan VII sebanyak 23,84% atau sebanyak 1027 mahasiswa.

Kita bisa membayangkan mahasiswa yang tidak mendapatkan UKT sesuai dengan kemampuan ekonomi keluarga. Ada yang harus kerja sejak menginjakkan kaki di semester 1, sangat dekat dengan utang piutang dan pegadaian. Bahkan, dalam beberapa kasus, mahasiswa memutuskan untuk tidak melanjutkan studi sembari mengutuk nasib.

Setahu saya penyelesaian hal di atas baru sampai audiensi. Entah bagaimana keberlanjutanya. Padahal Student Government idealnya mewadahi mahasiswa agar tidak langsung berhadap-hadapan dengan birokrasi yang berbelit.

UKT adalah contoh kecil persoalan yang harus diwadahi Student Government. Pun nasib panggung demokrasi, kampus rasa tempat parkir, kebebasan akademik, tidak adanya tempat diskusi yang nyaman, pelecehan seksual, dan seterusnya dan seterusnya.

Memang banyak yang harus diurus, dan semua itu tidak bisa diselesaikan dengan seminar. Jadi kalau tidak sanggup jangan sok-sokan mengaku perwakilan mahasiswa.

Parade Kebodohan

Saya merasa risih melihat perilaku peserta Pemilwa, partai politik mahasiswa. Keberadanya hanya menjelang pemilihan, dan setelah itu hilang entah kemana, lantas muncul lagi tahun depan. Begitu seterusnya sampai kiamat kurang dua hari.

Padahal, kehadiran partai politik adalah hasil koreksi atas perpolitikan kampus sebelum tahun 2000. Saat itu, pemilihan Student Government menggunakan sistem perwakilan kelas, semacam pemilihan pejabat oleh MPR.

Sistem tersebut lantas diganti di tahun 2002 karena hanya memenuhi kebutuhan praktis pemilihan. Tiap perwakilan kelas seperti homo homini lupus yang saling membunuh saja. Setiap kelas adu gengsi, tanpa membawa nilai apa-apa.

Berangkat dari hal tersebut, seharusnya masing-masing partai mempunyai isu besar yang hendak dibawa. Isu besar harus mewadahi aspirasi mahasiswa dan tentunya disuarakan sepanjang partai ada. jika demikian terjadi, maka logika posisi dan oposisi bisa terbentuk. Kritik-otokritik jelas menyehatkan perpolitikan kampus.

Mungkin orang akan menganggap saya apolitis, tapi terserah. Selama partai belum berkomitmen terhadap nilai dan isu tertentu, saya memilih untuk tidak memilih.

Dalam salah satu momen klimaks dari karya Monty Python, Life of Brian, kerumunan pengikutnya yang idealis keliru melihat Brian sebagai sang Mesias. Brian bilang, Kalian tak perlu mengikutiku, kalian tidak perlu mengikuti siapapun! Kalian harus berpikir untuk diri kalian sendiri! Kalian semua adalah individu! Kalian semua berbeda!”

Massa yang antusias berteriak serempak, “Ya kita semua individu! Ya kita semua berbeda!”.  Lewat itu Monty Python hendak menunjukan bahwa hari ini dunia dipenuhi individu yang rasional.

Maksud saya, andai partai mempunyai garis ideologi dan isu yang jelas, individu yang rasional akan bisa memposisikan dimana dia akan berpijak, dan siapa yang akan ia pilih.

Misalkan Partai A mengusung isu UKT dengan alasan Partai A mengusung isu besar tentang Revolusi Pendidikan, sementara Partai B menggemakan isu ruang publik, Partai C dengan isu gender, dan seterusnya. Partai benar-benar akan menjadi wadah aspirasi mahasiswa, dan saya yakin Pemilwa tidak lagi menjadi parade kebodohan.    

Dus, selama Pemilwa masih begitu-begitu saja, semua individu yang rasional akan ramai-ramai mengabaikanya. Dan selama itu pula Pemilwa masuk dalam kategori hal-hal yang paling menyebalkan dalam sejarah.

Mantan pacar saya yang satunya lagi mungin akan memasukkan Pemilwa pada list pertama hal-hal yang menyebalkan, lalu melabelinya dengan zodiak Taurus. Satu baris dengan polisi tidur, payung yang macet saat hujan, dan hal-hal yang menyebalkan lainya. Dia mempunyai kebiasaan itu.

Sayangnya mantan saya tidak bisa memasukan satu nama yang menyebalkan dalam listnya: Soeharto. Sebab, dia berzodiak Gemini.

Bjong, 10 Desember 2019

*Mahasiswa sipil