1280 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Odent Muhammad*

The opposite of love is not hate, it’s indifference.

The opposite of arts is not ugliness, it’s indifference.

The opposite of of faith is not hersey, it’s indifference.

And the opposite of life is not death, it’s indifference.

Sengaja saya memulai tulisan ini dengan mengutip perkataan Elle Wiesel  di tahun 1986 dalam sebuah  majalah di Amerika. Apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, kira-kira seperti ini artinya:

Lawan dari cinta bukanlah benci, lawan dari seni bukanlah keburukan, kebalikan dari iman bukan pula sikap bid’ah dan begitupun lawan dari kehidupan bukanlah kematian. Kebalikan dari itu semua adalah sikap tak peduli”

Hal ini penting saya utarakan agar Bung tak terlanjur bahagia dengan pacar Bung yang membatalkan niatnya untuk bunuh diri. Seharusnya Bung cemas saat ini. Gagalnya dia untuk bunuh diri bisa jadi karena dia telah masuk zonaambyarisme, di mana asin manis pahitnya perasaan telah kebal. Yah, sederhananya zona ambyarisme adalah zona di mana perasaan menjadi tidak penting.

Bisa jadi setelah ini akun Whatsapp Anda diblokir, atau dia telah berhenti mengikuti akun-akun media sosial Anda seperti Instagram dan Twitter. Coba Bung Direct Message (DM) ke akunnya. Akan berbahaya jika dia tidak membalas pesanmu. Biidznilah!

Sebagaimana Bung bilang, Saya kira hal kecil itulah yang tidak ada dalam Pemilwa. Ia memperkuat alasan saya dan kebanyakan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga (Suka) untuk ramai-ramai mengabaikan Pemilwa dan setelahnya.”

Bagi generasi ambyar, ketidakpedulian itu penting. Sebab, rasa tidak peduli memungkinkan biaya kuliah meningkat dan fasilitas kampus serupa neraka lantai tujuh. Dengan demikian, zona ambyar bisa terus dijaga koeksistensinya.

Para Ambyaris punya alasan untuk tidak membeli buku, punya alasan untuk tidak berdiskusi, dan mereka akan memilih membakar perasaan daripada membakar ban di jalan untuk memperjuangkan nasibnya. Apalagi berpartisipasi dalam Pemilwa. Generasi ambar tak sempat memikirkan hal itu, mereka sibuk menguras air mata di saku celananya.

Bung mengatakan, “Pemilwa bukanlah lebah jantan. Ia tak mesti mati setelah malam pertama karena testisnya lepas dan tertanam pada ovarium ratu lebah.”

Bung! Barangkali generasi ambyar adalah laron-laron yang mati dalam kesendirian, berkoloni, dan menyembah ratu dalam tanah. Kemudian menanti tibanya waktu pesta, yaitu musim hujan. Apalagi yang saya maksud kalau bukan hujan air mata. Kembali lagi saya menukil pernyataanmu:  

“Selama kuliah, saya sudah melewati tiga Pemilwa. Artinya, Pemilwa esok adalah kali keempat. Dan yang saya temukan bukanlah pendidikan politik atau segala macam kata gantinya. Pemilwa memang sekedar birahi mengejar kekuasaan. Hak politik bukannya dirayakan publik, malah diprivatisasi geng tertentu.”

Kita memang tak bisa banyak berharap dari generasi yang terpapar ambyarisme atau mereka yang Bung sebut sebagai Individu Rasional itu. Contohnya, privatisasi “indekos bawah tanah” tak juga membuat Ambyaris Ordo Blattodea (baca: kecoa) memiliki sikap yang jelas dalam membela kepentingan masyarakat kampus. Padahal kalau boleh jujur, keringat Uang Kuliah Tunggal (UKT) golongan 1 hingga 7 jualah anggaran itu dihasilkan.

Kita sudah melihat bersama-sama bagaiamana UKT melambung tinggi tak terkendali, bagaimana ruang kreatifitas dibatasi, bagaimana para Ambyaris telah menemukan momentumnya di warung kopi: sesak dalam keambyaran.

Izinkan saya sekali lagi menanggapi satu perumpamaan yang Anda buat:

Pemilwa mewadahi ide revolusioner? Menduduki tampuk pemerintahan, dalam hal ini, sama seperti memegang palu sementara problematika kemahasiswaan adalah paku; memiliki kekuasaan besar ditangan Anda, membikin semuanya tampak seperti paku yang minta ditancap, atau undangan untuk ikut campur.”

Bila Bung menganggap Student Government adalah palu dan kemahasiswaan adalah paku, barangkali palu itu adalah Palu Mjolnir, palu yang hanya bisa diangkat oleh Thor dan Captain America. Sedangkan Anda tahu, bukan, musuh kita adalah ribuan Thanos. Yang kita perlukan adalah Komune Progresif!

Jikalau Bung masih menginginkan palu, kusediakan palu dan arit. Biar kita cari pakunya di jalan sunyimu. Bagaimana?

Bung! sebagaimana cinta, tidak ada perjuangan yang bisa dititipkan, tidak ada tiran yang tumbang dengan ketidakpedulian. Jika tidak sanggup bertarung dan berjuang untuk dirimu sendiri, lebih baik kau balik badan dan mengais kenangan busuk dengan mantanmu itu.

Wassalam.

Ngadep kiblat, 11 Desember 2019, pukul 14.03 WIB

*Koordinator FNKSDA Yogyakarta, mahasiswa UIN yang tinggal di semesta Tuhan

Sumber gambar: www.shutterstock.com