318 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Sebelum dan sesudah hujan turun.

Jauh sebelum hujan turun.

Kita berpegangan tangan di bangku kafe sambil mencium amis kepergian. Berharap pelayan cepat datang dan membacakan komposisi luka di keningku–bekas bibirmu.

Sesekali menoleh jam yang berdetak khawatir ketinggalan laju waktu.

Kita beranjak buru-buru, meninggalkan kenang penuh asap kebakaran hutan.

Seraya melirik orang berjas hitam sepanjang jalan, menoleh kanan-kiri

mendakwa cinta kurang subur di dada kita.

Beberapa menit lalu,  langit menetes pasrah, tanah basah, kita dengan tabah – hangus – menyatu dengannya.

2019

Memandang Nasib

:pelaut

Engkau memandang mata laut yang memerah.

Mengambil nafas dalam-dalam dan pelan

seakan mengisi jantung yang rumpang.

Lalu menyembur air mata karena tak kau temukan yang rampung.

Engkau beranjak lalu menulisi pasir dengan kata-kata bimbang,

sambil meramal nasib cuaca yang selalu membingungkan.

2019

Kemungkinan malam itu

Pada malam itu, ku kenang hitam alismu yang panjang.

Menghunjam dalam mataku

 Sambil berbisik,

“Aku belum rampung dengan rindu”.

Berulang-ulang ku pastikan benar-salahnya telingaku atau kata-katamu.

Sebab, segala yang berbau ragu mengusirku untuk sekedar menetap sedetik saja.

Tapi tetap saja, aku berjalan ditepian kemungkinan.

Memandang matamu-mataku atau dengan mata orang lain yang kini memeluk lengan pendekmu.

2019

*Roziqien, lahir dan besar di Sumenep, Madura. Pernah bergiat di Sanggar Semesta Pondok Pesantren Aqidah Usymuni. Menempuh pendidikan strata satu di UIN Sunan Kalijaga jurusan Sosiologi Agama. Kini merupakan bagian dari UKM LPM Arena dan Keluarga Mahasiswa Pecinta Demokrasi (KMPD).

Sumber gambar: www.etsy.com