493 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Semua bermula saat aku duduk di atas sepeda motor menuju kota J, waktu itu malam hari selepas hujan melumatkan senja. Aku bersama Sarip, pemuda tanggung yang jangkung, pergi meninggalkan kota asal dan menyemai harapan di kota orang. Kami melesat menembus semburan cahaya lampu-lampu kendaraan lain, menimang cita-cita dan gelisah yang singgah dalam benak, meski jalanan basah, kami adalah orang yang paling siap atas segala mungkin yang menghadang di perjalanan.

“Kita laki-laki paling beruntung malam ini,” ujarku pada Sarip dari balik punggungnya. Ia seperti menjawab dari dalam tempurung yang dikenakan, meski suaranya samar di antara riuh jalan aku terus berkelakar. “Kamu tahu sendiri kan, beberapa orang memilih tidak kemana-mana, tak tahu dunia luar, tak menikmati rasa nyeri saat kehabisan uang di perantauan”

Sarip menyahut sedikit nyaring, “Hey, diam botak!”

Rambut di kepala Sarip lebih pendek dariku, berarti dia mengumpat. Tapi aku tak peduli dan terus mengoceh. “Tidak ada yang mesti dikhawatirkan dalam hidup ini, Sarip. Kau bisa melihat orang yang berdiri di lampu merah tadi. Mereka semua tidak tahu, apakah akan ada nasi yang bisa dimakan besok. Tapi mereka terus memainkan gitar dan riang melakukan segenap hal di jalanan.”

Sarip semakin kencang mengendarai motornya, ia yakin hanya kecepatan yang membuatku bungkam, aku berteriak “Kematian akan menjemput siapapun, ia datang tak diundang, bila kau ingin membunuhku dengan cara ini, ia akan begitu cepat dan singkat tanpa rasa sakit untukku.” Aku semakin membual tak karuan, melipat kesunyian pohon-pohon di samping jalan yang berbaris bak tentara, bulan berpendar di genangan air sisa hujan, sesekali seperti tenggelam diantara putaran roda kendaraan yang melintas.

“Boi, bangun. Aku mau pesen kopi di warung Mbok Giyem.” Sarip nerocos tepat di depan muka, sambil menoleh ke bahu kanannya tempatku bersandar, “kebiasaan buruk. Bekas liurmu ini pasti.” Ia terus merayapi punggung dengan jemari, sepert ingin meraih sesuatu: tetesan huja gmsjsn atau sisa air liur mulutku.

“Turun,” sahut Sarip, setiap sendiku masih berat ditanggung, “tunggu di dipan bambu biasanya ya, pesen apa kamu?” tambahnya.

Kesadaranku belum kembali, rasanya ingin kujawab, tapi masih terasa diambang mimpi dan nyata. Aku tertidur sejak melintasi perbatasan kota, kalau tidak keliru selepas jembatan yang memisahkan kota P dengan kota-kota lainnya, ya, ketika kau berbisik beberapa orang memilih tidak kemana-mana, tutur Sarip setelah duduk sila di dipan.

Kemudian ia cerita berapa lama lagi akan sampai ke kota tujuan; beberapa polisi melirik motor kita; dan sialnya banyak bencong menawiranya di persimpangan jalan kota N. Selang berapa menit setelah itu, Sarip memungkasi bacotnya, tepat saat secangkir kopi kental berada di ujung bibirnya. Aku sudah minum setengah gelas, dan aku tak peduli musim sedingin apa pun, es teh atau apa-apa yang dingin membuat hidup kembali pantas dijalani. Sarip bersikukuh bahwa meminum kopi agak manis, itu lebih memungkinkan untuk menjalani kehidupan yang serba misteri.

Kedai Wagiyem menjadi tempat rehat paling disukai, minimal oleh kami, jika saja kau melangsungkan perjalanan menuju kota J, tepatnya bila kau dari timur menuju barat maka selepas melintasi rerimbun jati, tikungan-tikungan mengerikan, dan pos-pos polisi yang tak pernah sepi dari korban. Setelah itu kalian baru akan menemukan kedai-kedai berjajar seperti rest area, bedanya di  kedai-kedai ini kamu bisa dapat pelayanan plus.

Jadi, pada satu malam aku pernah melihat kejadian ganjil, saat itu tengah malam di kedai Bu Wagiyem, itu pun aku bisa tahu karena kamar mandi dipenuhi orang mengantri. Ya, karena keaadan itu membuatku nekat ke belakang warung, meski gelap dan jaraknya cuma sepelemparan tanah menggunakan sekop, ada dua sejoli saling tindih di atas karpet seukuran kuburan, Itu di bibir jurang, dan entah mengapa aku lari, menolak untuk sempat menikmati.

Sembari aku menenangkan diri di depan Sarip, kutarik nafas dalam-dalam, lalu membayangkan pelan-pelan lelaki dan perempuan di belakang tadi, benar atau tidak, lantas mengapa mereka sekenanya melepas birahi di sembarangan tempat.

“Kenapa, Boi?”

“Aman.”

“Ada gangguan?”

“Tidak, doa bapakmu manjur di kegelapan.”

“Bapakku memberi mantra setelah lulus test uji. Beliau empiris orangnya. “ Sarip meringis, tahu pembahasan ini adalah ejekan untuk bapaknya.

Satu pelayan menghampiri kami di sela-sela obrolan berlangsung, ia tidak tinggi, perempuan, sedikit sintal dadanya, dan gincu di antara buah bibir begitu tebal, bisa kau bayangkan sendiri. Aku menerima satu gelas es teh, kemudian aku taruh. Sebelum ia putar balik secara sempurna, kepalanya mendekat berbisik padaku, dan itu membuat peristiwa di belakang dapat dipahami.

“Oh ya Mbak, makasih”

Ia pun pergi bersamaan dengan Sarip berkata, “Apa katanya Boi?”

“Dia menawarkan susu,”

“Apa?”

“Susu yang dicampur jahe-madu-telor itu lo?”

“stmj?”

Aku mengangguk saja, dan beberapa detik setelah itu kami jeda berbicara barang sebentar. Sarip bertugas membakar sebatang lisong, aku mendengar percakapan orang di dipan yang lain.

“Namun keinginan bisa membelah dirimu,” ujar Pria berkumis, “seperti para tokoh politik kita.”

Pria di sampingnya diam, lebih muda, kurus dan bertopi. Bapak-bapak berkumis itu seperti membicarakanku. Begitulah yang kerapkaali kurasakan saat duduk di ruang publik dan mendengar percakapan orang.

“Saya selalu kekurangan waktu memikirkan orang-orang Mas, aneh,” tukas pemuda bertopi, “ada orang benci melihat orang bermesraan di ruang publik, tapi ia mengakses video dewasa di browser hapenya.”

Sebelum mereka saling menyahut, dan membuka segala aib diriku, aku bergegas menyahut Sarip, “Ayo berangkat.”

“Bayar sana, aku tambah gorengan, kerupuk dan mie goreng” tukas Sarip.

Kami berdua melanjutkan perjalanan, membelah malam, dan udara dingin terus mendekap kami, hingga tak lama akhirnya sampai di perkotaan. Semoga tetap begini, batinku melihat kaca toko-toko yang memantulkan Aku dan Sarip mengendarai motor. Bayangan diri selalu indah saat dipandang dalam bingkai kaca toko-toko saat malam hari, bila kau tidak setuju, paling tidak kau mengetahui satu hal: gemerlap lampu dan dirimu menyatu menjadi kilauan.

Sebelum pagi tiba, kami sudah sampai di kota J, kendaraan milik Sarip istirahat di bengkel dekat salah satu kampus kota J sementara waktu. Pemilik bengkel mengenal motornya yang butut, sederhana, dan rombeng kalau dibandingkan dengan keluaran motor-motor baru yang gagah. Kebetulan pemilik kos Sarip juga orang yang sama. Ia sempat berkata padaku dulu, saat motor Sarip mogok, “bila ingin bertahan di kota J, paling tidak kalian jangan hanya mengandalkan satu sumber pemasukan. Itu jika kalian ingin bahagia.”

Sesampainya di kos, Sarip istirahat dengan cepat, terpejam begitu saja, bahkan pagi itu tiada obrolan. Aku pun membaca story yang ditulis teman-temanku. Menunggu pesan yang kuhantar terbalas. Semua ringan dipikul saat pagi. Seberat apapun tulisan yang kau baca di story kawanmu, cobalah baca saat pagi hari, pagi ini bahkan membuat film Cloud Atlas terkunyah begitu saja. Tapi setelah itu aku mengingat Sari. Seorang perempuan yang pernah menghampiri kehidupanku.

Aku ingat pernah bilang kepadanya, jadilah milik orang agar aku melihatmu lebih anggun. Sari mengikuti himbauan tersebut dan pagi ini semakin elok dipandang.

Belum tuntas duduk, Sari menyambarku, “Aku tidak bisa lama,”

“Iya. Mari berbagi cerita secukupnya.”

“Aku tidak punya lebih waktu pagi ini, aku ada janji dengan Soni.”

“Ini masih pagi Sari.”

Sari terdiam menikmati segala tutur yang keluar dariku, semua menjadi singkat saat kita bicarakan sesuatunya. Tapi menjelang siang Sari mulai geram, ia menunjukkan jam tangannya, dan berkata singkat, sudah Boi, aku mau memenuhi janji. Ia pergi begitu saja. Aku menoleh ke sekitar kedai, mencari kawan, atau semacam Sari yang lain. Ingin rasanya setiap rasa yang tertangkap olehku, lepas ditangkap yang lain, meski terkadang tak lega karena harus banyak bicara.

Aku membuka gawai di meja, membaca pesan Sarip, “Hampiri kasir boi, bilang kopi agak manis satu.” Aku menyandarkan punggung di kursi setelah ke kasir, menikmati siang yang temaram di sudut kedai, mengungkai perasaan-perasaan yang tertangkap saat Sari datang, kemudian pergi. Aku menatap gelembung chat yang kosong, dan aku kirim pesan kepada Sari, “ini sudah siang, dan aku mulai cemburu denganmu, Sar.” Tak sempat centang biru, tanda pesanku terbaca, aku hapus pesan yang sudah aku kirim kepadanya. Malu.

Sarip pun datang. Duduk dan menikmati segelas kopi dengan lahap. Aku mencoba biasa-biasa saja. Tapi pagi sudah pergi, rehat, menjadi siang yang melompong di mataku. Ia berkata begitu lamban, menjelma seseorang yang asing serba putih dari langit dan menanyaiku banyak hal. Tentang apa yang terjadi di perjalanan, kedai Wagiyem, sepasang kekasih di bawah pohon bibir jurang itu, dua orang yang duduk di samping kita, dan mengapa aku terlalu berat meninggalkan Sari. Semakin panjang ia bercerita, aku semakin ragu padanya. Sarip bukan pembicara handal.

“Aku pasti pergi, entah kapan, tapi ngatlah Boi, orang lain akan terus menyingkap dirimu,” perkataan yang sama yang diucapkan Sari di ujung pertemuan pagi tadi, “bahkan luka-luka yang tidak ingin kau dengarkan.”

H.R. Nawawi, mahasiswa yang sedang berupaya tuntas secara administratif di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Bergiat di Teater Eska. Dan menulis hanyalah cara agar terus membaca.

Sumber gambar: https://www.picassomio.com/samiran-sarkar/89848.html