548 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Doel Rohim*

Sudah saatnya mahasiswa UIN Sunan Kalijaga berbenah, menata kembali politik intelektual dan mengembangkan wacana alternatif yang tumbuh dari pinggiran. Ketika rezim akademik kampus sudah berselingkuh dengan kepentingan kapitalisme liberal, apa yang harus kita koreksi dan apa yang harus dilakukan, mari kita pikirkan.

Kekalahan mahasiswa sudah menjadi fakta ketika banyak persoalan, mulai dari menguatnya politik identitas antar gerakan, biaya kuliah semakin mahal, ruang akademik dibatasi, dan kurikulum yang berorientasi pasar menjadi salah satu sistem yang sulit dibongkar. Kekalahan demi kekalahan ini menjadi sangat jelas ketika jerit protes tak lagi terdengar.

Pertanyaannya, apa yang mungkin dilakukan di tengah situasi bebal seperti ini? Jika jawabannya “diam”, sejak saat ini mari kita lepaskan jas mahasiswa kita bersama-sama.

Kalau kita menengok sejarah, kondisi kampus hari ini sebenarnya pernah terjadi ketika kebijakan NKK/BKK dicetuskan Menteri Pendidikan Daud Yusuf di masa rezim Orde Baru tepatnya tahun 1973. Saat itu, kebijakan tersebut mencoba membrangus kekritisan mahasiswa dengan mengembalikan mahasiswa ke dalam gua-gua kelas di kampus. Kegiatan mahasiswa dibatasi dan diawasi kegiatan politiknya sehingga mobiltas mahasiswa hanya berkutat di dalam kampus.

Namun, menariknya, kondisi seperti itu tidak lantas membungkam mahasiswa seratus persen. Mahasiswa dengan segenap kreatifitasnya mencoba jalan lain dengan membangun ruang-ruang alternatif untuk menampung ekspresi kekritisan mahasiswa pada saat itu. Dari sana munculah studi club dan penerbitan kampus yang menjadi kantong dari berbagai elemen gerakan mahasiswa untuk berdinamika secara intelektual.

Dalam hal ini bukti sejarah yang masih tersisa di kampus UIN Suka adalah Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) dan Penerbit Arena. Keduanya mempunyai pengaruh luar biasa secara pengembangan wacana intelektual keislaman dan kajian sosial yang diakui secara lokal Yogyakarta bahkan nasional.

Saat itu, LKiS banyak dimotori mahasiswa dari kalangan santri yang saat itu dicap sebagai kaum tradisonalis dengan segala klaim-nya: mampu membuka kran pembaruan wacana keislaman yang hampir saja bebal.

Dari sana saya membayangkan di tengah keterbatasan mahasiswa saat itu mereka menemukan formulasi zamannya untuk menjadi oposisi di tengah kungkungan hegemoni negara dan kampus itu sendiri. Kedua ruang alternatif yang disebutkan itu pun kemudian menjadi medan gerakan intelektual yang nanti di fase selanjutnya menjadi amunisi untuk diekpresikan di gerakan jalanan. Dan puncaknya pada tahun 1998 di mana kematangan secara intelaktual dan konsolidasi gerakan dapat disatukan.

Apa yang saya paparkan di atas tentunya bukan glorifikasi masa silam. Namun, kiranya penting kita membaca dinamika yang terjadi saat itu untuk merumuskan bagaimana kita melihat masa depan.

Saya tidak ingin mensimplifikasi persoalan hari ini yang jelas lebih rumit dengan segala persoalan yang melabelinya. Tapi apakah mungkin, kita dapat merumuskan strategi untuk menghadapi segenap persoalan yang terjadi hari ini tanpa kita melihat situasi kondisi yang melatarbelakangi di masa lalu.

Maka dari itulah saya mencoba menawarkan sebuah konsepsi gerakan, yang saya gali dari pembacaan, atas dinamika sejarah dan realitas aktual yang terjadi hari ini. Kemudian terngiang di fikiran saya frasa “gerakan politik intelektual”. Ketika gerakan jalanan mengalami titik kulminasi, kita mulai membangun gerakan berbasis wacana dan jaringan intelektual.

Mungkin akan banyak orang bertanya bagaimana sebuah konsep abstrak itu bisa di-breakdown di medan gerakan di kalangan mahasiswa saat ini. Tentunya pertanyaan itu tidak salah, tetapi apa salahnya kita mengilustrasikan gagasan menjadi tindakan walaupun masih dalam tataran imajinal. Kecenderungan pesimisme yang akut ini pun sebenarnya menjadi persoalan akut yang harus di bongkar jika kita ingin mewujutkan tatanan ideal.

Kita kembali pada gerakan politik intelektual, apa yang mungkin kita lakukan di tengah kondisi kampus yang sudah menjadi korporasi berkedok akademik ini adalah membuat wacana tandingan/oposisi untuk merebut diskursus dominasi wacana yang disponsori oleh kepentingan kapital. Apakah kita mesti memboikot kelas, memaksa mahasiswa untuk tidak masuk kuliah atau bahkan lebih radikal membakar ban kemudian kita triak-triak di tengah jalan. Bukan itu tak penting, tapi itu “cukup” untuk masa silam. Kini, kita bisa coba memulai dengan hal baru dan lebih milenial yang harus kita upayakan.

Secara sederhana gerakan politik itu sendiri adalah sekelompok orang yang mempunyai visi sama untuk mempengaruhi orang lain. Kemudian dari sana strategi dirancang agar tujuanya didapatkan.

Dalam konteks UIN Suka apa yang mungkin dilakukan adalah menyambungkan visi yang sama tadi dari beberapa orang, tidak mesti banyak, kemudian mendialogkannya di ruang-ruang alternatif yang terlepas dari belenggu identitas yang sudah mapan. Mereka berangkat murni dari kegelisahan personal dan obsesi intelektual untuk bersama-sama belajar. Kita bisa mengibaratkan itu semacam ruang kreatif yang berbasis jaringan dalam upaya pengambangan daya intelektual.

Jadi, visi ideal menjadi ruang alternatif wacana tandingan dari rezim kampus, menjadi basis utama dalam upaya mengembangkan potensi personal yang ada di dalamnya. Dari sanalah kemudian nantinya sangat memungkinkan untuk menemukan formulasi-formulasi gerakan yang terbuka dan relevan untuk dilakukan.

Saya membayangkan dari beberapa orang tadi, kemudian membuat kantong-kantong diskursus wacana alternatif mulai dari pembacaan budaya, sosial politik, ekonomi dan lainya yang menjadi tandingan wacana yang dikembangkan di dalam kelas. Ketika ini dijalankan secara intensif, gradual, konsisten dan tentunya terbuka, hal ini tidak lama akan menjadi public space dalam pengertian Jurgen Hebermars adalah publik yang kritis atas realitas yang terjadi.

Sebenarnya apa yang coba saya tawarkan juga bukan hal baru di Yogyakarta bagaimana metode yang sama juga dilakukan oleh gerakan Maiyah oleh Cak Nun yang memiliki ribuaan jemaat, kemudian Masjid Jenderal Sudirman dengan Ngaji Filsafatnya, ada MAP Corner di Fisipol UGM dan Ngaji Dewa Ruci di Pesantren Kaliopak, yang hampir semua mempunyai visi sama seperti yang saya utarakan di atas.

Namun, yang harus kita pahami dari semua itu mempunyai kredo wacana yang beragam walaupun fisinya sama. Nah, jika ini juga mampu dikembangkan di dalam kampus saya meyakini kita akan melihat wajah kampus yang suram dengan segala manipulasinya dengan lebih optimistis menjadikan kampus kembali ke akarnya sebagai ruang pengembangkan intelektualitas.

Terus bagaimana kita memposisikan kampus. Ini agak rumit, tetapi tetap ada kesempatan untuk mencari jalan keluarnya. Di mana kampus dengan seperangkat aturanya kita biarkan berjalan semestinya, selama tidak mengagu ruang diskursus yang kita lakukan. Kenapa seperti itu, karna bagaimanapun kampus sudah terlalu kuat cengkramanya atas kepentingan pasar, bisa dikatakan over domination sehingga kita terlampau lelah melawan itu semua.

Dari pada kita terlampau sibuk mengurusi kampus apa tidak mungkin kita membangun universitas di dalam universitas di mana fasilitas sedikit banyak sudah ada mulai dari ruang, jaringan, dan akses pengetahuan jika kita menemukan prespektif yang tepat akan sedikit banyak menggoyah dominasi wacana dalam kelas.

Jadi, jika hari ini kita sibuk berpolitik untuk merebut kekuasaan, mulailah kita coba bergerak merebut, dominasi wacana kampus yang tidak berakar dari tradisi intelektual dari bangsa kita sendiri. Karna bagaimanapun universitas adalah ruang produksi pengetahuan yang didalamnya akan menjadi rujukan dari kebijakan-kebijakan nasional. Masalahnya jika kampus selalu memproduksi wacana termasuk SDM-nya yang hanya berorientasi pasar bahkan menghilangkan identitas kultural dan keagamaan. Maka, jelas ke depan sebagai bangsa kita hanya akan menjadi penonton atas ekploitasi segala kekayaan alam, hingga kita kehilangan jati diri yang sebenarnya memperkukuh kebangsaan kita.

Doel Rohim, Mahasiswa tingkat akhir UIN Sunan Kalijaga, berkholwat di pinggir Kaliopak Piyungan Bantul.

Sumber Gambar: shutterstock.com