313 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com-Film The Bajau, garapan Watchdoc, memotret kehidupan suku Bajau yang tersisih oleh kebijakan negara. Film yang disutradarai Dandhy Laksono ini  mengisahkan orang-orang Bajau yang dipaksa bermukim di darat. Padahal, mereka berkelana dan hidup nomaden di laut.

Dandhy Laksono, lewat akun Instagramnya, menuliskan kebijakan pemerintah tersebut berupa program perumahan. Pembuatan perumahan itu bertujuan agar orang-orang Bajau tinggal di darat dan memiliki KTP sebagai identitas kewarganegaraan.  

Awal film menampilkan kehidupan sehari-hari suku Bajau di atas perahu yang dijadikan sebagi rumah. Segala aktivitas dilakukan di atas perahu, termasuk malahirkan anak.

Namun, setelah masuknya kebijakan pemerintah berupa wajib mukim di darat mengikis aktivitas laur orang-orang Bajau.

“Sekarang ari-ari dikubur di darat, dulu kami tenggalamkan di laut,” begitu salah satu potongan dialog The Bajau.

Khairul Amri, PSDA Arena 2015, menuturkan bahwa Bajau sejak zaman sebelum kolonialisme menjadi salah satu aktor penting dalam perekonomian maritim. Bahkan, kata Amri, Suku Bajau dianalogikan sebagai “Orang laut, Raja laut, Bajak laut”.

“Namun, setelah kolonialisme aksesnya semakin sulit,” jelas Amri dalam diskusi Pemutaran Film & Diskusi The Bajau, Minggu (12/01) di Gelanggang Teater Eska UIN Sunan Kalijaga.

Menurut Amri, kebijakan pemerintah yang ditujukan kepada masyarakat Bajau tidak menguntungkan mereka. Pemerintah memaksa mereka untuk bermukim, padahal suku Bajau sejak zaman dahulu hidup sebagai pengelana laut.

Safar Nurhan, anak Bajau, juga menegaskan bahwa orang Bajau tidak butuh pemukiman. Hanya butuh sampan untuk mereka hidup di laut. Bagi Safar, kebijakan semacam itu mengasingkan orang Bajau dari kehidupan laut.

“Kami sebenarnya tidak butuh negara, hanya butuh sampan,” jelas Safar singkat.

Dalam perspektif ekonomi politik, kata Ilo, seorang audiens dalam diskusi, Suku Bajau terhimpit oleh investasi laut dan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan keadaan mereka. Sehingga, relasi antara kebijakan maritim pemerintah dan masyarakat Bajau tidak sejalan.

Bagi Ilo, pemerintah begitu arogan menentukan kehidupan orang Bajau. Pemerintah mendikte orang-orang Bajau demi kepentingan ekonomi. Ilo mencontohkan orang-orang Bajau diasigkan dari lautan demi meperlancar kepentingan ekonomi maritim.

Pemutaran film The Bajau tidak hanya melibatkan LPM Arena, tetapi berkolaborasi dengan Teater Eska, Jamaah Cinema Mahasiswa (JCM), Mapalaska, dan Ikatan Pelajar Mahasiswa Polewali Mandar Yogyakarta (IPMPY). Pemutaran film bertempat di Gelanggang Teater Eska UIN Sunan Kalijaga.

Reporter: Rita Dwi Purnama S

Redaktur: Hedi