429 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Jangan kau takut pada gelap malam, bulan dan bintang. Semuanya teman. Tembok tua, tikus-tikus liar, iringi langkah kita menembus malam. Di Sayidan, di jalanan, angkat sekali lagi gelasmu, Kawan. Di Sayidan, di jalanan, tuangkan air perdamaian,

Sebuah lagu dari band kelahiran Yogyakarta, Shaggy Dog, dinyanyikan seorang lelaki di salah satu warung kopi Kompleks Kebun Laras, G-Bol. Nyanyian itu diiiringi petikan gitar dengan tempo cepat. Sesekali pengunjung lain ikut bernyayi dan tergelak, sambil meneguk kopi seduh yang dibuat melalui proses tradisional di hadapan mereka.

Rabu 20 September 2017. Waktu menunjukkan pukul 22.30, warung kopi di sekitar Jalan Sorowajan Baru tampak dipenuhi manusia. Begitu pula warung kopi G-Bol, singkatan dari Gila Bola, salah satu warung kopi yang terletak di jalan tersebut. Menjelang tengah malam, manusia yang datang justru semakin iring-iringan. Semakin banyak. Warung kopi terlihat semakin bernyawa. Dari beberapa yang ARENA wawancarai, sebagian besar merupakan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga.

Ada yang berdiskusi, bergurau, bernyanyi, dan menonton bola lewat televisi di salah satu sudut warkop yang tak jauh dari meja kasir. Namun yang sama dari setiap manusia yang berkumpul menjadi kelompok-kelompok kecil maupun besar, selalu tersaji kopi di antara mereka. Ada kopi susu, kopi hitam, dan lain sebagainya. Semua tersaji dalam cangkir kecil terbuat dari keramik dengan motif bunga pada salah satu bagiannya. Sebuah ciri khas dari cangkir ala Jawa Timuran. “Saya, kan, orang Jawa Timur, Bojonegoro,” ungkap Bahrul Ulum atau biasa dipanggil Kawul, pemilik dari warung kopi G-Bol.

Kawul penikmat kopi sejak ia kuliah di UIN Sunan Kalijaga. Namun, semasa ia kuliah, masih sulit mencari warung kopi di sekitar UIN. “Waktu kuliah bangun tengah malam, nyari warung kopi itu susah,” ujar Kawul bernostalgia.

Menurutnya, pada tahun 2000-an, kala ia masih kuliah, warung kopi di Sorowajan hanya Blandongan. Itu pun tidak buka selama 24 jam. “24 jam itu, kan, baru-baru ini saja,” jelas Kawul.

Padahal, adanya warung kopi tak hanya untuk memenuhi kebutuhan nongkrong belaka. Kawul dulunya adalah anggota organisasi ekstra kampus dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Selama menjadi anggota organisasi, Kawul sering mengikuti atau mengadakan rapat di warung kopi. Begitu pun anggota organisasi lain. Menurutnya, budaya organisasi di UIN Sunan Kalijaga saat itu masih sangat kuat. Berdasarkan pengalaman itulah Kawul melihat peluang usahanya dan mendirikan G-Bol tahun 2010, bertepatan dengan momentum piala dunia. “Dulu anak organisasi, kan, ngumpul sukanya juga di warung.”

Badrun, pemilik warung kopi Blandongan, mengungkapkan hal yang senada dengan Kawul. Kesukaannya pada kopi yang memmbuatnya merintis usaha warung kopi pada 17 Mei tahun 2000. Saat itu, ia juga terlibat di organisasi gerakan bersama teman-temannya. “Dulu enggak hanya pergerakan A, B, C saja. Tiap ada temen saya selalau suka ikut ngumpul-ngumpul,” ucapnya. “Ini karena hobi, suka. Kalau tidak suka, ya, enggak bisa ngumpulin orang. Buka warung kopi gini, kan, ngumpulin orang,” sambungnya.

Badrun mengungkapkan,sebelumnya penjual kopi seduh sudah banyak di Yogyakarta. Ada warung burjo, angkringan, juga warung kopi lainnya. Hanya saja yang mempunyai ciri khas dan masih eksis hingga saat ini adalah Blandongan. “Nanti kalau saya bilang ini (Blandongan-red) warung kopi pertama saya klaim, dong. Bisa didemo saya,” ucap alumni Fakultas Syariah UIN itu sambil tertawa.

Sama halnya dengan G-Bol, Blandongan yang dirintis oleh pemuda asal Gresik ini juga memakai cangkir kopi beserta tutup dari keramik dengan motif bunga kecil pada salah satu bagiannya. Ia menjelaskan hal tersebut merupakan tradisi sejak nenek moyang.

“Potret tiap wilayah itu, kan, berbeda. Kalau di Jawa Timur, potret ngopi itu pakai cangkir yang ada tutupnya itu sudah sejak nenek moyang dulu. Yang namanya ngopi di Jawa Timur ukurannya standar. Jadi saya mengaplikasikan apa yang ada di daerah saya,” jelas Badrun.

Lintas Budaya, Organisasi dan Komunitas

Jogja merupakan kota pelajar dengan berbagai kampus, organisasi dan komunitas. Meski mayoritas pengunjung G-Bol adalah anak UIN, Kawul mengungkapkan bahwa G-Bol berusaha mewadahi semua kalangan. “Yang ngopi di sini, kan, tidak hanya anak UIN. Banyak juga mahasiswa maupun mahasiswa dari kampus lain,” ungkapnya. “Jadi otomatis mengayomi semua organisasi, etnis, juga memfasilitasi semua komunitas,” sambungnya.

Alumni Perbandingan Madzhab dan Hukum itu juga mengatakan antusias mahasiswa maupun mahasiswi terhadap warung kopi khususnya di Yogyakarta sebagai kota dengan perputaran perekonomian terbesar kedua di Indonesia sangat meningkat dari tahun ke tahun. “Antusias mahasiswa  maupun mahasiswi ngopi itu besar,” ungkapnya. “Apalagi pas masuk ospek. Panitia juga sering pada kumpul rapat di sini. Dulu kampus, kan, bukanya enggak 24 jam,” sambungnya.

Berbeda dengan Kawul, G-Bol buka 24 jam sejak awal berdiri. Bukan tanpa alasan Kawul membuatnya demikian. Menurutnya tidak sedikit mahasiswa yang beraktifitas hingga tengah malam, ketika indekos sudah tutup. Terkadang mahasiswa dituntut untuk melaksanakan kegiatan di malam hari seperti malam keakraban (makrab), diskusi, atau kerja. Dengan dibukanya G-Bol selama 24 jam, Kawul berharap mahasiswa dapat memanfaatkan warkop untuk diskusi, rapat atau sekadar beristirahat.

Hal tersebut diamini oleh Fara, mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga. Ia mengaku sangat terfasilitasi dengan adanya warkop di sekitar kampusnya. Menurutnya warkop merupakan ruang alternatif untuk ngobrol dan diskusi. “Di kampus enggak leluasa, terlalu formal dan membosankan untuk diskusi. Itu menurutku. Karena bosan juga, sih. Dari pagi sampai sore, kan, sudah cukup banyak menghabiskan waktu di kampus. Nah, di warkop suasananya lebih santai dan hangat aja buat diskusi,” ungkapnya.

Fara yang juga terlibat di organisasi kampus sering memilih G-Bol sebagai tempat diskusi bersama teman-temannya baik mahaisswa UIN maupun bukan. Ia juga menganggap jenis kopi seduh di warkop sekitar kampusnya terasa sama, demikian suasananya. “Kalau di warkop sekitar UIN, kayak Blandongan, G-Bol, Kopas, Gendong, itu hampir sama, sih, suasanyan kalau menurut aku. Pelanggannya juga kebanyakan mahasiswa-mahasiswa UIN. Soalnya tiap ke warkop yang aku sebut tadi, ya, wajah-wajahnya udah familiar di kampus. Beberapa juga memang sudah kenal,” ungkapnya. “Tempatnya homey, udah kayak ngopi di teras rumah sendiri,” sambung Fara sambil sesekali meminum kopi susu yang ia pesan.

Berbeda dengan Fara, Solihul Akmalia yang juga mahasiswi UIN Suka justru mengatakan lebih menyukai nongkrong di cafe yang lebih modern atau kekinian. Walaupun demikian, ia juga sering ngopi di sekitar kampusnya demi kepentingan organisasi. Menurutnya, aktivitas ngopi yang ia lakukan lebih banyak karena agenda rapat organisasi. “Kalau dirata-rata, dalam seminggu aku biasa ngopi di warung kopi cuma sekali,” ucap perempuan yang aktif di salah satu teater kampus UIN.

Kopi Tradisional

Di saat sebagian warkop zaman sekarang sudah menggunakan pengolahan modern untuk membikin kopi, beberapa kopi yang ARENA datangi di sekitar kampus UIN Suka masih menggunakan cara tradisional. Robusta merupakan jenis kopi yang dipakai oleh warkop. “Di sini kopi diolah masih menggunakan cara tradisional,” ucap Kawul. Biji kopi mentah yang diambil dari Temanggung sebagai bahan dasar kopi di G-Bol, melalui proses pertama, yaitu dijemur selama tiga hari. Hal tersebut dilakukan untuk menghilangkan kadar air pada biji kopi. Semakin kering biji kopi, semakin tinggi kualitasnya. Namun, penyusutan yang terjadi semakin banyak sehingga berat awal akan banyak berkurang.

Selanjutnya, biji yang sudah dijemur, digoreng sekitar satu jam dalam wajan. Ia lantas ditaburi gula dan didiamkan supaya memunculkan warna yang lebih bagus. “itu tidak merusak cita rasa kopi,” ungkap Kawul. Kopi kemudian digiling sebanyak dua sampai tiga kali supaya halus. Kopi pun siap diseduh dan disajikan kepada pelanggan.

Sama halnya G-Bol, warkop Blandongan juga masih menggunakan cara tradisional dalam mengolah kopi. “Kopi seduh di Blandongan kopi tradisional, yang masih ada ampasnya,” ucap Badrun. Menyeduh kopunya pun diadaptasi dari Jawa Timur dengan cara menaruh kopi sebanyak sepertiga cangkir. “Kalau cangkir, berapapun ukurannya, kopunya sepertiga dari wadah,” jelas Badrun.

Reporter: Wulan Agustina Pamungkas

Redaktur: Sidra Muntaha

Ilustrator: M. Dzaky S. A.

Tulisan ini pernah dimuat di Slilit Arena Edisi November 2017.