347 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Di peradaban kuno, masing-masing kelompok masyarakat membikin kalender untuk kebutuhan praktis sehari-hari.

Lpmarena.com- Memasuki ruangan itu, mata pengunjung akan langsung tertuju pada balok menyerupai nisan berikut ukiran huruf dan angka Arab di badannya.

Kendati demikian, balok itu bukan untuk ditancap di atas kuburan. Ia adalah alat untuk penghitungan bulan pada kalender Hijriyah atau kalender Islam.

Di belakang balok itu, terdapat papan persegi panjang yang menempel di dinding. Di Papan itu juga termaktub ukiran, tapi dengan aksara Bali. Papan itu adalah Tika, catatan penanggalan berupa simbol mengenai “padewasan” atau hari pelaksanaan ritual keagamaan di Bali. Tika masih lazim digunakan di Bali hingga kini.

Kedua perkakas penanggalan tersebut mempertegas bahwa penghitungan waktu, siang dan malam, sudah dikenal dan dimulai sejak peradaban kuno. Penghitungannya didasarkan pada pergerakan benda-benda langit.

Perubahan waktu dari pagi menuju siang, dari rembang petang menuju tengah malam ditandai dengan gerak matahari dan bulan. Manusia pada peradaban kuno menghafal gerakan tersebut dan menandainya melalui berbagai cara: mendengar bunyi-bunyian, suara malam, dan mengamati benda-benda langit.

Benda langit tersebut diamati bukan untuk sekadar menandai hari, tapi juga untuk keperluan manusia mencari penghidupan. Semisal nelayan yang melaut atau petani dalam menebak waktu hujan.

Karenanya, ruangan itu adalah ruang khusus untuk menggambarkan hubungan tanda langit dengan nelayan dan petani. Ia adalah pameran, yang berlangsung di Museum Negeri Sonobudoyo Yoyakarta, dengan tajuk “Angkasa Ruang dan Waktu: Membaca Langit Menebak Petanda.” Pameran itu merupakan program Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta, dibuka sejak 10 Desember lalu hingga 10 Februari mendatang.

Tanda langit mengenalkan nelayan pada empat arah mata angin: utara, timur, selatan dan barat. Ia menjadi alat navigasi nelayan sebelum ada kompas. Tak jarang, pengetahuan lokal mengenai navigasi diturunkan dari generasi ke generasi melalui pembelajaran lisan.

Kendati bertema astronomi, pameran ini juga menampilkan minatur Perahu Lis Alis, perahu khas Madura. Ukurannya sebesar sampan. Hanya saja Lis Alis memakai layar dan kedua ujungnya runcing dan tinggi. Selain jadi pengangkut barang, perahu ini juga digunakan untuk menangkap ikan.

Sama halnya dengan nelayan, petani juga mengamati gerak benda langit. Salah satu hasil dari amatan tersebut ialah ‘pranata mangsa’. Ia adalah sistem penanggalan berdasarkan peredaran matahari yang menjadi acuan petani untuk bercocok tanam dan melakukan aktivitas lainnya.

Sistem pranata mangsa ini berkaitan langsung dengan teks pawukon. Dalam tradisi Jawa. Ilmu pawukon merupakan pendekatan khusus yang menerjemahkan sistem penanda dari alam guna menafsirkan kehidupan.

Pada katalognya tertulis, “Pranata mangsa oleh peradaban kuno, khususnya di Jawa, diyakini sebagai penghitungan waktu dalam satu tahun berdasarkan pola musim dan siklus alam.” Ia merupakan penentuan tanam-tuai yang mengandalkan penanda alam.

Melalui pranata mangsa tersebut, petani akan menyesuaikan dengan kondisi alam. Berbanding terbalik dengan ambisi pemerintah yang menekan petani untuk panen tiga kali setahun.    

Reporter: Hedi

Redaktur: Sidratul Muntaha