527 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com- Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan mengadakan screening film dokumenter di Taman Budaya Yogyakarta. Salah satu film dokumenter yang ditayangkan adalah Rawat, karya Pukul Empat Production, tentang aksi kamisan di Yogyakarta yang tiap minggu memperingati kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia.

Acara pemutaran film dokumenter diadakan selama 2 hari, tertanggal 26-27 januari 2020. Rawat ditayangkan pada hari kedua sekitar pukul 18.30WIB.

Dalam film, dijelaskan sejarah aksi kamisan bermula di Jakarta. Ia adalah ajakan agar masyarakat memperingati kasus pelanggaran HAM yang ada di Indonesia. Semangat kamisan lantas menjalar hingga berbagai kota, termasuk Yogyakarta.

Film yang berdurasi sekitar 25 menit ini banyak menyajikan pernyataan-pernyataan tokoh kamisan. Semisal Eko Prasetyo, pendiri Sosial Movement Institute (SMI), mengatakan bahwa perkara HAM merupakan  jantung dari persoalan-persoalan yang lain. Lewat pernyataan tersebut, Eko mengajak masyarakat untuk terlibat dalam aksi kamisan.

Lebih lanjut, Eko menjelaskan gagalnya penyelesaian kasus HAM karena absennya partisipasi masyarakat. “Kami mengejak masyarakat untuk mengusut secara aktif perkara  HAM,’’  Tutur Eko dalam Film tersebut.

Lewat film tersebut, Melky As yang juga anggota aktif SMI pun menekankan pentingnya protes lewat aksi kamisan. Menurutnya, membangun kesadaran kolektif dan gerakan massa sangat diperlukan. Tujuannya, untuk mengingatkan bahwa masih banyak masalah yang belum ditangani pemerintah dengan baik.

Melky mengawali penjabarannya akan kasus HAM yang belum terusut tuntas oleh pemerintah seperti kasus Munir, Marsinah, pembantaian 1965, aktivis 98 yang hilang, dan diskriminasi terhadap para petani yang tanahnya digusur. Kejadian seperti itu, menurutnya harus tetap diingatkan, kepada pemerintah.   

“Pemerintah kita semakin tidak kita tuntut, tidak berniat untuk melakukan penyelesaian. Kita tuntut saja setiap hari, setiap tahun, tidak ada penyelesaian yangg mereka lakukan. Apalagi kalau tidak dituntut. Kan, begitu.” Jelas Melky.

Di akhir menit, Film tersebut juga kembali menampilkan Eko Prasetyo yang menegaskan kunci menjadi negara besar adalah dengan mengusut dan menangani perkara HAM. Dia menyebut Jerman sebagai representasi dari contoh negara besar yang mampu menyelesaikan persoalan keadilan HAM.

“Artinya semua negara yang besar itu biasanya mampu meyelesaikan persoalan keadilan HAM masa lalu. Itu cara  menjadi negara yang besar.’’ Tutup Eko dalam film dokumenter tersebut

Ata Fudholi, sutradara Pukul Empat Production, menjelaskan judul Rawat diambil dari semangat kamisan untuk merawat ingatan. Ia juga menceritakan proses riset membuat dokumenter ini menghabiskan waktu hamper tiga bulan.

Adapun alasan Ata mengangkat aksi kamisan karena ia mengaku memiliki kedekatan dengan aksi tersebut. Ia mengaku sempat beberapa kali mengikuti aksi itu. Ia juga turut menegaskan persoalan kekerasan HAM tidak boleh diabaikan begitu saja.  “kurasa persoalan kekerasan HAM ini, ya, harus diingatkan. Salah satunya melalui film dokumenter ini,” ungkap Ata.

Selain itu, melalui film dokumenter ini, ia juga berpesan terhadap mahasiswa dan pelajar untuk mengikuti aksi kamisan. “Karena itu adalah salah satu bentuk upaya kita merawat ingatan, melawan impunitas atas kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia, yang enggak tahu kapan kelarnya, pungkas Ata

Reporter: Astri Novita

Redaktur: Sidra