573 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Kata-kata akan terus menghantui sampai ia tertuliskan.

Mereka duduk mengelilingi meja lonjong yang besar. Setiap kepala dari mereka memikirkan kata-kata, menatanya dengan caranya masing-masing, menyajikannya pada dunia. Pada pertemuan itu mereka saling bercerita. Alih-alih merancang strategi mengubah dunia yang kusut, mereka berangkat dari diri yang sangat pribadi.

Membaca buku Memikirkan Kata: Panduan Menulis untuk Semua rasanya seperti ikut duduk di sana, menyimak kisah dibalik buku-buku, tepat di dekat mereka. Buku itu seolah mengizinkan siapapun yang ingin menyelami dunia menulis serta mendalami buku-buku, kemudian duduk bergabung mengelilingi meja lonjong itu.

Di sana ada penulis besar seperti Virginia Woolf, Kurt Vonnegut, Gabriel Garcia Marquez, Orhan Pamuk, Rendra dan banyak para pemikir kata tersohor lain.

Tak heran, jika, buku itu bisa dibuat bantal tidur kala mata sudah lelah membacanya.

Kisah-kisah para penulis terkemuka itu unik dan pribadi. Mereka menyentuh dunia, bahkan mengubah keruwetan kondisi sosial melalui tulisan. Mereka memulainya dengan penyelesaian atas diri sendiri. Semacam kumpulan autobiografi.

Dengan rapi Galeri Buku Jakarta menyibak dan menata proses pesohor itu menemukan kata, menyusun kalimat, paragraf, sampai cerita. Penyusunannya seperti memindahkan kisah dan cara kreatif penulis dari sebuah galeri pameran ke dalam buku. 

Dalam buku itu, setiap perjumpaan dengan para penulis, pembaca akan disuguhi jalan panjang dunia buku, dunia menulis. Sedang panduan-panduan yang lebih teknikal, seperti bagaimana membuat tulisan baik dan bermutu tak banyak diurai. Perintilan-perintilan menulis semacam bahasa, tema, ide dan teknik-teknik dalam menulis efektif lainnya hanya akan didapati pada bab tiga sampai lima.

Selebihnya, bagian yang lebih esensial berujung pada cerita yang mendominasi konten buku bersampul kuning tersebut. Melalui kumpulan catatan dari mereka yang telah lama memikirkan kata, sudut pandang pembaca akan terbuka. Bahwa menulis tak sekadar ketuntasan teknik, capaian maupun impresi tertentu. Sebagaimana mereka mengakui dalam setiap catatannya: dunia menulis memiliki tanggung jawab moral.

Terlepas dari tulisan yang berwujud teks, setiap manusia pun memiliki pengetahuan mendalam tentang satu atau banyak jalan kehidupan, sebuah pengetahuan yang telah dia kuasai, dan dengan simfoni yang tepat akan menjadi cerita yang hebat. Meskipun, kisah akan menjadi luar biasa jika saja cerita itu sebagai cermin kehidupan. Menyentuh tepat ke relung hati pembaca. Disampaiakn dalam bentuk cerita yang memilih kata-kata sebagai mediumnya.

Sebab, kata-kata layaknya suatu pesan yang tersimpan di setiap hembusan nafas. Ia mengendap lama pada pikiran seseorang dan terus menggusar sampai ia tersampaikan. Semacam sabda yang harus diwahyukan.

John Ashbery, dalam bab mengenai inspirasi mengatakan, bahwa ide sering muncul dengan cara misterius. Ashbery seringkali mencatat ide dan frasa, kemudian ketika siap menulis ia tak menemukannya. Tapi itu tak mengubah apa-apa, karena apapun yang muncul pada saat itu akan memiliki kualitas sama. Memang, kita terlahir orisinal. Meski dalam halaman berikutnya, penyair Stanley Kunitz mengutarakan bahwa penolakan atas keorisinilan itu dimulai ketika bahasa digunakan. Solusinya adalah dengan menjadi bahasa itu sendiri.

Begitupun Truman Capote, mempercayai bahwa suatu ide akan terus menghantui seseorang sampai ia menuliskannya. Kata-kata tak akan pergi, terus mengendap dan selalu dalam penantian hingga mereka tersampaikan. Sejak awal, kisah-kisah itu membawa perubahan. Capote menulis, “Aku selalu mempunyai ilusi bahwa keseluruhan dari sebuah cerita permulaanya dan bagian pertengahan dan bagian akhir, terjadi secara simultan dalam pikiranku—ketika aku melihatnya dalam sekejap.” (hlm. 169)

Mengenai hal di atas, J. Everet Courtney menyebutkan tiga resep rahasia menulis: Pertama, untuk menulis ialah soal kesegaran gambaran dan karakter manusiawi. Lagi-lagi tak lepas soal tanggung jawab moral. Di mana, itu didapat dari pengamatan panjang terhadap perilaku manusia.

Kedua, seorang penulis tak sepantasnya berlaku syak atas pengalaman-pengalaman hidup manusia. Inilah yang menentukan kebaruan dalam sudut pandang. Seseorang yang hendak menulis mestinya selalu memiliki perasaan yang tulus untuk memahami manusia lain serta kehidupan. Dari itu, resep ketiganya ialah simpati. Senantiasa berupaya menghidupi kehidupan melalui kata-kata.

Sebagian besar tulisan dalam buku ini adalah uraian banyak tentang penulis luar Indonesia. Dalam konteks budaya dan lingkungannya bisa jadi berbeda dengan masyarakat kita. Namun, sampai pada separuh buku, Rendra hadir. Ia berpesan supaya Indonesia kembali pada dirinya sendiri. Untuk tidak memihak, barangkali untuk lebih melihat dunia secara universal, sebutlah Indonesia sebagai diri kita sendiri, segalanya yang kita jumpai sehari-hari.

Politik kepenyairan Rendra tak lain dengan melibatkan kebebasan diri ke dalam solidaritas dengan sesama. Tampaknya, inti pesannya sama: kemurnian dan tanggung jawab moral.

Menikmati Seni bagi Batin Sendiri

Begitulah. Kata-kata merupakan seni. Keindahannya bisa dimiliki dengan banyak cara. Masing-masing orang mestilah memiliki lakunya sendiri untuk menikmatinya—memiliki kemampuan menulis dan juga membaca.

Buku ini hadir sebagai pemantik awal. Setidaknya, seseorang bisa memiliki kenikmatan seni kata-kata bagi batinnya sendiri. Dengan tulus disusun oleh Sabiq Carebest, dkk semata untuk membuat pembaca memiliki kesadaran akan pentingnya dunia buku, membaca dan juga menulis. Tak lupa, dalam catatan editorialnya disebutkan: memungkinkan segala kemajuan yang bisa dibuat dengan ‘berpikir’ dan ‘kata’.

Gunawan Wiradi, salaha satu kontributor, dengan artikel “Mau Menulis?”, menyinggung bahwa menulis itu lebih merupakan seni dibanding sebuah ilmu. Sebab, tujuan menulis itu bukan untuk membuat orang berpikir. Lebih dari itu. Orang akan berpikir ketika hatinya tersentuh. Karena itu sasaran tulisan bukanlah telinga tetapi mata, karena “di matalah letaknya hati”.

Atas dasar itu, Gunawan menganganggap bahasa haruslah sedemikian rupa. Agar pembaca terdorong untuk membaca di tempat yang sunyi, dengan mata dan hati yang tenang.

Henry Miler mengatakan, sebagian besar tulisan justru terselesaikan jauh dari mesin ketik. Jauh dari meja kerja. Ia terjadi dalam momen-momen sunyi. Katanya, seniman ialah seseorang yang memiliki pemancar. Tahu cara mengaitkan diri dengan arus yang berada di atmosfer, di jagad raya; dia semata-mata memiliki fasilitas untuk mengait, sebagaimana adanya.

Segala yang kita pikirkan sudah ada sebelumnya. Dan kita hanya perantara, itu saja.

Orhan Pamuk, pengarang novel epik berjudul The Strangeness in My Mind, memberi patokan atas pengalamannya menulis. Menurut novelis Turki itu, pengarang ialah orang yang tekun, selama bertahun-tahun, berupaya menemukan ‘diri’ yang kedua, sekaligus memahami dunia pembentuk dirinya yang aktual.

Pengarang yang dimaksud Pamuk bukanlah tentang novel, puisi ataupun tradisi sastra, melainkan mereka yang membangun dunia baru dengan kata-kata. Meminjam frasanya: “Menemukan kedalaman hidup di goresan pena.” Sesuatu yang mesti dikerjakan seniman.

Buku setebal 550 halaman ini, meski demikian bukan disusun untuk menjadi semacam “how-to”. Lebih dari itu, mata pembaca akan terbelalak dan jari tak akan berhenti membuka halaman berikutnya dengan tata letak visual yang menarik. Beberapa gambar penulis turut hadir menyertai tulisan.

Intensi awal buku ini adalah: dari pribadi yang tumbuh, khas, berbahagia dan memberi makna bagi kehidupan—dengan menjadi pembaca, pemikir dan pada akhirnya penulis dalam artinya yang paling luas, dilalui oleh perhatian kita pada kata-kata.

“Banyak masyarakat, suku dan komunitas akan semakin cerdas, bertambah kaya sekaligus berkemajuan ketika mau menggubris kata-kata pelik dari penulis. Sebaliknya, sudah lazim diketahui, pembakaran buku dan penistaan terhadap para penulis adalah pertanda era kegelapan serta zaman sia-sia sedang dating.” Orhan Pamuk.

***

Judul Buku: Memikirkan Kata: Panduan Menulis untuk Semua | Penyusun: Sabiq Carebest, dkk | Penerbit: Galeri Buku Jakarta | Cetakan: Agustus 2019 | Tebal: 550 halam | Perensensi: Dina T Wijayanti