372 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Bagi petani, tanah serupa kanvas untuk pelukis. Tanpanya, mereka tak bisa melakukan seni bertani dan menghidupi manusia lain.

Lpmarena.com“Sebelum ada perindustrian, hanya ada petani kecil. Dan sampai sekarang kita masih hidup,” ini disampaikan Qomarun Najmi, pendiri Sekolah Tani Muda, kala menjadi pembahas buku Petani dan Seni Bertani: Maklumat Chayanovian di Auditorium Mubyarto UGM, (11/02).

Bagi Qomarun, keberadaan petani kecil itu menjadi bukti mereka bisa memberi makan dunia. Tapi, kata Qomarun, petani kecil jangan diukur dari ekspor globalnya. Melihatnya harus pada sisi lokalitas.

Qomarun memisalkan secara sederhana begini: ada petani kecil mempunyai lahan sekitar 600 meter, per musim, enam bulan sekali, dapat menghasilkan 600 kwintal. Per bulan 100 Kg. Kalau satu keluarga dalam sebulan menghabiskan beras 20 Kg, berarti petani kecil itu dapat menghidupi lima keluarga lainnya.

“Jadi, petani kecil dapat memberi makan dunia dengan cara menghidupi tetangganya,” jelas Qomarun.

Apa yang diidealkan Qomarun tersebut hanya akan tercapai kalau pola pikirnya bagi hasil. Sebagaimana dikonsepkan Alexander V. Chayanov di Rusia. “Usaha tani yang dilakukan bukan dalam rangka mencari keuntungan, namun lebih mengarah pada kemanfaatan,” ungkap Qomarun.

Akan tetapi, wacana Qomarun itu harus dihadapkan pada sistem produksi kapitalistik yang sudah merasuki sendi petani kecil. Menurut Ben White, peneliti Initiatives in Critical Agrarian (ICAS), kondisi macam inilah yang merubah relasi soasial pertanian.

Ben dalam forum yang sama, menjelaskan, petani yang memrproduksi dengan alat milik sendiri, perlahan bertransformasi sebagai bos kecil. Sipetani ini kemudian mengeskploitasi petani yang lebih kecil sebagai tenaga kerjanya.

Lalu, mereka yang menjadi tenaga kerja berubah menjadi pekerja upahan. “Inilah tendensi bentuk masyarakat di mana pola produksi kapitalis mendominasi,” kata Ben.

Analisis Ben tersebut didasarkan pada dua poin dalam karya Lenin, The Development of Capitalism in Russia. Buku yang ditulis Lenin pada masa pengasingannya, tahun 1899.

Dua poin yang dimaksud Ben: pertama, the rural bourgeoisie, yaitu petani kaya. Dari petani kaya ini tercipta kelas petani kapitalis. Biasanya kelas mereka ini sebagai minoritas. Selain menguasai tanah, mereka juga menguasai sektor industri kecil lainnya.

Kata Ben, kelas petani seperti itu ditemukan hampir di setiap desa di Pulau Jawa, bahkan di seluruh Indonesia. Keluarga mereka tidak terlalu besar, namun memiliki alat-alat produksi untuk bertani.

Kedua, the rural proletariat, petani kecil yang hanya mempunyai sedikit tanah. Bahkan, banyak dari golongan ini yang sama sekali tak memiliki tanah. “Allotment-holding wage workers, sebutan di Russia bagi para buruh tani yang hanya memiliki sedikit tanah,” ujar Ben.

Kaitannya dengan Petani dan Seni Bertani, Ben White menjelaskan bahwa Chayanov mendukung, land reform, kepemilikan tanah bagi petani dan bekerja secara kooperatif. Hal ini sebagai upaya menghindari klaster petani borjuasi yang digambarkan Lenin.

Tanpa land reform, kata Qomarun, tak akan memunculkan seribu petani. Ia tegas menyatakan perlunya tambahan luas tanah untuk memenuhi kebutuhan hidup petani.

“Tanah bagai kanvas untuk pelukis. Tanpanya, petani tak bisa melakukan seni bertani,” jelas pendiri Sekolah Tani Muda itu.

Untuk melakukan reforma agraria, bagi Qomarun, banyak syarat harus dipenuhi. Butuh kebijakan politik kuat. Organisasi tani yang kuat, data valid, dan memahami masyarakat secara umum.

“Untuk memulai reforma agraria, harus dimulai dari lapisan paling bawah terlebih dahulu,” tutup Qomarun

Reporter: Aulia Iqlima

Redaktur: Hedi

Sumber gambar: faktajabar.co.id