Home SASTRACERPEN Obituari Dasman

Obituari Dasman

by lpm_arena
obituari dasman
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Reyhan Majid*

Pagi itu Dasman menemui dirinya sangat marah: merah, penuh dendam kesumat, mendidih, meledak, pecah, terbakar, anjing!

Beragam cara ia lakukan untuk meredam emosinya yang serupa birahi anak muda, meledak-ledak. Mulai dari cara paling mulia sampai paling hina. Semuanya ia lakoni, untuk mencapai kedamaian jiwa, menjelma menjadi langka dan jauh dari jangkauannya.

Di kamar kos berukuran 2×2, belakangan Dasman sering merinci daftar dosanya. Kamar itu sungguh sempit dan memuakkan. Seonggok kasur kapuk lapuk tergeletak di sana, beberapa sisinya telah ditumbuhi jamur karena lembab. Sisanya, hanya lemari dengan dua pintu. Satu daun pintunya sudah hilang entah kemana. Di sudut-sudut kamar itu berbagai barang berserakan: pakaian kotor yang berulang kali dipakai, sepatu basah, sampah sisa makanan, bungkus kondom, bon hutang, akta kelahiran. Semua tergeletak disana.

Tikus, kecoa, kadangkala anak ular, semua bergantian mondar-mandir di kamar Dasman, ia sudah terbiasa dengan mereka. Saat musim panas, kamarnya menjelma sauna. Cukup lima menit di dalam, akan dibuat mandi keringat. Dan ketika musim hujan, air merembes kemudian menerobos masuk lewat tembok dan plafon. Tempat itu lebih pantas disebut neraka.

Dasman sedang merinci dosanya di dalam neraka. Terdengar seperti sebuah keterlambatan yang sia-sia pula.

***

Pada waktu tertentu, Dasman menundukan kepalanya. Dengan merengek, ia berdoa kepada Tuhan. membacakan rincian dosa pada secarik kertas yang sering ia tuliskan belakangan ini. Tapi Tuhan dan jajaran malaikat seperti sedang tidak ada di ruangannya, mereka terlalu sibuk untuk mendengar doa-doa Dasman. Bukan kedamaian, justru kemarahan semakin menyelimuti jiwanya.

Dasman sudah tak punya cukup uang untuk menyewa lonte. Jika ia nekat menggunakan uangnya untuk menyewa lonte, ia harus rela menambah daftar panjang di bonnya. Untuk menyiasati birahinya yang masih meledak-ledak, ia memilih beronani. Setelah sibuk memilih foto perempuan di majalah dewasa pemberian kawan, ia memulai ritualnya. Sambil mengingat-ingat aktivitas terakhirnya dengan seorang lonte sewaannya, ia memainkan kemaluannya, naik turun, seperti itu berkali-kali. Tak butuh waktu lama, Dasman mencapai orgasmenya. Namun kedamaian itu serupa tamu, singkat dan semu. Setelah itu ia diselimuti rasa penyesalan yang memeluknya dengan sangat erat. Ia semakin riuh dan angker. Ia bertambah marah. Dasman membabi buta.

***

Sore itu di rumah Dasman semua orang sedang biru-birunya. Bapaknya duduk di kursi kayu yang terletak di teras rumah. Sehari-hari memang hanya itu yang dilakukan bapaknya. Wajahnya selalu ditekuk, matanya kosong, dan pipinya semakin tirus. Lesu, tanpa kabar baik. Sang ibu telah sibuk mencaci kenyataan, selain memasak apa yang bisa dimasak tentunya. Hidupnya tak lagi membahagiakan. Tuhan seperti tak lagi membersamai hari-hari dan keluarganya.

Sepetak sawah warisan turun-temurun keluarga Dasman sudah rata jadi pondasi bangunan. Tahun ini proyek pembangunan bandara memasukkan beberapa petak sawah di desanya sebagai masterplan pembangunan. Para pemilik sawah dilarang protes.

“Pembangunan ini untuk kemakmuran kita bersama, ini saatnya desa kita berkontribusi untuk negara kesayangan kita,” ujar Kepala Proyek Pembangunan kepada masyarakat saat peletakan batu pertama proyek.

Barangsiapa yang protes dan melawan akan berakhir di bui. Nasib baik kalau hanya patah tangan atau gigi rontok di tangan polisi.

Situasi perekonomian keluarganya semakin memburuk. Lima bulan setelah tragedi kehilangan sawah, sang bapak meninggal. Bapaknya tak pernah beranjak dari tempat duduknya, hanya pergi untuk berak, kencing dan tidur. Sisanya dihabiskan di atas kursi sampai ajal menjemput. Sang ibu masih rajin mengumpat. Terkadang ia berbicara sendiri dengan sendok dan garpu. Setelah kematian suaminya, ia gila dan mulai berkeliaran di lingkungan desa sambil telanjang.

Sekarang satu-satunya kemungkinan untuk mati atau gila selanjutnya adalah Dasman. Ia menolak kemungkinan itu, berbekal ijazah SMP dan mental nekadnya, ia berangkat ke Jakarta. Mencari damai yang ia dambakan.

***

Di Jakarta, ia melihat banyak kemungkinan yang baru. Bukan hanya hidup atau mati. Misalnya, ia bisa menjadi pimpinan geng motor, bos kartel narkoba, pembunuh bayaran, dan kemungkinan terburuk adalah menjadi preman pasar. Tapi dari sekian banyak pilihan, ia hanya menjadi pramusaji restoran makanan.

Sisa-sisa uang terakhirnya ia gunakan untuk mengamankan kamar indekos berukuran 2×2. Kamar indekos yang lebih pantas disebut sebagai neraka. Ia memulai karirnya di ibukota sebagai pramusaji di sebuah warung makan. Melayani perut-perut lapar orang kota adalah pekerjaanya. Beberapa orang terlihat seperti Kepala Proyek Pembangunan Bandara di desanya. Sungguh memuakkan. Tapi tak ada pilihan, ia lulusan SMP tanpa skill. Dia hanya tau membajak sawah dan menanam padi.

Setengah tahun ia di Jakarta, mengalami banyak kejadian. Sedikit manis banyak darahnya. Suatu malam sepulang kerja di awal bulan, dalam perjalanan menuju nerakanya, ia dicegat tujuh pria yang tampak seperti anjing kelaparan.

“Bagi uang bos!”

“Enggak ada, Bang,” jawab Dasman dengan mimik muka yang takut dan pasrah.

“Enggak usah bohong. Ini awal bulan. Kamu masih dengan seragam kerjamu, jelas gajimu baru saja turun!” tegas salah satu pria.

Belum sempat menimpal dengan alasan yang lain, satu tinju sudah bersarang di wajahnya, disusul pukulan-pukulan yang lain, masing-masing di perut, dada dan kepala belakangnya. Dasman ambruk, tapi parade pukul-pukulan itu belum selesai. Ia dipukul, ditendang, diinjak, diludahi dan bo’olnya disodok balok kayu. Nasib Dasman lebih buruk daripada keset selamat datang malam itu. Tujuh orang jelas bukan lawan yang setimpal, Dasman tak sadarkan diri. Kantongnya dirogoh, gaji yang tersimpan dalam amplop langsung berpindah tangan. Belum puas dengan semua itu, ia ditelanjangi, hanya disisakan celana dalam, lalu diludahi lagi, Kali ini ludah itu disertai dahak.

Dasman ditinggal pergi.

Ternyata kemalangan belum selesai. Pagi hari, ia bangun di lorong jalan, dalam keadaan telanjang. Orang-orang disekitar, memandanginya dengan sinis, ada juga yang iba. Tak peduli dengan semua itu ia bergegas kembali ke indekosnya memakai pakaian yang ada, lalu segera pergi ke tempat kerja. Ia sudah terlambat, sangat terlambat.

Sesampainya di warung makan tempat ia bekerja, ia langsung berhadapan dengan bosnya didepan pintu masuk.

“Mana seragam mu?”

“Ini jam berapa?”

“Tidak tahu diri,”

“Dasar orang kampung!”

Sang Bos marah besar, ia menimpali kuping Dasman dengan berbagai kutukan. Belum sempat Dasman memberikan penjelasan, Sang bos menimpalinya lagi.

“Kamu dipecat!”

Dengan keadaan hancur, Dasman pulang kembali ke indekosnya yang serupa neraka itu. Ia terduduk di kasur kapuk yang lapuk itu, mencoba merenungkan semuanya.

Sawah yang menjadi pondasi bandara, rumah yang terjual, bapaknya yang mati, ibunya yang gila, Jakarta yang jahat, gerombolan preman, luka memar, darah, pemecatan dan hal-hal lain tak sempat ia ingat.

Tak sadar ia tertidur begitu pulas, sampai akhirnya ia terbangun. Ia bangun pagi itu dengan sangat marah. Endapan emosi dan takutnya telah menjelma kemarahan yang maha dahsyat. Belum juga betul-betul sadar, pintu kamarnya diketuk.

“Dasman buka!”

“Kamarmu sudah jatuh tempo!

“Bayar!”

pemilik kos sudah cukup muak untuk bersabar, menunggu Dasman melunasi tunggakannya.

“Bajingan,”

“Buka sekarang!”

“Bayar,”

“Atau kamu minggat!” Teriakan dan umpatan terus dilontarkan oleh sang pemilik kos.

Pintu dibuka.

Dasman menancapkan sebuah gunting di mata pemilik indekos, lalu terdengar teriakan. Dasman menariknya ke dalam kamar, lalu menutup pintu kembali. 100 tusukan bersarang di sekujur tubuh pemilih indekos itu. Ada luka cekik juga dilehernya. Mulutnya disumpal celana dalam.

Setelah memastikan pemilik indekos itu benar-benar mati, Dasman merogoh kantong celananya. Disana ia menemukan sebungkus rokok, ia mengambil satu batang lalu membakarnya. Asap mengepul dari mulut dan hidungnya. Lalu ia membuka pintu kosnya, menunggu siapapun menjemputnya.

Warga yang berseliweran ketakutan, segera memanggil polisi. Tak selang berapa lama beberapa polisi bersenjata lengkap datang. Persis polisi yang memagari sawahnya dengan paksa, untuk kemakmuran bersama. Ia dipukul beberapa kali sampai tersungkur.

“Angkat tangan! Kamu ditangkap!”

“Kamu akan dipenjara seumur hidup, atau mungkin dihukum mati.”

“Dasar penjahat keparat!”

Polisi-polisi itu dengan sigap memborgol tangan Dasman. Dalam keadaan diborgol, Dasman lantas dibangunkan dan dibawa menuju mobil polisi. Beberapa polisi terlihat memasang police line.

Sebelum Dasman keluar dari kosnya untuk yang terakhir kali, ia mengucapkan kalimat perpisahan.

“Hey, Bajingan. Siapa yang sebetulnya penjahat keparat itu?”

Dasman betul-betul menemukan kedamaiannya.

*Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UMY, mencintai sastra dan demonstrasi. Terima kasih untuk kawan Joey, terus melawan di manapun berada.

Ilustrasi gambar: @doomyjunkie