Home SASTRAPUISI Di Kerumunan: Puisi-Puisi Farid Merah

Di Kerumunan: Puisi-Puisi Farid Merah

by lpm_arena
Print Friendly, PDF & Email

 Di Kerumunan

Saat ini diantara sela-sela ketiak dan bau arak mulut sopir truk, kuli panggul,

Tukang bangunan, juga buruh pelabuhan,

Diantara bait-bait kepahitan dan penderitaan yang dijadikan arak-akan

Oleh politisi, televisi, media masa, dan pemerintah,

Diantara kerumunan penat yang sedang joget

Kala dangdutan

Puisiku lahir dari berbagai macam kesumpekan hati

dan api yang disulut dari dalam dada waktu

yang masih belia

Yang mencari sesuatu

Mengisi ruang, sisi kosong, yang pernah ada

Tapi telah hilang,

Semacam semangkuk sup ibu

yang sudah mulai pikun,

Semacam bagaimana cara menyapa teman,

Bagaimana cara menyalakan lilin

Cara menutup mata

Tidur

Bermimpi

mengingat

mengusap isi dada

mencium keningmu

Dan bertuhan dengan baik

Memakan bubur di teras rumah,

Menyapu gelisah yang barjatuhan dari dalam kepalaku

Sunat

Bulan depan adikku sunat,

Bulan ini gajiku disunat,

Bulan depan adikku sunat,

Bulan ini gajiku disunat,

Bulan depan adikku sunat,

Bulan ini gajiku disunat,

Bulan depan adikku sunat,

Bulan ini gajiku disunat,

Bulan depan adikku sunat,

Bulan ini gajiku disunat.

Pertanyaan – pertanyaan

Kapan lulus?

Kapan wisuda?

Kapan dewasa?

Kapan tidak jadi beban?

Kapan terakhir sholat?

Kapan tobat?

Kapan bayar hutang?

Kapan mapan ?

Kapan mau berubah?

Kapan tidak menyusahkan?

Kapan membahagiakan?

Punya rencana apa?

Kapan menikah ?

Punya anak berapa?

Kapan mati ?

Kapan?

“Anjing”

Gambar: Tanya Martin

Farid Merah lahir di Surabaya dengan sungsang dari rahim ibunya, seorang buruh warung kopi bodoh, yang bergerilya di kampus UIN sunan Kalijaga, sambil bermain peran di komunitas seni teater; teater Eska. Buku pertamanya berjudul Imajinasi Jelata terbit Juli 2020.