Home MEMOAR Seberapa Sering Kamu Melihat Katak?

Seberapa Sering Kamu Melihat Katak?

by lpm_arena
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Sidra Muntaha

Aku masih berada di Yogyakarta sekira tiga jam sebelumnya, bersiap menaja perjalanan ke desa itu di tengah cuaca yang agak mendung. Meski membawa mantel, berkendara saat hujan adalah perkara yang tidak ingin kulakukan sering-sering. Merepotkan. Kacamataku mesti tergenang air, membuat pandanganku kabur dan berkurang jangkauannya.

Namun ternyata cuaca cukup cerah sepanjang perjalanan lalu kembali mendung ketika kami sampai di Desa Wadas sore itu. Di tengah suhu yang dingin, kami disambut dengan nasi hangat dengan telur balado dan tempe orek. Warga yang rumahnya kami tempati juga selalu menyiapkan air panas, kopi bubuk dan gula pasir buat kami nikmati sewaktu-waktu.

Keramahan warga bikin temanku, Luthfi, bertanya-tanya. Tapi ia simpan pertanyaan itu sendiri dan bercakap-cakap dengan warga dan menggoda Aul sesekali. Mas Sis, salah satu warga, ikut-ikutan menggoda Aul, menyuruhnya menyanyikan Mars Gempadewa. Lagu itu berisi peringatan buat warga untuk terus menjaga tanahnya sampai mati, diciptakan tak lama setelah kabar tentang rencana penambangan di desa mereka tersiar. Tapi Aul enggan. Ia menolak dan hanya tercengir, meski beberapa kali disuruh.

Udara semakin dingin menusuk kulitku dan membuat badanku semakin lemas dan kebelet buang air. Aku pergi ke toilet yang terpisah dari rumah, terletak di belakang dapur. Memasuki kamar mandi, aku melihat seekor katak loncat-loncat di lantai seolah keramik yang diinjaknya adalah trampolin. Sambil menuntaskan hajat, aku menatap katak itu lamat-lamat.

Sebuah kalimat tanya menyembul di kepalaku, “Kapan terakhir kali kau melihat katak?” Pertanyaan itu mungkin terkesan norak dan mengada-ada. Apa menariknya melihat katak?

Di tempatku tinggal saat ini, di Yogyakarta, kebanyakan jengkal tanahnya telah dijejal aspal kering. Tempat macam itu, setahuku, kurang ramah bagi amfibi tersebut, yang kebanyakan spesiesnya membutuhkan kelembapan. Karenanya, aku merasa sudah lama sekali tak melihat katak di kota-kota.

Terasingnya katak di wilayah perkotaan ini betul-betul terjadi, disadari atau tidak. Dalam sebuah laporan jurnalistik berjudul Kepunahan Keenam: Sebuah Sejarah Tak Alami, Elizabeth Kobert menceritakan sebuah spesies katak, katak emas panama, punah di Panama. Padahal, katak itu dulu sangat melimpah di sana.

Semuanya dimulai dua dekade lalu, tepatnya 2002, ketika bermunculan bangkai-bangkai katak berwarna emas di El Valla de Anton.

Ada banyak penyebab katak punah di sana. Salah satunya, pemanasan global yang kerap disebut tapi lebih sering kita abaikan. Bencana itu terjadi, menurut James Hansen, tak lain karena pembakaran batu bara, minyak dan gas yang terus beroperasi setiap hari. Ia telah menyumbang 365 miliar ton karbon dioksida hingga hari ini. Adapun 180 miliar ton karbon dioksida juga diproduksi oleh pembalak hutan besar-besaran.

Segelintir data itu kiranya cukup masuk akal. Ia menyebabkan kepunahan 400 vertebrata, di antaranya adalah 146 jenis amfibi, di antaranya adalah katak-katak. Ini mungkin terkesan sepele. Namun kepunahan itu kini terjadi di depan mata kita, dan mungkin ada di depan mata warga Wadas.

Aku tak tahu bagaimana jelasnya habitat katak. Tapi ia berada tepat di depan mataku ketika aku buang hajat, di dalam kamar mandi yang terletak dekat sungai dan pohon-pohon. Bukit Desa Wadas memang menyimpan banyak jenis pepohonan dan tetumbuhan. Di sana juga mengalir air sungai yang panjang dan masih bersih.

Tempat ini kukira, mestinya sangat pas untuk kehidupan, baik itu manusia atau katak-katak. Bukan dinamit. Bukan alat peledak yang bakal menghancurkan bukit dan menggerus tanah dan bikin longsor.

Aku berhenti menatap katak itu, keluar kamar mandi, kembali ke ruang tamu, dan menghisap rokok bersama warga. Aul, yang nampaknya juga terserang udara dingin, pergi ke kamar mandi dan kembali dengan ekspresi takut bercampur geli beberapa menit setelahnya. “Ada kodok, cicak sama kalajengking,” serunya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Aku tertawa. Memangnya kenapa, kataku. “Seberapa sering kamu lihat kodok?” tanyaku, serius.           

*Penulis adalah laki-laki yang senang bermain gim. Beberapa waktu lalu, dia menyelamatkan Karl Marx dari kejaran polisi dalam gim Assassin’s Creed