Home MEMOAR Ngikut Geliat Arena ‘Baru’ dan Belajar ke Kedungombo

Ngikut Geliat Arena ‘Baru’ dan Belajar ke Kedungombo

by lpm_arena

Oleh: A.S. Burhan*

“Dibuka pendaftaran kru baru Majalah Arena untuk posisi reporter, illustrator dan tata usaha”
Begitulah informasi itu tertulis pada sehelai kertas folio polos tanpa ilustrasi;  tertempel di pintu sebuah bangunan lantai dasar, yang letaknya tepat di bawah bangunan masjid. 

Sepintas, ketika melihat info pendaftaran yang tidak mencolok tersebut, saya kira siapa saja, apalagi mahasiswa baru  tidaklah mudah untuk mengenalinya langsung. Demikian juga saya sebagai mahasiswa baru yang culun lagi, agak lama juga mencernanya. Namun gak tau, saat itu dalam sekian detik, bagai ada magnet kuat, saya  akhirnya kok tertarik mendaftar menjadi reporter. Spontan saja muncul motif pengin bisa menulis dan juga mengetahui bagaimana sih dunia jurnalisme pers mahasiswa itu.   

Pun, ketika melihat bangunan kantor Arena yang diwakili dengan papan kecil di atas pintu berwarna cat biru kusam tertulis: “Kantor MBM Arena, IAIN Sunan Kalijaga Jl Laksda Adisucipto Yogyakarta.” Yang ada adalah kesan kesahajaan. Hal ini berbeda misalnya, dengan UKM Kopma (Koperasi Mahasiswa) dan Menwa (Resimen Mahasiswa) yang  terlihat sepintas kesannya “wah” baik itu  kegiatannya yang tampak ramai, maupun dari segi lokasi bangunan kantornya yang memang strategis. 

Komparasi yang agak kontras antar beberapa UKM paling tidak secara simbolik itu, bagi  saya,  belakangan menjadi terang. Hampir setengah dekade sebelum kami masuk menjadi mahasiswa, dunia perguruan tinggi tengah diterapkan dengan apa yang disebut Normalisasi Kehidupan Kampus-Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK-BKK). Inti kebijakan NKK-BKK ini adalah penertiban dan re-orientasi kelembagaan mahasiswa yang didesain hanya untuk mendukung studi mahasiswa supaya fokus lulus cepat. Model perkuliahan dengan sistem kredit semester (SKS) kemudian juga diterapkan sebagai ganti non-SKS. Tujuan berikutnya dari NKK-BKK adalah sterilisasi kampus agar tidak terpengaruh dengan hal-hal di luarnya.

Sontak dengan NKK-BKK ini mulai diterapkan bahwa di dalam area kampus juga mesti ‘bebas’ dari aktivitas organisasi mahasiswa ekstra seperti PMII, HMI GMNI dst. Dan pada saat yang sama, Senat Mahasiswa yang menyimpan historisitas tertentu dan legend (kelembagaan tertinggi dan merupakan lembaga representatif dari semua mahasiswa di kampus) ‘dibekukan’ sampai batas yang belum ditentukan untuk diganti. 

Di IAIN SuKa, Senat Mahasiswa ‘dinormalisasi’ dan baru ada lagi pada awal 90-an dengan nama: Badan Perwakilan dan Kegiatan Mahasiswa (BPKM), lalu diubah lagi dengan Senat Mahasiswa Institut (SMI). Implikasi dari dibekukannya Senat Mahasiswa zaman itu adalah kegiatan-kegiatan penting seperti menyangkut pengenalan lembaga mahasiswa di kampus kepada mahasiswa  baru yang biasanya di-handle langsung oleh lembaga ini tidak kami temukan.  Dan plonco atau klu sekarang ospek itu pun harus diganti dengan kegiatan penataran. Klu gak salah ingat, SC-OC kegiatan ini pun  diurus oleh pihak rektorat langsung. 

Beberapa kegiatan penting untuk mahasiswa kemudian modelnya adalah ‘tersentral’ dari Kemendiknas Pusat. Kegiatan penataran misalnya langsung di-handle rektorat bekerjasama dengan BP7  yang waktu itu merupakan badan yang dimandati sebagai penanggungjawab penyelenggaraan penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Dan kemudian mungkin ada anggapan selama ini mahasiswa seolah buta atau miskin ideologi Pancasila. Maka dari itu, perlu penanaman ideologi bangsa ini pada mahasiswa baru. 

Padahal sejak 6 tahun lamanya di tingkat pendidikan sebelumnya, sang mahasiswa itu sudah  dijejali penguatan ideologi tersebut dengan pengajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Kami sebagai mahasiswa baru pun masuk kampus IAIN harus melalui indoktrinasi penataran P4 ini. Saya masih ingat waktu itu saat penataran tak dinyana dapat bersama dalam satu “kelompok” (bangsa V) dengan beberapa teman yang nantinya juga jadi para aktivis mahasiswa yang kritis. Dan anehnya capaian nilai kelompok kami pada penataran tersebut sebagai kelompok dengan nilai yang sangat memuaskan. 

Dan tambahan info singkat, saya tidak tahu persis hal ini ada hubungannya NKK-BKK atau ini memang kelanjutannya saja. Kebijakan sistem pengajaran baru saat awal masuk studi di kampus IAIN waktu itu, untuk mahasiswa baru, selama setahun  tidaklah langsung menjadi mahasiswa di fakultas dan pilihan jurusannya. Kuliah awal, di kampus IAIN  semester pertama adalah kerangka kuliah pengenalan institut karena itu disebut SPBI (Semester Pengenalan Bersama Institut). Kemudian setengah tahun berikutnya adalah SPBF. Prosesi kuliah  semester kedua ini adalah masa persiapan dan pengenalan untuk fakultas dan jurusan yang dipilih.  Makanya proses angkatan kami bergabung di Arena baru dapat leluasa di pertengahan tahun 1988. 

______

Singkat cerita, setelah mengikuti tes tertulis  serta wawancara dan dinyatakan diterima, kami diwajibkan untuk mengikuti Upgrading. Pasca proses Upgrading  untuk kru baru ini mulai lah kami secara resmi dipersilahkan berkantor. Biasanya saat jam kosong atau habis  kuliah di hari jamnya yang pendek, kami mampir ke kantor hanya sekedar baca koran umum atau majalah-majalah kiriman dari luar kampus. 

Agak canggung dan  bingung juga saat awal-awal masuk kantor Arena. Hal ini disamping karena kami belum kenal banyak pengelola Arena lama (senior), tampaknya Arena juga belum ada rencana agenda terbit. Suasana kantor tidak begitu ramai dan pengelola lama atau baru  seringkali hadir berselingan. 

Oh ya, ada lagi  implikasi ‘turunan’ dari kebijakan NKK-BKK ini–yang bagi kami waktu itu–terasa konyol dan sungguh juga gak masuk di akal. Hal ini terkait edaran pihak rektorat yang mengharuskan frase yang ada kata “mahasiswa” mesti diganti atau tepatnya ‘dicabut’ (dari historitasnya?). Istilah pers mahasiswa tidak diperkenankan dalam lembaga Arena oleh pihak rektorat. Yang boleh adalah penerbitan mahasiswa atau pers kampus. Buanglah  itu  jauh jauh bahasa kata “pers mahasiswa”.   Demikian lah komparasi  dalam konteks di  IAIN waktu itu-yang saya sebut diatas- menunjukkan kontrasnya. 

Kopma dan Menwa tentu adalah lembaga atau bidang bidang kegiatan prioritas dari kebijakan NKK-BKK tersebut yang disediakan mahasiswa dengan fasilitas dan support yang cukup luar biasa. Sementara pada bidang pers di kampus, seperti Arena oleh pihak penguasa kampus mungkin juga dianggap hal yang  harus diwaspadai dan dikendalikan. Karena itu alih-alih memberi dukungan secara kuat dan sportif kepada majalah atau pers mahasiswa seperti Arena, pihak rektorat lebih banyak mencurigai untuk tidak mengatakan membonsai Arena. 

Kiranya hal ini dilakukan tidak hanya oleh birokrasi rektorat IAIN saja tetapi juga dilakukan di semua perguruan tinggi seindonesia. Nasib pers mahasiswa di semua kampus pergolakan juga mengalami pembonsaian dan diberangus.  Hal yang sama seperti terjadi pada  koran Mahasiswa Indonesia dll, yang pernah  secara historis memiliki peran yang cukup signifikan terutama di masa gejolak perubahan politik dari Orla ke Orba. Dan begitulah posisi dan ‘status’ Arena dalam peta kebijakan birokrasi kampus tampak  seperti anak ‘haram jaddah’ dan bukan hal aneh jika pengembangan majalah Arena tampak tak sementereng dengan  beberapa lembaga lainnya yang sudah kami sebut di atas. 

 Majalah Arena yang Tetap Menggeliat

Dengan berjalannya waktu, memasuki awal tahun 1989, sungguh ternyata kesan ‘biasa saja’ saat awal masuk Arena, seperti cerita di atas, segera banyak berubah menjadi menarik dan bergelorah-rah. Hal itu terasa berbeda saat tahap mulai rapat-rapat redaksi untuk menambah beberapa isi rubrik untuk terbitan edisi tahun 1989. 

Wakil Pemred waktu itu Mbak Istifaiyah memimpin rapat dengan suasana yang begitu egaliter. Selain, terus terang orangnya  memang baik hati,  cantik dan tidak sombong he he. Kami-kami kru baru yang masih culun diberi kesempatan yang sama untuk menanggapi, usul dsb. Yang jelas di situ sudah terasa kami menemukan ruang komunitas intelektual dan jurnalisme  yang tepat. Kami mendapat banyak info situasi penting dan updatenya dengan lebih teliti dan kritis. Dari situ juga ane yang pengetahuannya perihal dunia wartawan (jurnalistik) nol, dan  semasa sekolah SLTA (MAN I Yk) banyak habis waktunya bergiat di teater sekolah, mulai memahami betul apa itu angle dalam melihat kejadian dari isu yang akan diungkap; agar jadi berita-laput yang menarik. Para senior Arena kiranya juga pribadi-pribadi yang  humble, padahal banyak dari mereka adalah tokoh-tokoh organisasi mahasiswa ekstra yang sudah malang melintang.

Sependek ingatan kami selama proses tes penerimaan, kemudian diterima dan Upgrading, PU dan Pemred Arena Mas Imam Aziz dan Mas Mun’im Dz yang namanya sudah legend belum dapat membersamai kru baru karena masih banyak “kegiatan” di Jakarta, begitu ucap satu senior di akhir proses upgrading. Beberapa bulan kemudian, absennya para senior itu diketahui kami para yunior sebagai keterlibatan mereka membangun jaringan persma yang dikenal dengan Poros Jogja-Jakarta. 

Lembaga persma yang mempelopori ini yang dari Jogja berasal dari IAIN yang utama ya dua senior tadi. Dari UGM ada Hamid dan Thoriq, UII dengan Hamid Basyaib, Atha Mahmud dst. Untuk poros Jakarta,  sejak awal, bukanlah dari kampus-kampus utama sepert UI,  tapi adalah kampus UNAS dengan Amir Husein Daulay (alm) Imron Zain Rolas dll. Di Jakarta ini konsolidasi mereka makin rapat dengan Universitas Pancasila dan berikutnya seperti IKIP,  UNTAG dan tak ketinggalan Universitas Mustopo (satu-satunya yang) Beragama. Melalui event nasional maupun regional  pelatihan jurnalistik dan temu aktivis persma, serta event kreatif yang berani dengan memberi tempat budayawan yang sudah dicekal Orde Baru seperti Rendra, konsolidasi persma ini menjadi embrio gerakan mahasiswa yang waktu itu sudah mati suri dengan penangkapan atau pencekalan tokoh tokohnya oleh rezim Orba.  

Dari hal ini dapat dibilang Arena mulai turut menabuh genderang lonceng gerakan mahasiswa yang telah lama tak terdengar.  Saya pernah ketemu dengan  Bang Amir Husein Daulay ini bahkan cukup sering terutama di aksi-aksi mahasiswa berikutnya, ia begitu welcome dengan aktivis mahasiswa dari Arena dan selalu menanyakan “Bagaimana kabar Kyai Rebo?” Begitu ia menyebut Mas Imam Aziz. 

Yang tak pernah akan kami lupakan di Arena bagi kami-kami ini yang kru baru adalah senantiasa mendapatkan info baru perkembangan situasi politik nasional, maupun isu atau kasus yang terjadi di kampus lain dari limpahan obrolan bersama para senior atau tokoh tokoh nasional yang datang ke kantor Arena atau diundang saat event tertentu.  Ya, meskipun awalnya kami hanya menjadi pendengar setia dengan kebingungan tanpa kursi untuk duduk di ruang tamu kantor yang sempit itu.  

Dan asem ogh hanya selalu ada takdir  tiga kursi itu, yang perlu perjuangan untuk bisa duduk sejenak berebut asupan gizi informasi yang begitu berharga itu, biar kami jadi  intelegensia, he he. Asupan intelektual itu kemudian juga dari bacaan dari koran dan majalah yang begitu berlimpah, hasil saling tukar dan kirim majalah koran persma se-Indonesia. Salah satu majalah atau koran yang saya gandrungi adalah koran Politika terbitan dari presma Universitas Nasional (UNAS) Jakarta. Ada secuil kisah dengan koran Politika ini. Ya karena, selain biasanya statemen protes itu dimuat utuh, liputan dan sajian berita koran ini juga lugas  tanpa tedeng aling-aling, terutama terkait isu-su perbaikan mutu perkuliahan dan kasus-kasus protes mahasiswa atas kondisi kebebasan akademik di kampus. Dari koran inilah kami tergerakkan dan juga terinspirasi mengapa dan bagaimana ‘perlawanan’ mahasiswa menghadapi situasi kemampetan yang sama–yang kita sadari juga terjadi di Kampus Putih. 

Seingat kami, ini adalah demo protes (aksi massa)  pertama kali  terkait komersialisasi pendidikan (nilai mata kuliah) dari apa yang dilakukan oknum dosen Bahasa Arab di Fakultas Tarbiyah. Kisahnya dimulai dengan adanya keresahan pada sejumlah  mahasiswa karena ada dosen Bahasa Arab (DA) yang mengaitkan perolehan nilai A mata kuliahnya  dengan mewajibkan mahasiswanya harus beli buku diktat buatan oknum dosen tersebut. 

Harga diktat itu sendiri cukup mahal untuk ukuran mahasiswa kebanyakan. Apalagi untuk mahasiswa dengan kantong cekak kayak kami ini.  Pasalnya, kalau tidak beli dipastikan selalu mendapat nilai D walau kemudian kami mahasiswa sudah mengulang (her/remidi). Banyak temen di jurusan kami, Tadris Bing, dan juga di Tadris Bahasa Arab seperti kawan Saifudin Zuhri, Arif Hakim (yang kelak juga masuk jadi kru Arena) adalah sesama korban dari tindakan komersialisasi nilai ini. 

Bukan mengada-ada, kami ini yang dari latar belakang pesantren dan juga banyak teman lainnya  bukannya sok percaya diri pasti mampu mengerjakan tes ujian mata kuliah bahasa arab itu. Karena itu lah kami mencoba mengkomunikasikan langsung masalah ini kepada dosen bersangkutan. Kami pernah dapat menemuinya dengan meminta untuk ditunjukkan kertas jawaban tes ulangannya. Namun kami tak pernah direspon dan  kertas jawaban tesnya juga tak pernah diberi. Pihak Dekan juga tidak tegas atas perilaku dosen tersebut.

Singkat cerita, dari komunikasi dan kondisi yang  mentok  tersebut kami pun mengambil sikap dan berencana memprotesnya. Saya masih ingat rapat pertama diadakan di rumah kost sempit kawan Arif Hakim yang terletak di Papringan. Dan rapat berikutnya pernah juga bertempat di kantor majalah Arena. Pada rapat di ruang bawah masjid   ini dibicarakan tentang bentuk dan tentatif kapan aksinya. Yang kemudian disepakati bentuk aksinya adalah protes-demo (aksi terbuka). 

Semua setuju, cuma saya mengusulkan perlu ada juga dibuat semacam ‘statement’. Bonggan lalu saya malah ditugasi temen temen untuk membuatnya. Namun, entah bagaimana  rencana aksi  ini ternyata bocor. Dan yang tak terduga, ada beberapa senior yang bilangnya mewakili suatu kalangan mahasiswa dan kebetulan ia juga ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Tadris Bing (EDSA) Fak Tarbiyah menyarankan untuk tidak melakukan protes dengan pertimbangan nama baik dari dosen itu sendiri, dst. Sontak, kami sempat keder dan bingung juga. Kita-kita yang resah dan mau demo ini kan mahasiswa yang relatif baru. Dan kebanyakan dari kami yang gerah atas perilaku “mal-praktek’ dosen itu juga kan bukan siapa siapa. 

Kalau gak salah ingat, hampir kita yang mau protes ini juga tidak atau belum sempat ikut ‘masa pengenalan’ dari organisasi mahasiswa ekstra apa pun. Jadi kita hanya mahasiswa yang masih dianggap culun dan memang ndak punya kenalan senior-senior mahasiswa organisasi ekstra. Jadi praktis gak punya basis gitulah. Tapi nggak tahu, ada  rasa yakin bahwa sikap kita ini  bukan jalan yang salah. Bahkan terasa ada panggilan kuat dengan bareng-bareng  tentunya untuk minimal mencoba berusaha protes apapun nanti resiko yang terjadi. 

Jadinya kita tetep kukuh, menolak dan  mengabaikan saran itu. Sikap demikian untungnya justru didukung senior PU Arena waktu itu. “Tetap lanjut saja sahabat-sahabat. Ibarat mancing dapet aja ikannya dulu kalau bisa airnya tidak mesti keruh,” begitu ucapnya singkat. 

Tepat pada hari yang telah  ditetapkan, demo protes itupun kita gelar dengan 70-an lebih massa aksi damai mendatangi kantor Dekan. Tujuh perwakilan mahasiswa yang sejak awal sudah kita tentukan pun masuk ke ruang Dekanat. Lancar dan aman. Terjadi sedikit orasi dilanjut dialog. Dekan menjanjikan akan segera memanggil yang bersangkutan dan mengambil tindakan-sanksi sesuai aturan yang berlaku. Statemen kita tinggal dan serahkan ke jajaran Dekanat. Delegasi atau perwakilan meninggalkan ruang dekanat. 

Lucunya, karena ini demo pertama kali dan belum ngerti ada sejumlah media seperti, radio BBC atau UNISI yang lazimnya saat itu adalah segelintir dari media yang berani meliput, sebagian sisa statemen yang kita fotocopy pake uang bantingan itu, spontan kita tidak kirim ke media tersebut. Tetapi justru kita sebar bagi-bagi saja ke mahasiswa yang menonton aksi. Bagaimana hasil aksi damai itu? Agak butuh sampai satu setengah bulan akhirnya dosen itu di non-jobkan dari sebagai pengajar. 

Proses dan pengalaman aksi  yang cukup menegangkan–karena pertama kali ini–memberi tempat dan kesadaran baru bagi aktualisasi kami mahasiswa  untuk “berkata tidak dan lawan” atas  kondisi perkuliahan yang buruk dan birokrasi kampus yang mampet. Di situ kami juga merasa Arena di garis idealisme mahasiswa terkait peranannya Arena yang asyik saat genting itu. Perlahan namun kongkrit dari aksi agak senyap dan tanpa liputan media tersebut menunjukkan bagaimana Arena mengajarkan kami untuk berani bertindak menjebol sesuatu yang tabu dengan basis analisa yang argumentatif dan kritis saat itu. 

Block out dan Liputan Langsung ke Tapak Kasus Waduk Kedungombo,

Awal tahun 1989,  edisi ke berapa persisnya saya tidak ingat, terjadi ‘peristiwa’ block out (penghitaman pada isi tulisan tapi judulnya tetap ada) pada satu halaman rubrik kolom di Majalah Arena. Sungguh dulu awalnya kami  gak paham persis duduk soalnya. Namun dalam perkembangannya, kami menjadi mengerti apa sesungguhnya yang terjadi. Pada tahun itu sudah menjadi pemahaman umum, kebijakan redaksi untuk swasensorship  di kalangan media cetak (pers umum) memang demikian menggejala. Alih-alih memuat berita atau liputan apa adanya, apalagi yang menyangkut peristiwa atau tulisan yang dianggap membongkar borok atau kritik dari pembangunanisme (terjadi konflik di masyarakat atau ketimpangan sosial dll akibat adanya proyek pembangunan), media umum waktu itu bisa jatuh dibredel atau ditutup; maka mensensor sendiri dulu itu berita-peristiwa atau bahkan sekalian tidak memuatnya adalah pilihan yang aman.

 Tampaknya situasi ini juga sudah merambah di dunia akademis IAIN Sunan Kalijaga pada waktu itu yang dalam hal ini diperankan pihak rektorat. Tapi dari situ juga kami menyadari bahwa itulah ide cerdik para senior sebagai cara berkelit, melawan, dan bertahan ARENA dari campur tangan pihak rektorat (Purek III). 

Para senior jelas memberi contoh kongkrit  untuk tidak takluk pada robot-robot pemuja stabilitas pihak rektorat yang ketakutannya berlebih karena kolom itu berisi tulisan Arif Budiman tentang “Regenerasi Orde bBaru” yang dianggap berbahaya.  Bentuk perlawanan dengan blok out adalah genuine  dan menjadi kesadaran kami untuk tetap ‘melawan’ secara cerdik. Dan menjadi batu bata perlawanan yang makin intens dengan tetap menulis secara kritis. Di tengah arus demikian, pasca black out tampaknya justru tak ada kata surut. Gelora ‘perlawanan’ terus berlanjut. Dan Arena pada tahun awal 1989 justru kembali melakukan perekrutan kru baru untuk menambah pengelolanya (jurnalis) yang fresh dari mahasiswa baru (kebanyakan mereka mahasiswa masuk angkatan 1988). 

Oh ya, dalam ber-Arena dikenalkan juga oleh para senior, bahwa pilihan jurnalisme Arena adalah digaris new journalisme yang bertumpu pada investigative reporting dengan tetap penyajiannya diusahakan dalam bahasa yang nyastra. Semacam ‘ideologi’ dalam jurnalisme Arena ini tampak betul betul ditekankan oleh senior pada pribadi-pribadi kru baru dan lama. Dan hal ini juga tidak hanya  jatuh pada kredo lamis yang tak dilakukan. 

Saya mendapat cerita kemudian saat ‘dialih tugasi’ oleh Mas Suaedy untuk menjadi ‘wakil’ simpul jaringan mahasiswa Jogja awal thn 1989 terkait KSKPKO (Komite Solidaritas Korban Pembangunan Waduk Kedungombo). Mas Suaedy dan Mas Imam cerita bahwa mereka berdua  pernah meliput  langsung ke daerah tampak Kedungombo. Kejadiannya mungkin sekitar pertengahan atau akhir tahun 1988. Dalam liputan itu , diceritakan juga bagaimana mereka sempat ‘dikejar-kejar’ aparat Babinsa; atau cerita sedih responden warga setempat yang setelah sempat diwawancarai Arena, kemudian diintimidasi pihak aparat keamanan tertentu. 

Tentu di waktu itu tindakan liputan investigasi demikian adalah hal ‘gila’ dan butuh nyali yang besar. Namun yang lebih penting liputan ini ternyata memberikan spektrum real (nyata) apa yang terjadi dengan dampak pembangunan waduk tersebut di tingkat warga, di tengah media umum tidak dapat berbuat apa apa. 

Sependek ingatan saya, aksi solidaritas mahasiswa turun pertama kali ke daerah tampak Kedungombo  ngumpulnya di halaman depan masjid IAIN SuKa untuk yang aktivis dari beberapa perguruan tinggi di Jogja. Kita menyewa bus menuju tapak dan nanti ketemu di TKP dengan temen aktivis yang lain baik dari Semarang, Salatiga, UKSW maupun Solo. Sebelum turun, beberapa jaringan NGO mungkin dari orang seperti Mas Jhoni Simanjuntak yang punya basis di Kedungombo telah memberi tahu akan rencana kedatangan mahasiswa tersebut. 

Kalau gak salah juga jaringannya Emha dan Toto Rahardjo dimana  beberapa temen ISI seperti antara lain Brotoseno dkk sudah live in di situ beberapa hari sebelumnya. Dan tentu juga jaringan Mas Imam yang terkait dengan mahasiswa IAIN yang berasal dari di Kabupaten Tapak yang meliputi Sragen, Grobogan dan Boyolali seperti Mas Amir Makruf Ireng dll. 

Titik kumpul  antara mahasiswa dan petani mengambil tempat  di sebuah lapangan dekat dengan lokasi waduk yang akan dibangun. Untuk sampai lokasi ini, rombongan mahasiswa berjalan cukup jauh. Namun kelelahan itu segera hilang setelah kita bisa saling sapa dan bertemu dengan para petani dan warga  Kedungombo. Moment pertemuan dalam suasana yang genting dan rasa mampet, namun juga terasa ada asa- energi bangkit bersama untuk bisa menghadapinya. Saya kira pengalaman kami pertama kali di daerah konflik. Bagi saya pribadi ini  juga pengalaman yang luar biasa sebagai mahasiswa, yang nantinya sangat mempengaruhi jalan dan sikap saya ke depan. 

Forum pertemuan di tanah lapang itu tak berlangsung lama, karena tiba-tiba 3 mobil jip yang berisi komandan Kodim Boyolali Muh Hasbi (dikenal sebagai perwira yg mengawali tindakan kasus petrus di Jogja) hadir mengagetkan semuanya. Komandan kodim yang tampak dingin ini meminta kami untuk membubarkan acara tersebut. Tidak sempat terjadi kericuhan dalam moment itu, karena mahasiswa menahan diri bahkan sebagian mereka mengajak warga atau petani Kedungombo kembali ke kampungnya. Beberapa mahasiswa bahkan mengalihkan dengan bernyanyi bersama lagu-lagu seperti Serenade, Kacapiring Badega dan kemudian beringsut meninggalkan lokasi.

Foto Berita Aksi Mahasiswa di Kedungombo dan Kehilangan Sepeda Motor

Yang menarik dari peristiwa solidaritas turunnya  mahasiswa ke Kedungombo ini  nyatanya tidak berhenti disitu saja. Waktu itu walau memang tak ada liputan dari media massa umum terbukti dengan tidak adanya wartawan peliput yang tampak di lokasi, ternyata tetap ada juga akhirnya media yang memuat aksi solidaritas itu. Koran itu –terutama yang saya tahu– adalah koran Wawasan dan Kedaulatan Rakyat (KR). Koran ini menampilkan foto aksi solidaritas mahasiswa ke Kedungombo tersebut di halaman pertama atau akhir, saya lupa, tetapi yang jelas  foto berita itu cukup mencolok. 

Bagaimana KR mendapat akses foto itu dan tiba-tiba berani memuatnya? Saya lihat foto itu ada inisial ias/ima. Selidik punya selidik, ternyata mas Imam Aziz lah yang dengan temannya redaktur KR (ias) waktu itu berinisiasi dengan ‘gagah berani’ memberitakan peristiwa aksi mahasiswa di Kedungombo yang sangat penting  tersebut. Pemuatan ini tentu menggembirakan banyak pihak. Dan saya sendiri jelas merasa bangga karena foto itu adalah hasil jepretan kami sambil aksi di Kedungombo waktu itu he he. Yang jelas dengan adanya pemberitaan aksi solidaritas mahasiswa datang ke Tapak, kasus Kedungombo kemudian menjadi gempar. Kasus Kedungombo pun naik menjadi kasus nasional. 

Saya ingat waktu itu kemudian ada fax dari temen UKSW, Stanley, untuk segera kembali ke Salatiga. Saya  dengan Mas Suaedy dan mengajak satu temen dari UII Gang Rode naik bus ke Salatiga. Di kampus UKSW kami ditemui Pak Arief, Ariel, Stanley dan berikutnya juga Mas Jhoni Simanjuntak yang intinya segera sore itu, mereka  perlu kami mahasiswa untuk mendampingi warga petani Kedungombo (yang sudah disiapkan segala tetek bengeknya termasuk tiket pesawat ke Jakarta oleh Kementerian Depdagri) karena ada permintaan untuk bisa bertemu dengan Mendagri Rudini. 

Orang nomor satu di Depdagri ini waktu itu agak mulai populer karena menteri satu ini berani sedikit terbuka gitulah paling tidak menurut media. Sontak, kawan aktivis yang dari Rode menjawab siap. Namun Mas Suaedy dan saya lebih  menjawab bahwa  secara prinsip  kami mahasiswa bersedia akan mendampingi namun teknis dialog dan capaian ke Jakarta harus dibicarakan bersama dulu di tingkat temen-temen mahasiswa di Jogja. 

Di tengah jalan pulang dari Salatiga, sempat saya dan Mas Suaedy bicara berdua “Tetap kita butuh ngobrol dulu sama temen-temen Bur, kalau kita langsung siap berangkat ke Jakarta menenemani warga, naik pesawat lagi itu gimana..  Kita kan juga belum pernah itu naik pesawat… Nanti kita nggak menemani malah bisa bingung bersama hehe,” ucap Mas Suaedy  sambil ngekek menutup pembicaraan. Tentu dalam batin, saya juga mengiyakan sambil menggurutu eh menerima lah.. Kan kita memang juga mahasiswa dari kelas kere yang tidak biasa dan kurang etis saja untuk naik pesawat dengan tiba-tiba he he. 

Singkat cerita sampai di Jogja kami pun marathon mengadakan rapat-rapat persiapan aksi pendampingan untuk ke Jakarta dengan berbagai aktivis dari perguruan tinggi yang ada di Yogya. Salah satu tempat rapat itu (jadwal rapat sejak sore) adalah di markas temen-temen UII yang disebut Gang Rode yang lokasinya sekitaran Jl. Kusumanegara ke barat dikit. Dan waktu itu ceritanya malam sekitar jam 20.00 WIB saya pulang dari rapat tersebut dengan berkendara motor honda astrea 800 keluaran baru, dan mampir dulu juga ke kantor Arena. 

Saya parkir sepeda kebanggaan itu di pintu gerbang samping bawah tangga masjid. Di kantor Arena keadaan sepi, saya sendirian coba mengetik tepatnya belajar buat puisi dengan ditemani bunyi radio entah dulu radio itu milik siapa. Ada sekitaran lama waktu kurang satu jam saya di situ. Keknya puisi itu jelek sekali hasilnya dan karena itu saya pun cabut untuk pulang ke kost. Pintu Arena kukunci dan saya menuju ke motor dimana ku parkir tadi. 

Ya Allah, motor itu sudah tidak ada. Lenyap tanpa bekas. Sontak saya jelas sedih dan sempat ngungun ditambah pusing. Soalnya itu motor, kreditannya baru diangsur beberapa bulan, dan masih jauh dari lunas cicilannya  dari koperasi guru bapakku yang bergaji kecil di kampung. Uhuk.

Kembali ke solidaritas mahasiswa yang tergabung dalam KSPKO, beberapa minggu pasca rapat marathon ternyata gelombang dukungan aksi dari mahasiswa makin konkrit, meluas dan terjadi di beberapa tempat. Sebelum sampai aksi dialog ke Mendagri, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Tengah dengan berani justru mendatangi kantor Gubernuran  Jateng. Dari aksi-aksi mahasiswa tersebut, dimana saya akhirnya tidak bisa ikut dan hanya tau dari cerita temen serta dari beberapa media yang sudah berani memuat, terjadi  perkembangan kasus yang cukup signifikan bagi pembelaan petani-warga Kedungombo. Terungkap bahwa selama ini ganti rugi lahan yang seharga satu batang rokok permeter itu ternyata dikentit tim pelaksana pihak Prov Jateng. 

Hal ini  terkonfirmasi oleh Bank Dunia yang memberi bantuan pinjaman untuk proyek pembangunan waduk tersebut sejak tahun 1984. Sekali lagi ini karena terkait impact demo dukungan mahasiswa dan juga oleh media nasional yang mulai berani memberitakan, sehingga kasus Kedungombo menjadi lebih terbuka dan juga jadi isu sampai ke tingkat internasional.

Bukan hanya mengelola penerbitan majalah bulanan (eh tepatnya terbit tengah tahunan ding), Arena juga merespon perkembangan situasi yang lagi hangat di tanah air dengan mengadakan seminar. Salah satu seminar itu yang kami ikuti adalah tentang perdebatan sastra kontekstual terkait  fungsi dan peran sastra dalam perubahan baik di dunia seni-kebudayan, maupun konteks Indonesia dalam masa authoritarian. 

Hadir pada waktu seminar itu antara lain dua narasumber yang populer dan dianggap kritis, yakni Arief Budiman dan Ariel Heryanto yang saya ingat betul mereka jauh-jauh naik bus dari UKSW Salatiga sampai di Kampus Putih. Oh ya, kehadiran dua narsum ini tentu menggambarkan pada jejaring sastra Arena sejak awal memang tampak luas dan punya atensi yang serius terhadap perkembangan sastra. Dan terkait atensi itu juga diwujudkan pengelola Arena beberapa kali menerbitkan antologi puisi dalam  penerbitan majalahnya. 

Sehingga bukan hal baru jika penyair-penyair dan anggota dari Teater ESKA dan luar kampus, bergaul dekat dengan Arena. Mereka kawan kawan Teater Eska seringkali nongkrong di Arena waktu itu. Bahkan beberapa angkatanku dan di bawahanya seperti kawan Majidun dan Agus  Muhammad dia ndobel dengan bergiat juga di Eska Teater. 

Mengenang ‘kuliah’ di arena  IAIN  waktu itu yang penuh gelora, saya kira, kami beruntung menjadi bagian mahasiswa  yang memang ‘ditakdirkan’ tersangkut di ‘era zaman bergerak’  untuk mengatakan  ‘tidak’ terhadap pembungkaman yang dilakukan rezim Orde Baru yang tiranik. 

Arena mungkin adalah minoritas dari sejumlah  (pers) mahasiswa yang  idealis di tengah mayoritas mahasiswa yang tertidur lelap atau memilih posisi aman dalam cengkeraman rezim Orde Baru yang represif-otoriter. Namun, pilihan sikap mengkritisi bahkan ‘melawan’ rezim Orde Baru yang hegemonik dan masih sangat berkuasa, tentu pilihan berani, penuh resiko dan juga menantang. Begitu lah  tetap saja pilihan itu sudah kita ambil. Dan tanpa pretensi disebut heroik, itulah warna sejarah yang pernah dilakoni Arena. Di sini, perjalanan Arena bukan saja sebagai pers mahasiswa tapi juga dalam sejarah pergerakan mahasiswa secara nasional, punya peranan yang cukup signifikan. 

*Pemimpin Umum Majalah Arena (th 1992-1994). Sebelumnya pernah Ka Litbang Arena  dan Redaksi (1988-1991)  Untuk kontak dapat melalui email: a.s.burhan.f@gmail.com  | Foto Dokumentasi Pribadi