Home SASTRAPUISI Tanjung Perak: Puisi-puisi Farid Merah

Tanjung Perak: Puisi-puisi Farid Merah

by lpm_arena
Print Friendly, PDF & Email

Khotbah Jumat

Khotib bilang langit itu pualam tak berkesudahan
kemakmuran yang membahagiakan

Tapi aku tak paham

Khotib bilang langit itu menawan tanpa padan
Kelengkapan yang menentramkan

Tapi aku sukar

2021

Tanjung Perak
(Antara pelabuhan dan kegelisahan)

Jalan berdebu
Umpatan
Mata nyalang
Semua berebut
Cari santapan;

Mulai Pemodal
Pejabat
Pemuka agama, pemimpin umat
Polisi, tentara,
Maling, rampok, begal,
Kuli, tukang,
sampai kerekere
di Bantaran Kalimas
Dengan hasrat telanjang bulat

Berdesakan
Seperti ikan sarden di dalam kaleng

Kaki lima
Lagu Rhoma
Gelandangan
Pengemis meneteki
bayinya dengan keringat
Nguar bau pesing dari sudut tak terlihat
terlentang lelaki di trotoar
Pulang tak sempat
Jangan ditanya soal rehat

Suara adzan dari toa masjid setempat
Membangunkan mayat hidup menuju keterasingan lain
Bunyi lonceng dari cathedral terdekat
Membuat seekor domba menyanyikan lagu Didi Kempot

Ada Mariana dengan ketaatan
Di kedalaman palungnya
Menemani seekor monster bernyanyi
Rok mini body padat
Mata sayu
Senyumnya menyedihkan
Gincu yang pudar
Tali di leher
Digandeng sehabis keluar
Dari resleting yang ditutup

Semua berdesakan
Seperti ikan sarden di dalam kaleng

2021

Kuli Pelabuhan

Orang bilang, kampungku tempat uang
Adalah pelabuhan
Tapi, ini hari tak ada yang mencari kuningan dan besi
di bandar-bandar, antara gudang, truk, dek kapal, dan sekoci
Aku sendiri telah sepi
memanggul nasib dari kapal ke kapal
mencari rongsokan tertinggal
Dan di pelabuhan itu kusemayamkan matahari di antara kardus dan karung goni

Aku kuli pelabuhan
berjalan menyusur tanjung
menjemput hari berlari

2021

Kuli Proyek

Delapan belas jam
keras kukuras tenaga
jadi kerja-kerja

tangan kasar
Urat tegang
otot dan watak kaku
Badan pegal
Perasaan sebal
Pikiran bebal
Berpasir dan berdebu

Upah
Tak juga dibayar
Walau harian
Sumpah serapah
Upah
Sudah dibayar
Awal bulan
Pongah

2021

Pidato Walikota

Di kota tak ada yang gratis
Makan, minum, tidur, hiburan,
Di kota tak ada yang gratis
Beragama, sekolah, kuliah, kerja,
Di kota tak ada yang gratis
Berteman, kenalan, pacaran,
Di kota tak ada yang gratis
Kawin, beranak, mandi, pipis, dan mati

Ayo ke kota
Apapun tersedia
kita mati di sana

Di kota matahari sengaja diredupkan
banyak orang teler berat,
Atau tidur sambil jalan
McDonald mengunyah pajak negara
Bioskop melotot melihatmu ciuman dengan kenalan
Dan tunawisma diproduksi secara masal

2020

Pangeran Berkuda Poni Putih
Untuk Umbu Landu Paranggi

Kupanggil kau dari tahun tahun kelanaku
Kucari kau
Kubunuh masa remaja antara aku dan sebayaku
Kututup diri dari umur yang penuh gemerlap, dan keriuhan itu

Masuki kesunyian antara lelap dan jagaku
Membaca anak anak yang mengandung sajakmu
Mencari kau Pangeran berkuda poni putih
Berpena, tak berpedang bersinggasanakan jalanan
Antara kantor Pelopor Yogya dan Malioboro 175 A

Dan di hari baik bulan baik
Kau mengguyur permukaan batinku dengan sajakmu menggenangi pagiku

2021

Farid Merah, penikmat sastra Amerika latin, lahir di Surabaya 19 Desember 1995. Ia adalah anggota aktif Teater Eska yang juga gemar bermusik dan bermain peran. Kini, ia belajar menulis puisi di “Kata Penyair”, salah satu program kelas menulis yang diampu Ulfatin CH  dan diinisiasi oleh para seniman Teater Eska. IG @faridmerah08

Ilustrasi: Faqih Sampurno