Home BERITA Tetua Desa Wadas: Kita Mungkin Bakal Mati, Tapi Tanah Wadas Harus Lestari

Tetua Desa Wadas: Kita Mungkin Bakal Mati, Tapi Tanah Wadas Harus Lestari

by lpm_arena
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.comMalam itu, 3 Desember 2021, Taufik baru saja pulang selepas mengajar turutan di musala ketika saya berkunjung ke rumahnya. Rumahnya tak jauh dari musala. Setiap sore sebelum magrib, ia berjalan kaki menuju musala untuk mengajari anak-anak turuan. Kegiatan tersebut ia lakukan sampai menjelang Isya. Turutan dalam bahasa Jawa berarti mengaji secara urut, satu-persatu. Anak-anak kecil yang mengikuti turutan biasa memanggilnya Mbah Taufik. Usianya 69 tahun. Rambutnya yang memutih, menambah jelas usia senjanya.

Taufik merupakan salah satu dari generasi tua Wadas yang tanahnya terancam proyek penambangan. Proyek penambangan batu andesit itu membuatnya gelisah dan sulit tidur. Di waktu-waktu sendirian, ia sering memikirkan tentang nasib generasi penerus Wadas apabila tanahnya harus dikeruk.

“Kalo malam dan sendirian, saya suka nggak bisa tidur. Kepikiran gimana nasib anak-anak kecil itu, mereka, kan, bakal hidup di Wadas, kalo tanahnya diambil mereka mau gimana?” keluhnya.

Taufik memiliki lima bidang tanah. Tiga di antaranya terancam penambangan batuan andesit guna membangun bendungan Bener Purworejo. Bendungan Bener, terletak di Desa Guntur Kecamatan Bener. Sekitar dua jam dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Bendungan ini digadang-gadang akan menjadi bendungan terbesar se-Asia Tenggara dan termasuk salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) di era Jokowi.

Menurut catatan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO), dalam pembangunannya, bendungan ini membutuhkan 8,5 juta meter kubik batuan. Alasan pengambilan batuan dari Wadas ialah karena lokasinya yang strategis dan tidak terlalu jauh. Sekitar sepuluh kilometer dari tapak bendungan. Itu berarti akan memangkas biaya pengadaan barang untuk bendungan.

Bendungan ini rencananya akan menjadi sumber irigasi untuk 15.000 sawah, sumber air di Purworejo, Kebumen dan Kulon Progo, serta pengairan untuk New Yogyakarta International Airport (NYIA).

Namun, semenjak desas-desus akan diadakannya penambangan sejak 2018 lalu, ketenangan warga jadi terenggut. Segala bentuk penolakan terhadap penambangan itu sudah dilakukan warga. Audiensi demi audiensi ditempuh, gugatan keberatan juga diajukan. Mulai dari tingkat terendah, yaitu desa, kabupaten, menggugat Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah), hingga kini berada di Mahkamah Konstitusi (MK).

Proyek yang cacat Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) ini akan merenggut ruang hidup warga Wadas, hingga ke generasi muda penerusnya.  Hal ini membuat generasi tua Wadas tidak rela. Mereka juga turut bergabung menyuarakan ketidakrelaannya saat tanah yang telah dirawat berpuluh tahun akan dikeruk.

“Saya tidak rela kalau dikeruk, kan tanah ini tanah milik saya, bakal saya berikan ke anak cucu saya sendiri. Bukan untuk tambang,” tegas Taufik. 

***

Tanah yang dimiliki Taufik mulanya adalah tanah milik kakek canggahnya. Tanah itu lalu diwariskan kepada kakek buyutnya, turun lagi pada kakeknya, lalu bapaknya, hingga ketika Taufik menikah tahun 1979 silam, tanah itu diturunkan kepadanya. Ia menikahi seorang gadis tetangga desa dan memilih menetap di Wadas. Hingga kini ia telah memiliki tujuh anak dan dua belas cucu.

Sedari muda ia memilih jalan bertani, kendati kakak dan adik Taufik merantau ke luar Jawa. Baginya, Wadas adalah tanah kelahirannya yang sampai kapan pun akan ia tinggali. “Wadas itu tempat lahir saya. Saya tidak punya keinginan meninggalkan Wadas. Saya lebih milih bertani di sini, lebih ayem dan tenang,” ungkap Taufik.

Di atas tanahnya, ia menanam berbagai jenis pohon dan menjadi tumpuan keluarganya. Durian, kapulaga, kelapa, dan berbagai tanaman lainnya.  

Kegelisahan Taufik itu juga dirasakan oleh Marsono, salah seorang orang tua di Wadas. Usianya tidak terpaut jauh dengan Taufik. Sekitar tujuh puluh tahun. Ia ingat betul bagaimana semasa kecil bermain dan mencari durian di hutan bersama kakeknya. Saat itu, pohon duriannya sudah berbuah.

“Tanah saya itu udah dari lama sekali, bahkan saya masih kecil saya ingat kakek saya di kebun,” katanya.

Di usianya yang sudah kepala tujuh, ia harus menghadapi kenyataan pahit: melihat tanahnya yang sedari dulu ia tanami dan rawat, terancam dikeruk dan ditambang. Marsono yang sehari-hari mengurus kebun dan menjadi imam musala harus berjuang di usia tua untuk mempertahankan tanahnya dari penambangan.

Tanah tersebut merupakan peninggalan dari empat generasi sebelumnya. Ada pula beberapa bidang yang ia beli sendiri.

Marsono memiliki enam bidang tanah. Empat di antaranya merupakan warisan dari bapaknya, sementara dua bidang lagi ia beli sendiri. “Harganya dua juta waktu itu, tahun 90-an kira-kira. Dulu ngumpulin uang segitu susah banget,” kisah Marsono.

***

Marsono selalu memulai hari dengan mengumandangkan azan subuh di musala depan rumahnya. Seperti pagi itu, 17 November, ketika saya mengunjunginya. Selepas mengimami jamaah, ia kembali ke rumah, duduk di dapur, sembari mempersiapkan diri menuju ke kebun.

Pagi itu merupakan jadwalnya mengecek kebun. Kontur kebun tersebut mirip seperti bukit. Rumah Marsono berada di bawah lereng, kebunnya di bagian atas. Untuk ke kebun, Marsono harus berjalan kaki mendaki jalan kecil dan licin sehabis hujan. Hari itu Marsono akan menyadap nira, karet, dan mengumpulkan getah sayatan kemarin. Ia memulai mengumpulkan getah pohon karet yang sudah mengeras, lalu menyadap pohon lainnya. Total ia memiliki 500 pohon karet di kebunnya.

Kebun itu adalah salah satu yang bakal hilang jika penambangan batu andesit dilakukan. Selain karet, ada berbagai macam tanaman lainnya seperti durian, vanili, kelapa, dan tanaman liar macam salak dan nanas yang juga bakal ludes.

Kebun itulah yang selama ini menghidupi keluarganya. Ia membesarkan tujuh anak dan bertahan hidup dengan hasilnya. Hasil dari kebun Marsono terbilang tidak sedikit. Dengan berbagai jenis tanaman di dalamnya, ia dan keluarganya mampu memperoleh penghasilan rutin mulai dari tahunan, bulanan, mingguan, bahkan harian.

Penghasilan tahunan ia peroleh dari hasil panen kemukus, durian, lada, dan vanili. Harga kemukus yang baru dipetik sekitar lima puluh ribu rupiah. “Panen kemarin agak merosot, hanya dapat 300 kilo dari yang biasanya 500-an,” ujar Marsono.

Kemukus itu ditanam di semua bidang tanah miliknya. Sementara hasil panen vanili, sekitar tujuh kilo per tahun. Namun harga vanili terbilang tidak murah. Sekilo vanili biasa dihargai Rp500.000. Artinya, Marsono bisa memperoleh sekitar Rp3.500.000 dari panen vanili.

Marsono juga memiliki lima puluh pohon durian, di antara itu ada empat pohon yang besar. Pohon itu peninggalan nenek moyangnya. “Empat itu peninggalan nenek moyang saya yang gede banget, bapak saya aja enggak tahu kapan tanamnya,” kisah Marsono

Saat memasuki musim panen, durian-durian tersebut berjatuhan lalu ia kumpulkan. Satu buah durian, oleh pengepul biasa dihargai kisaran Rp10.000 – Rp15.000. “Kalo durian, kan, nanti dia jatuh sendiri, jadi nanti diambil. Biasanya sampai satu mobil [pick up],” jelasnya.

Pendapatan bulanan ia peroleh dari kelapa dan kapulaga. Sedangkan penghasilan harian dari aren dan karet. “Yang karet ini, kalo udah enggak punya bawang merah, langsung dibawa ke pasar bisa dijual,” jelasnya.

Marsono menambahkan, bahwa ia dan keluarganya bisa hidup berkecukupan dengan hasil kebun. Ia tidak habis pikir, ada orang yang mengatakan bahwa desa yang ditinggalinya sebagai desa yang tidak subur alias gersang.

“Kita sudah cukup dengan hasil bumi Wadas ini. Ini sudah lebih dari cukup. Kenapa ada yang mengatakan bahwa Wadas tanah gersang? Padahal saya sudah hidup berpuluh tahun dengan hasil Wadas yang kaya,” jelasnya.

Hasil kekayaan Wadas memang terhitung banyak. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta, berkolaborasi dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), dan Perpustakaan Jalanan, ditemukan fakta bahwa hasil kekayaan durian Desa Wadas mencapai 1,24 miliar per tahun, untuk kemukus mencapai 1,36 miliar per tahun, Kapulaga 156 juta per tahun, vanili 265,5 juta per tahun, aren 2,6 miliar per hari, jati senilai 1,173 miliar per hari, kayu keling 258 juta per tahun, petai 241,3 juta per tahun, kelapa 797 juta per bulan, dan banyak komoditi lainnya.

Membayangkan lahan-lahan produktif itu berubah menjadi tambang membuat Taufik khawatir. Sebab, lahan hilang, berarti hilang pula mata pencahariannya. “Coba bayangkan, saya tani, lahan tidak ada, lalu mau apa?” katanya.

Ia juga khawatir dengan masa depan anak-cucunya. Lahan yang seharusnya bisa diwariskan, bakal lenyap. Sungguh ia tak rela jika tanah tersebut diambil alih untuk kepentingan tambang.

“Wong saya juga sudah tua, sebentar lagi meninggal. Tapi saya memikirkan kelanjutan anak-cucu saya, anak-anak Wadas. Toh, emangnya misalnya uang satu miliar itu dapat bertahan berapa lama, sih? Sampai anak mungkin, enggak sampai cucu. Tapi kalo tanah, akan ada terus-menerus sampai kiamat,” ujarnya.

Marsono juga berpikir demikian. Kelak tanah miliknya akan diberikan kepada anak dan cucunya, sebagaimana kedua orang tuanya mewariskan tanah tersebut padanya dulu sewaktu muda.

“Pokoknya saya mau membagi tanah ini ke anak-anak saya. Lantas kalau tanah ini diambil bakal gimana generasi sesudah saya?” imbuhnya.

***

Usai bekerja di kebun, Marsono pulang ke rumah dengan membawa nira di dalam bumbung yang langsung ia bawa ke dapur. Istrinya sudah menunggu di sana dengan hidangan makan siang. Setelah itu, ia mengolah nira yang dibawa Marsono menjadi gula aren. Mula-mula, istrinya menyiapkan perapian dan tungku, setelah itu ia mulai merebus nira dan mengaduknya hingga kental dan kecoklatan. Bila sudah matang, ia mencetaknya dengan tempurung kepala menjadi gula.

Pada hari-hari sesudahnya, gula itu lalu ia jual di pasar Kaliboto. Di sana pula ia biasa menjual hasil kebun macam kelapa, vanili, dan kapulaga.

Menurut Marsono, semua hasil itu lebih dari cukup untuk ia hidup. Dan karena suburnya Desa Wadas, menjadi salah satu alasan kenapa ia tetap tegas menolak tanahnya ditambang. Ia bersikukuh akan tetap mempertahankan tanah tersebut. “Pokoknya saya akan mempertahankan tanah ini sampai kapan pun, semisal saya mati, tanah ini harus tetap lestari,” pungkas Marsono.

Reporter Atikah Nurul Ummah | Redaktur Nur Hidayah

Peliputan ini merupakan bagian dari program “Building Citizen Awareness on the Growing Agrarian Conflict in Yogyakarta and Its Adjacent Region” yang diselenggarakan oleh konsorsium bersama yakni AJI Yogyakarta, LBH Yogyakarta, dan Wahana Lingkungan Hidup