Home BERITA Melihat dari Dekat Problematika Prasarana Fakultas Ushuluddin

Melihat dari Dekat Problematika Prasarana Fakultas Ushuluddin

by lpm_arena
MELIHAT DARI DEKAT PROBLEMATIKA PRASARANA FAKULTAS USHULUDDIN
Print Friendly, PDF & Email

Persoalan prasarana kampus mungkin tampak sepele. Tapi prasarana yang baik diperlukan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar yang maksimal. Sudahkah Fakultas Ushuluddin memenuhinya?

Lpmarena.comPada tahun 2023 ini Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) UIN Sunan Kalijaga meraih akreditasi unggul pada 3 program studinya, yakni Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), Studi Agama-Agama (SAA) dan Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir (IAT). Namun, di balik capaian akreditasinya, FUPI nyatanya masih memiliki persoalan terkait prasarana atau infrastruktur fakultas yang kurang memadai.

Hifzha, salah satu mahasiswa FUPI, mengatakan bahwa gedung FUPI termasuk bangunan tua sehingga ada beberapa prasarana yang perlu diperbaiki. Ia mencontohkan kenyamanan ruang belajar-mengajar yang kurang. Penyebabnya tak sedikit. Mulai dari warna tembok yang menurutnya perlu dicat ulang, permasalahan Air Conditioner (AC) yang sering mati, sampai remote AC dan proyektor.

“Proyektor itu gak ada remote-nya dari aku semester 1. (Untuk menghidupkan proyektor) Itu juga pake kayu, jadi dicolok gitu, sampai ada yang naik-naik,” keluh Hifzha saat diwawancarai ARENA di taman FUPI, Jumat (3/11).

Persoalan prasarana seperti yang dikeluhkan Hifzha memang tampak sepele. Tapi, seperti diakui Hifzha, prasarana yang baik juga diperlukan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. Ia menyatakan bahwa banyak dari temannya yang justru meributkan persoalan AC dan kipas yang rusak, hingga proses pembelajaran tak lagi efektif, disebabkan ketidaknyamanan dalam ruang kelas. 

“Karena kan kalau panas gak enak gitu kan? Kalau panas jadinya gak semangat belajar, gak semangat diskusi, malah mikirin ‘AC gimana?’ Panas!” tambah mahasiswa AFI tersebut.

Tidak hanya dari mahasiswa, masalah serupa juga dirasakan Syafa`atun Almirzanah, dosen program studi SAA. Syafa`atun mengatakan ada beberapa prasarana FUPI yang memang kurang memadai. Seperti lampu kelas yang remang-remang, bahkan mati, serta ruang nyaman untuk perempuan saat sholat di musola FUPI.

Di kalangan dosen, menurut Syafa`atun, problematika prasarana FUPI sebenarnya juga kerap dikeluhkan dan diperbincangkan di grup WhatsApp. Syafa`atun sendiri, yang juga menjadi anggota senat universitas, pernah memberikan kritiknya terkait prasarana kampus di depan rektor. Namun kebanyakan hanya sebatas keluhan atau masukan, tidak ada tindak lanjut.

“Misalnya anda kalau mau wudhu kan harus copot-copot kerudung. Harusnya kan ada ruangan sendiri untuk perempuan gitu to. Itu persoalan (prasarana di FUPI),” tutur Syafa`atun kepada ARENA pada Rabu (25/10).

Menanggapi persoalan prasarana tersebut, Robby Habiba Abror, Wakil Dekan Bidang ADUM, Perencanaan dan Keuangan FUPI, menjelaskan bahwa ia sudah berusaha untuk memenuhi prasarana di lingkungan FUPI. Ia juga melakukan pengecekan bersama stafnya ke bangunan-bangunan FUPI, termasuk ke lantai 4. Hanya saja ia mengakui adanya kendala saat berupaya memperbaiki prasarana fakultas, seperti masalah dana.

“Tidak semua yang terkait dengan gedung kita dihandle semuanya oleh fakultas. Karena dananya kan ga mencukupi,” ungkapnya kepada ARENA pada Senin (06/11).

Menurut Robby, tidak semua anggaran langsung dikelola oleh fakultas, termasuk anggaran pengelolaan infrastruktur. Dalam pengalokasian UKT, biaya infrastruktur termasuk komponen biaya operasional tidak langsung. Misalnya listrik, gas, air, internet, pemeliharaan gedung, pemeliharaan sarana, pajak, toilet, komunikasi, dan lain sebagainya. Dan ini semua anggarannya dikelola oleh universitas.

Selain itu, kata Robby, kendala lain adalah lambannya respon dari pihak-pihak terkait. Seperti ketika meminta secara langsung anggaran perbaikan infrastruktur ke pihak universitas lewat biro bagian Rumah Tangga. Menurutnya hal itu memang dimungkinkan, hanya saja perlu menunggu lama.

Di tengah wawancara di ruangannya, Robby juga menunjukkan chat berisi salah satu pelaporannya tentang prasarana FUPI lewat grup WhatsApp. Di situ, terlihat Robby mengajukan perbaikan untuk kipas dan lampu sebanyak dua kali, pada 2 November 2023 dan 6 November 2023, kepada Siti Latifah, Kepala Bagian (Kabag) Tata Usaha FUPI. Tapi pengajuan itu ditanggapi oleh Kabag dengan mengalihtugaskan pada stafnya.

Saat ditanya tentang pudarnya cat tembok FUPI seperti yang dikeluhkan Hifzha, Robby mengakui bahwa FUPI sudah waktunya untuk dicat ulang, meskipun sebenarnya FUPI tak punya jadwal pasti kapan harus dicat.

“Mestinya kalau mau protes, mestinya ke yang memberi teladan duluan, kan rektorat. Mestinya sana menjadi contoh kita. Nah, yg beri contoh gak ngecat-ngecat,” tuturnya.

Tapi Robby mengatakan, paling tidak awal tahun depan ia akan mengecat FUPI. Hanya saja, ia perlu memikirkan lagi soal anggaran dari universitas yang menurutnya terbatas. Kemungkinannya, jika memang diperlukan pengecatan, ia bisa mencarikan anggarannya dengan merevisi kegiatan yang lain.

“Kita (FUPI, Red.) itu gak dapat banyak. Tapi turun ke sini itu (dana dari universitas) cuman segini,” kata Robby, sambil menunjuk tulisan 2 M (milyar). Ia menganalogikan, jika universitas mendapatkan 10 M. maka fakultas hanya mendapatkan 2 M. 

“Cuma ya mesti, cat ini sudah 2 tahun kan? Mestinya sudah waktunya (mengecat ulang), paling tidak mungkin awal tahun depan…. Bisa diingatkan itu,” tambahnya.

Reporter Wilda Khairunnisa (Magang) | Redaktur Mas Ahmad Zamzama N. | Ilustrator Surya Puja Kelana