Home BERITA Okky Madasari: Kondisi Pendidikan Sekarang Membuat Mahasiswa Jauh dari Realitas

Okky Madasari: Kondisi Pendidikan Sekarang Membuat Mahasiswa Jauh dari Realitas

by lpm_arena
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com—Kampus selalu saja tertutup akan pembiayaan mahasiswanya sendiri: Alokasi dana yang tak transparan, hingga sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang konon merupakan subsidi silang dan kenyataannya naik setiap tahun, menjadi masalah akut pendidikan hari ini. Dengan kata lain, pendidikan hanya dapat diakses mereka yang mampu-mampu saja. 

Masalah demikian berdampak pada sifat mahasiswa hari ini: terobsesi IPK tinggi, lulus cepat, mendapat pekerjaan ‘bagus’ pasca lulus, serta apatis pada kondisi sekitarnya.

Menanggapi hal tersebut, ARENA berkesempatan mewawancarai Okky Madasari, sastrawan pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2012 atas novelnya berjudul Maryam. Ia juga sarjana Hubungan Internasional UGM, mengambil Master bidang Sosiologi di UI, dan menempuh program doktoral di Universitas Nasional Singapore (NUS). Okky mendirikan Omong-Omong Media dan menjadi salah satu esais yang banyak menulis soal kondisi Indonesia hari ini, tak terkecuali pendidikan. 

Dengan latar belakang sosiologi pengetahuan, bagaimana Anda melihat produksi pengetahuan di lembaga pendidikan di Indonesia?  

Ada masalah serius kalau kita ngomong produksi pengetahuan. Karena kita melihat pengetahuan itu kan yang dilihat output-nya: publikasi riset. Nah sekarang ini kan rangking Indonesia di tingkat global, publikasi kita salah satu yang terendah kan? 

Nah pertanyaannya kemudian, ketika Indonesia berusaha untuk mendorong agar rangking kita naik, ada banyak upaya: kewajiban untuk masuk Scopus, kewajiban untuk nulis. Nah masalahnya, akarnya gak diperbaiki. Akhirnya sekarang kita lihat ada fenomena joki. Guru besar-guru besar pun pesen tulisan, guru besar melakukan penjiplakan, dan lain-lain. Belum sampai di level mahasiswa, skripsi pun masih amburadul, pake joki dan sebagainya. 

Nah ini kan masalah serius dalam pendidikan di kita. Memang kemampuan menulis barangkali masih rendah, kemampuan berpikir kritis gak ada. Tapi kemudian ada kewajiban publikasi dan akhirnya terjadilah jalan pintas. Jadi masalah itu yang akhirnya salah satu yang serius dalam produksi pengetahuan di perguruan tinggi.

Buat masalah joki sendiri, sibuk dengan administratif seringkali menjadi alasan. Menurut Anda bagaimana?

Yaa, itu benar. Kalo ngomongin dosen, kita tahu masalahnya kan kadang juga insentif yang rendah. Ada data (menunjukkan bahwa) mayoritas dosen Indonesia itu gajinya rendah. Lalu kewajibannya di Indonesia (ada kewajiban untuk memenuhi) kebijakan administrasi, kebijakan riset, kewajiban mengajar, dan juga kewajiban pengabdian; yang itu tentu saja menambah beban.

Di pidato bulan lalu yang di UGM Anda menyinggung soal hilangnya tradisi intelektual, bagaimana masalah itu bisa terjadi?

Akarnya panjang. Nah kalau merujuk ke pidato kebudayaan saya bulan lalu, itu kan karena lagi menyoroti tentang biaya sekolah yang mahal. Kalau biaya sekolah mahal, mahasiswa maunya segera lulus. Kalau kondisinya segera lulus, mereka semakin dibuat jauh dari realita dalam masyarakatnya, semakin dibuat jauh dari problem masalah masyarakatnya. Akhirnya intelektualisme itu tumpul karena gak digunakan untuk melihat bener-bener kondisi dalam masyarakat.

Dengan realitas pendidikan yang sekarang, yang cenderung kapitalistik itu, apakah menurut Anda pendidikan masih relevan?

Pertama kan, diagnosa saya sendiri aja, adalah dengan segala kondisi kayak gini, daya kritis bisa semakin turun. Lalu yang kedua, tradisi intelektualitas terputus. Lalu yang ketiga, mahasiswa jadi lebih pragmatis, maunya cepet lulus aja gitu. Nah itu kondisi-kondisi yang akibat dari (realitas pendidikan) itu semua. Jadi soal bahwa pendidikan harusnya bisa membentuk pikiran kritis, pendidikan yang harusnya bisa membebaskan manusia, itu terjauhkan (dari realitas pendidikan hari ini).

Apa yang sebetulnya bisa dilakukan oleh mahasiswa, selain aksi massa tentunya?

Selain aksi massa, saya percaya pada tulisan. Jadi kalian harus aktif menulis, menuangkan gagasan-gagasan lewat tulisan. Karena dalam sejarah kan peradaban diubah berkat tulisan. Dan makanya kalau (ditanya) kenapa aku mau diwawancara sama kamu, karena aku tahu kamu dari LPM (Lembaga Pers Mahasiswa, Red), dan aku tahu LPM punya peran penting dalam proses menggugah kesadaran itu. Aku percaya bahwa aksi massa dan proses kegiatan intelektualisme, dalam hal ini diskusi dan menulis, itu harus terus dijalankan.

Reporter Selo Rasyd Suyudi | Redaktur Mas Ahmad Zamzama N. | Ilustrator Nabil Ghazi