Home MEMOAR Cerita Pengalaman di Majalah ARENA: Dari Takmir Masjid hingga Sepatu Lars

Cerita Pengalaman di Majalah ARENA: Dari Takmir Masjid hingga Sepatu Lars

by lpm_arena

Oleh: Ahmad Suaedy*

Lpmarena.com- Saya kuliah benar-benar karena keberuntungan. Tidak pernah dapat nilai matematika lebih dari 6 atau bahkan kadang harus Her karena nilai merah, di raport dari MWB (setingkat SD) hingga MAN. Tapi nilai matematika lah yang mengantar saya ke Yogya.

Di Yogya ada organisasi ikatan alumni SMA Kebumen, namanya IKAMAN. Setiap tahun mereka mengadakan bimbingan belajar masuk perguruan tinggi di Yogya. Saya telah didaftarkan oleh siapa tidak tahu tapi dipengaruhi untuk ikut tes itu. Ketika hasilnya diumumkan nilai matematika saya, konon, tertinggi. Tapi saya tidak pernah melihat berapa nilai itu. Hanya dengar dari teman, saya tidak begitu peduli. Padahal di kelas IPA di MAN seangkatan, saya kelas IPS, ada yang jago matematika dan sains selalu nilai 9 dan 10. 

Jadi, saya masuk kuliah di IAIN Sunan Kalijaga benar-benar merasa orang paling bloon. Kebetulan ketika pertama kali masuk saya didekati dan kemudian didampingi oleh pengurus PMII meskipun orang IKAMAN kebanyakan HMI karena di UGM. Saya ikut-ikutan, takut menjadi pengurus apapun. Namun, setelah LKD PMII saya mulai tertarik karena melihat para senior PMII pintar-pintar. Tapi saya memang lebih tertarik ikut-ikutan diskusi di beberapa tempat. Sehari bisa dua kali ikut diskusi jika saya tahu. 

Kebetulan waktu itu ada tokoh-tokoh nasional yang sering menulis di beberapa media, khususnya Tempo dan Kompas. Gus Dur, Cak Nur dan banyak lagi. Sejak sadar itu, saya hampir setiap pagi, biasanya paling pagi ke ruang perpustakaan pusat di lantai paling bawah. Kalau gak salah di bawah tanah. Di sanalah ditemukan Harian Kompas dan mingguan majalah Tempo setiap terbit. Saya hampir selalu orang pertama yang membaca keduanya. Di samping koran dan majalah yang lain.

Kebetulan di ruangan itu, adalah tempat rak menyimpan kitab-kitab besar dan berjilid-jilid. Tiga kitab  yang saya ingat, pernah buka-buka meskipun tidak selalu tahu artinya adalah Al-Umm, Tafsir At-Tobari dan Lisanul Arab. Kebetulan saya tersalur di jurusan Tafsir Hadits (TH) Fakultas Syariah, jadi agak relevan dengan kitab-kitab itu. 

Lainnya saya membaca buku-buku karya orang Barat, nyaris tidak pernah baca diktat, yang justru sangat kritis terhadap Al-Quran dan Hadits, terutama para sarjana studi Al-Quran dan Hadits dari Jerman. Tentu juga jawabannya dari kalangan Islam. Yang terakhir ini di perpustakaan Fakultas Syariah. Saya juga kebetulan anggota klub diskusi Al-Jamiah. 

Keinginan saya untuk menulis di koran sangat besar. Dengan berbagai percobaan akhirnya tulisan saya tembus pertama kali dimuat di koran Masa Kini, mungkin ketika saya semester 3 atau 4. Seingat saya honornya Rp. 75. Minat itulah seingat saya yang membawa saya ke Arena karena minat menulis bisa tersalurkan melalui menjadi pengelola penerbitan. Namun, saya juga mendirikan jurnal jurusan,  kelas TH, yang terbit setiap semester. Bukan tidak mungkin itu satu-satunya jurnal jurusan tingkat mahasiswa hingga kini. Waktu itu jurnal belum terpikir oleh banyak orang. 

Sebagai penggagas dan pemimpin redaksi saya yang mengejar-ngejar teman-teman untuk menulis dan mengedit setiap terbit. Ada yang bertugas memfotokopi dan jilid ukuran Arena kecil  dan dijual ke anggota kelas yang hanya 18 orang,  Kebetulan ada teman di TH yang sangat baik mengelola keuangan yang kebetulan juga menjadi Bagian Keuangan di Arena ketika saya Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Arena. Klop lah. Kini beliau menjadi pengusaha travel Umroh dan Haji yang sukses. 

______

Sebelum benar-benar ā€œfull timeā€ di Arena saya sempat ā€œberpetualangā€. Mungkin karena saya dari jurusan TH, diminta menjadi takmir masjid di kawasan Pengok. Saya sanggupi. Tapi selama beberapa bulan saya merasa agak aneh. Tidak berani menjadi penceramah dan tidak berani menjadi khotib.  Maka pengalaman ini belum pernah saya masukkan ke dalam CV, kecuali di tulisan ini. 

Pada suatu malam, tiba-tiba ada dua utusan dari konferensi Komisariat PMII IAIN menemui saya di masjid. Saya diminta ke arena konferensi hanya untuk partisipasi, karena bla bla bla. Lama-lama saya turuti. Tidak tahunya, saat itu rangkaian sidang sedang diskors karena bisik-bisiknya, calon ketua komisariat tidak ada yang cocok atau ada benturan kepentingan antar senior. Saya tidak begitu peduli. Begitu kami datang ke forum beberapa saat kemudian sidang dibuka dan saya terpilih aklamasi. Saya bengong. Tapi apa boleh buat.   

Dari situlah saya banyak punya teman akrab termasuk cewek KOPRI di luar kelas TH. Pindah ke Asrama Putera sering ketemu banyak orang. Namun, saya dianggap takut kepada cewek oleh teman-teman pengurus PMII dan cewek KOPRI. Tetapi sebenarnya, pacar saya yang sudah lama tidak saya tengok karena keterbatasan biaya dan berbeda kota jauh, terlalu cantik. Cari yang melebihi tidak mungkin, tentu sebelum disamber sang developer tadi. Ada semacam trauma kecantikan he he …

Di majalah Arena karir saya lumayan karena sempat sampai puncak. Namun sebelumnya, saya ikut terlibat dalam gerakan mahasiswa yang dimulai dari media mahasiswa atau kampus. Majalah Arena menjadi penggerak utama sebelum muncul di UGM dan UNAS Jakarta. Kadang ke Jakarta dan kota lain, meskipun saya bukan aktor utama karena waktu itu masih ada senior mas Imam Aziz dan mas Abdul Mun’im DZ. 

Akhir-akhir seingat saya, secara formal saya yang memimpin Arena, setelah keduanya. Regenerasi di Arena cukup konsisten meskipun mas Imam, mas Munim dan saya sempat dua kali menjabat. Tetapi setelah itu harus berganti. Cukup cepat. Dalam waktu yang sama saya juga ikut belajar dan bergulat  bersama teman-teman senior dan junior PMII lain yang brilian dan cerdas di LKiS.

______

Saya ikut demonstrasi ke Kedungombo yang didahului dengan berkumpul di kampus UKSW dan  nginap di kos-kosan mahasiswa di Salatiga. Ketika kasus Kedungombo benar-benar meledak agak jauh setelah demonstrasi itu, saya bersama mas Imam Aziz mengajukan pembiayaan untuk meliput di sana.   Ndilalah disetujui, meskipun tidak sesuai ajuan. Mungkin  sekitar seminggu kami di sana menginap di rumah pak RW. Ketemu dengan banyak tokoh desa dan masyarakat korban. 

Namun, sebenarnya ketika kami masuk di desa itu, ternyata wilayah itu sudah dikepung oleh tentara dengan banyak alasan, mungkin programĀ  AMD. Entah kenapa kami tidak ditangkap. Tetapi ketika kami keluar dari desa diantar oleh pak ketua RW itu, justru dia lah yang ditangkap kami dilepaskan. Kami menulis laporan bersama mas Imam dan laporan itu dikutip menjadi sumber dari sebuah disertasi di Australia dengan tema (bukan judul) bendungan dan korupsi oleh George Junus Aditjondro. Ā Dikatakan dalam disertasi itu Arena adalah media Islam pertama yang memberitakan kasus Kedungombo.

Namun, cerita tentang saya dan Kedungombo tidak putus sampai disitu. 

Setelah Harian Jogja Post bangkrut, saya pernah menjadi wartawan di harian itu mungkin satu atau satu setengah tahun, kemudian magang di majalah Tempo Yogya. Saat itu di wilayah bendungan Kedungombo bagian Sragen muncul perlawanan lagi dari masyarakat. Saya yang masih magang ditugaskan ke lapangan. Dengan mengantongi surat tugas dari Tempo saya tidak pikir panjang. Berangkat naik bus dan dari terminal Sragen saya sewa ojek ke rumah, kalau tidak salah, Ketua RW. Tukang ojek saya minta menunggu, saya sewa ulang alik.  

Nah, di tengah-tengah wawancara terdengar sepatu lars, krok-krok-krok, masuk rumah tanpa permisi. Saya sesungguhnya tidak tahu kalau di situ sudah ada program AMD.  Ternyata, dia adalah anggota dari AMD di situ. Karena dia tidak kulonuwun kami juga tidak menyapa untuk beberapa menit, saya kira hampir setengah jam, karena wawancara belum lama mulai. Dia berdiri  tegap berjarak kira-kira satu meter di depan saya dan ketua RW yang duduk di kursi yang sangat sederhana. 

Pak RW juga tidak mempedulikan kehadiran dia. Maka wawancara jalan terus. Pak RW sangat terbuka dan tidak takut menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang sebagian sudah tertulis dari redaksi, di depan tentara itu.

(Arsip 1991)

Selepas wawancara saya digiring ke markas AMD desa itu. Agak jauh. Saya masih naik ojek. Namun karena di markas lama katanya mungkin harus menginap maka tukang ojek saya minta pulang duluan setelah saya bayar sesuai harga PP.  Saya diinterogasi dan saat itu terdengar komunikasi antara mereka dengan markas Korem dan Kodam Diponegoro di Semarang dan bahkan Mabes ABRI di Jakarta. Pertanyaan-pertanyaan dari interogasi  menyangkut apa yang saya lakukan. Tadinya saya tidak mau menunjukkan surat tugas karena belum diminta, baru setelah cukup lama saya tunjukkan ketika mereka bertanya. Mungkin setelah dua jam, baru saya akan dilepas. 

Namun saya minta syarat kalau dilepas. Saya bilang prinsip di Tempo adalah cover both side. Saya sudah wawancara masyarakat maka saya harus wawancara pejabat. Saya minta dipertemukan dengan bupati. Saya tidak akan pulang kalau belum bertemu bupati. Negosiasi cukup lama, kebetulan bupatinya seorang militer juga. Dan mungkin mereka perlu waktu berusaha mengontak bupati. 

Akhirnya saya diantar ke kantor bupati dengan mobil dinas tentara. Saya wawancara dan dijawab dengan baik oleh bupati. Baru belakangan saya dengar bahwa nama saya, mungkin aktivis Arena yang lain juga, tercatat di semua instansi keamanan hingga tingkat kecamatan. Cerita ini saya dapat dari seorang teman yang urus sesuatu di kantor Koramil di daerah Pati. Dia bilang kuliah di IAIN Yogya, kemudian ditanya kenal apa tidak dengan  nama saya.

Saya magang untuk tugas dua majalah, kadang untuk majalah Tempo dan majalah Forum Keadilan. Ketika itu, saya baru punya anak pertama yang masih bayi. Jarang di rumah. Pagi berangkat anak belum bangun. Pulang malam anak sudah tidur. Kadang dan bahkan  sering dimarahi istri karena anak saya bangunin malam ketika saya pulang untuk saya ajak main. Dan sudah pasti menangis. Saya tidak tahan sering menangis sendiri juga tidak tega dengan istri. Akhirnya saya pamit dari Tempo meskipun belum ada alternatif kerjaan. Tapi kemudian bekerja di Interfidei. Lebih cocok, meneliti dan bikin buku, kadang tugas ke lapangan tapi tidak terlalu sering. 

Hingga sekarang saya terbiasa keluar masuk pekerjaan tanpa ada alternatif pekerjaan lain yang tersedia. Dan sampai sekarang urusan pokok saya tidak berubah dari tulis menulis, sekarang mengurus jurnal sambil mengurus yang lain-lain. Di sini https://journal.unusia.ac.id/index.php/ISLAMNUSANTARA/article/view/42 

Rumbut Bawah, Depok, 2 Februari 2025

*Lahir di Kebumen, 6 Mei 1963, saat ini adalah Dekan Fakultas Islam Nusantara – Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (FIN-UNUSIA) Jakarta dan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Suaedy juga adalah Anggota Kelompok Ahli Sekretaris Badan Pengarah Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (BP3OKP) Kantor Wakil Presiden. Dalam waktu yang sama Suaedy juga adalah Anggota  Tim Ahli Moderasi Beragama – Kementerian Agama. Suaedy adalah Visiting Researcher Badan Riset dan Inovasi N Nasional (BRIN) 2022-2023 dan Anggota Ombudsman Republik Indonesia (ORI) 2016-2021 dan Direktur Abdurrahman Wahid Centre for Interfaith Dialogue and Peace – Universitas Indonesia (AWC UI) Jakarta, 2012-2015. Suaedy juga adalah salah seorang pendiri the Wahid Institute kemudian Wahid Foundation bersama Yenny Wahid dan Dr. Greg Barton serta menjabat direktur eksekutif di kantor tersebut sejak berdiri 2004-2012.

Riwayat pendidikan, S1 IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1991; S2 UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta 2012. Dan memperoleh gelar Dr UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.Topik-topik penelitiannya meliputi Politik Islam, Islam di Asia Tengga, Gerakan Sosial, Minoritas, Konflik Rekonsiliasi dan Hak-hak Asasi Manusia. Menulis tentang Minoritas Muslim di Pattani Thailand, Muslim Mindanao di Filipina, Muslim Rohingya di Myanmar, Muslim Cham di Kamboja, non-Muslim di Malaysia dan Indonesia. Menulis tesis master berjudul ā€œDinamika Minoritas Muslim Mencari Jalan Damai: Peran Civil Society Muslim di Thailand Selatan dan Filipina Selatanā€, (Depag RI-WI, 2012); dan menulis disertasi berjudul ā€œGus Dur, Islam Nusantara dan Kewarganegaraan Bhineka: Penyelesaian Konflik Aceh dan Papua 1999-2001ā€ (Gramedia, 2018). | Foto Arsip Arena